| |
Kemajemukan Budaya Harus Tetap Dihormati
Karangasem, Kompas - Kemajemukan (pluralisme) budaya yang hidup dan berkembang di Indonesia harus tetap dihormati dan dijaga sebagai investasi bangsa. Falsafah bangsa, Bhinneka Tunggal Ika, dinyatakan masih tetap relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
Demikian dikatakan Ketua Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI) Nurcholish Madjid dalam dialog lintas agama yang berlangsung di Puri Sidemen, Karangasem, Bali, Sabtu (17/1).
Acara ini dihadiri tokoh-tokoh agama dan pemuka puri di Bali serta sekitar 40 warga dan pengurus Majelis Desa Pekraman (MDP) Sidemen. Sebelum dialog dimulai, dilangsungkan pembacaan naskah Kekawin Ramayana oleh warga setempat tentang nasihat Asta Brata dari Rama kepada adiknya, Bharata, yang menjadi Raja Ayodya.
Dalam dialog kemarin petang, Cak Nur-panggilan akrab bagi Nurcholish Madjid-mengungkapkan, keberagaman dan kemajemukan budaya merupakan bekal berharga yang dimiliki sebuah bangsa, termasuk Indonesia. Sebagai analogi, punahnya sebuah bahasa mengakibatkan hilangnya investasi kemanusiaan selama ribuan tahun. "Apalagi (hilangnya) sebuah kebudayaan," kata Cak Nur.
Menyitir ungkapan luhur Mpu Tantular tentang paham pluralisme, yaitu Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, Cak Nur mengatakan, falsafah tersebut masih relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Terlebih dalam impitan krisis multidimensi saat ini, termasuk mencuatnya pertentangan antarpenganut agama, kemampuan saling memahami dan menerima kemajemukan menjadi hal penting yang harus diupayakan.
Lebih lanjut dikatakan, masing-masing agama memiliki kebenarannya dan tidak ada satu pun agama yang memegang monopoli kebenaran. Perbedaan dalam kehidupan beragama, menurut Cak Nur, hanya sebatas perbedaan dalam sisi sekunder, yakni simbol-simbol agama. "Apabila agama sudah menjadi transenden, paham dan cita-cita yang mengendap lama dalam (ajaran) agama akan terwujud, yaitu wawasan yang universal," ujarnya.
Penghargaan atas perbedaan tersebut, menurut Cak Nur, sudah dipahami para pendiri bangsa Indonesia. Mereka pun pada dasarnya telah merancang bangsa Indonesia untuk berkembang sebagai bangsa modern, yang salah satunya menghargai pluralitas. (COK)
 | suksema sharingnya bli ... mantap ... !! |
 | agama boleh beda,..tapi tetap indonesia.. |
 | penerapanya....( dije ngih???)....lakar alih alihin malu.. |
 | ya..teori hampir 100..penerapanya..hampir masihh ada.. |
 | sama sama pak ketut bagus mecedarrr.. |
 | Tiyang adi bedik sajaan percaya ken ucapan anak beduwur niki ! paling ngoraang dogen keto kenyataan NOL BESAR . |
 | mbok man...you welcome....nice comment... |
| | |
|
|