Last Story Before Sunrise..........  

ReviewReviewReviewReviewNyepi dan duniaMar 4, '08 9:03 AM
for everyone
Category:Other
Bhisama Bali Lahir di Tengah KTT






DENPASAR, NusaBali
Selasa,4 Desember 2007

Bersamaan dengan pembukaan KTT Perubahan Iklim dan Pemanasan Global (Global Warming) di Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Senin (3/12), lahirlah Bhisama Bali. Tanpa maksud meng-Hindu-kan dunia, Bhisama Bali ini intinya menyuarakan agar sehari dalam setahun dilaksanakan Nyepi sipeng di seluruh dunia, sebagai bagian upaya meminimalkan polusi udara.

Bhisama Bali yang memperjuangkan Nyepi sipeng---salah satu hari suci umat Hindu---ini dideklarasikan dalam pertemuan paralel atau side meeting di Biofuel Ballroom Grand Hyatt, Nusa Dua, Senin kemarin. Pertemuan paralel itu diikuti beberapa NGO, baik dari dalam maupun luar negeri. Bhisama Bali atau Deklarasi Nyepi untuk Bumi ini intinya mengajak seluruh umat manusia untuk belajar dari Bali, dengan menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Nyepi Day (Hari Hening atau The Silent Day). Melalui Nyepi, seluruh masyarakat dunia bisa berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan kegiatan dan konsumsi energi selama sehari. Deklarasi Bhisama Bali itu sendiri dibacakan oleh Dharma Adyansa (Ketua Umum) Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Aribawa. Dari pertemuan kemarin, konsep Nyepi Day direkomendasikan untuk diperjuangkan dalam perhelatan akbar KTT Global Warming, yang akan berlangsung hingga 14 Desember 2007 nanti, dengan diikuti 15.000 delegasi dari 187 negara anggota PBB. Menurut Ida Pedanda Sebali Tianyar, konsep Nyepi yang diusulkan Bali ini tidak terkait dengan agama Hindu. Tapi, lebih luas lagi yakni konsep penyelamatan lingkungan hidup. Jadi, tujuannya adalah untuk mengurangi perusakan lingkungan dunia. "Bali dengan sehari melakukan Nyepi dalam setahun saja, mampu mengurangi pencemaran emisi CO2 sedikitnya 20.000 ton, karena semua aktivitas manuasia hari itu berhenti total. Bayangkan, jika (Nyepi) dilakukan seluruh umat di dunia, walau baranmg sehari saja," jelas Ida Pedanda. Dari Bhisana Bali ini, masyarakat Bali mengajukan dua usulan penting yang diharapkan segera ditindaklanjuti di KTT Global Warming. Pertama, semua negara yang mengikuti KTT Global Warming bisa menyepakati Bali Road Map, yang intinya menekan negara maju untuk segera mengurangi emisi penyebab polusi. Kedua, menetapkan setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Nyepi Day (Hari Nyepi Internasional). "Saat Nyepi Day itu, seluruh umat dunia berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan segala aktivitasnya," beber Ida Pedanda. "Kami tidak bermaksud meng-Hindu-kan dunia. Tapi, kami mengajukan filosofi dan sebuah kearifan lokal untuk mengajak dunia peduli dengan alam, di mana kita berkorban satu hari untuk memulihkan alam." Jika nantinya usulan Nyepi Day ini bisa diterima di KTT Global Warming, maka diharapkan Nyepi Day dilakukan secara bertahap mulai Maret 2008 dan secara penuh tahun 2010 mendatang. Salah seorang pembicara dalam pertemuan paralel kemarin, Hita Jhamtani, menyatakan Nyepi ini adalah sebuah kearifan kebudayaan lokal yang sudah dilakukan oleh masyarakat Bali sejak zaman silam. "Kami sudah mendapatkan izin dari seluruh komponen masyarakat Bali, bahwa apa yang kami lakukan ini adalah demi penyelamatan lingkungan, yang ujung-ujungnya memberi dampak pada Bali juga," jelas pemerhati lingkungan yang juga ketua salah satu LSM lingkungan ini. Menurut Hita, masyarakat Bali seharusnya berbangga bahwa apa yang diusulkan ini sudah mendapat restu dari masyarakat Pulau Dewata. "Dari pulau kecil di salah satu sudut dunia ini, kita telah mampu menunjukan bahwa masyarakat Bali bisa menjaga alamnya walaupun hanya sehari dalam setahun," katanya. Ketua Lembaga Stiti Dharma, Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, juga menyatakan hal senada. Menurut Ida Pandita, dalam proses menjadikan Nyepi sebagai peringatan internasional, diperlukan berbagai konsolidasi dari berbagai pihak dan konsistensi dari sumbernya sendiri. "Apalah artinya peringatan ini bila sudah diterima masayarakat dunia, namun sumber pelakunya tidak pernah melakukan seperti yang sudah diminta kepada mereka," katanya. Di sisi lain, muncul tanggapan dan berbagai pertanyaa mengenai Nyepi dari peserta pertemuan. Sebagian besar pertanyaan mereka intinya menanyakan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam sehari, jika Nyepi Day bisa tembus sebagai agenda internasional. Terhadap pertanyaan ini, Ida Pandita menyatakan, sebenarnya yang harus dilakukan dalam sehari saat Nyepi Day adalah evaluasi diri soal apa yang sudah dilakukan kepada alam. "Namun, yang ingin kami tekankan di sini adalah memberikan kesempatan kepada alam agar bisa istirahat barang sehari saja," jelas Ida Pandita. Sebelumnya, Fraksi Golkar DPRD Bali juga mengusulkan agar Nyepi setahun sekali untuk diperjuangkan bisa dilaksanakan sedunia, melalui perhelatan KTT Global Warming. Dalam pemandangan umum Fraksi Golkar yang dibacakan Komang Budhiarta, pada sidang paripurna DPRD Bali, Jumat lalu, ditegaskan bahwa pemanasan global telah mengancam kehidupan manusia. Hingga saat ini, belum ada solusi secara nyata dilaksanakan. Di Bali, kata Budhiarta, sebenarnya sudah lama dikenal cara mengatasi kerusakan lingkungan itu, melalui upacara Nyepi, yang sifatnya lokalan. "Kita meminta pemerintah daerah menyampaikan usulan ke pusat agar Nyepi ini bisa dilaksanakan di seluruh dunia," ujar Budhiarta. Pemerintah bisa menyampaikan usulan itu ke badan dunia PBB, melalui KTT Global Warming. Meski Nyepi hanya dilaksanakan sehari saja dalam setahun, tapi jika dilakukan di seluruh dunia, entah berapa pohon bisa dicegah untuk ditebang. Dan, berapa kendaraan pula yang bisa dihentikan asapnya. Karena jutaan manusia tidak bekerja sehari di pabrik, maka udara menjadi bebas dan jernih. Selama ini, umat Hindu di Bali melaksanakan Nyepi setahun sekali pada setiap Tahun Baru Saka atau sehari setelah tilem Kasanga. Saat itu, umat Hindu melakukan catur brata panyepian: amata gni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak makan dan minum). Sementara, Gubernur Bali Dewa Made Beratha menyatakan usulan soal Nyepi Day itu harus dikaji dulu di daerah, sebelum dibawa ke pusat. "Ya lihat saja nanti, kita 'kan perlu waktua itu," katanya kala itu. Namun, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, I Ketut Wiana, menyatakan usulan Nyepi di bawa ke forum internasional itu sudah diwacanakan dalam sebuah seminar lingkungan yang digelar Walhi (Wahana Lingkungan Hidup), beberapa waktu lalu. Menurut Wiana, PHDI termasuk pihak yang ikut meminta agar Nyepi bisa dilaksanakan seluruh dunia dan jadi libur sedunia. Sebab, dalam konsep Hindu, manusia selama ini hanya dilayani alam. Dikatakan Wiana, konsep Nyepi ini secara nyata memang keluar dari kemlompok minoritas Hindu. Namun, ketika efek dan manfaatnya besar, tidak ada salahnya kalau konsep ini dilaksanakan dunia. "Sekarang tergantung perjuangan pemerintah. Kita berharap agar perayaan Nyepi ini dilaksanakan di seluruh dunia," katanya. Sementara itu, suasana Nyepi sempat mewarnai acara pembukaan KTT Global Warming di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua, Senin kemarin. Dalam acara itu, sempat diputar video berisi rekaman prosesi perayaan Nyepi di Bali. Delegasi asing banyak yang terkaget-kaget menyaksikan rekaman prosesi Nyepi berdurasi 1 menit itu. Namun, ada juga yang terinspirasi untuk mengaplikasikan Nyepi di negaranya. Saat tayangan prosesi Nyepi diputar, suasana BICC menjadi hening. Para delegasi larut menyaksikan tayangan yang menampilkan suasana Nyepi di Bali itu. Video tersebut memperlihatkan betapa sunyinya Bali saat Nyepi. Suasana jalan raya, laut, dan perkotaan semuanya sepi. Tidak ada aktivitas warga dan kendaraan yang lalu lalang. Sejumlah delegasi asing KTT Global Warming menanyakan lebih jauh soal Nyepi yang kini diusulkan Bali sebagai Nyepi Day ini. Pertanyaan itu banyak diarahkan kepada I Made Suwarnata, delegasi dari LSM Wisnu. Delegasi asing dari Brasil, Afrika, dan Prancis memberikan tanggapan beragam. Ada delegasi yang belum bisa membayangkan bagaimana jika Nyepi diterapkan di negaranya. "Mereka bertanya, jika itu terjadi di negara saya, apa yang harus dilakukan selama sehari?" tutur Suwarnata pada detikcom. Delegasi dari Brasil langsung menyatakan setuju dengan Nyepi dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi CO2. "Oh, saya suka dengan ide Nyepi itu," ucap seorang delegasi Brasil disitir Suwarnata. Ada juga delegasi yang tidak setuju dengan Nyepi. Mereka berpendapat negaranya bisa rugi besar jika dalam sehari memberlakukan Nyepi. Atas kekhawatiran akan kerugian tersebut, Suwarnata menjawab, "Tidak apa rugi sehari, daripada dunia kiamat akibat efek Climate Change."

cr15




siungmarebangun wrote on Mar 6
cok yan tiang libur mani jeg liburange tiang terusss ken bose ken2nang mangkin merayakan nyepi napi tiang mepecat ken adean cok?.......
tuanlilush wrote on Mar 6
ten harus merayakan yen wenten halangan yan, ten wenten anak mengharuskan merayakan...amun wenten waktu wawu rayakan bli wayan
jpn87 wrote on Mar 8
bli cok tiyang kagum atas karya bli tentang global warming tersebut.......demogi nyepine menjadi moment untuk masyarakat dunia untuk merubah cara pikir seseorang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! nggihhh
tuanlilush wrote on Mar 9
dex, ayo dukung penyelamatan alam ..apang mekeloan hidup
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help