| |
..ane Nganggobin di bali.. | |
Geniesen mit Verstand
Süßkartoffeln gegen Hunnger
Der unaufhaltsame Preisanstieg für Getreide, Mais, Reis und Soja erschüttert die Welt. Vor allem die armen Nationen, in denen die Bevölkerung über die Hälfte ihres Einkommens für die Ernährung ausgibt. Auch in Indonesien ist die Sorge groß, u.a die von Pak Adi Kharisma, koordinator der Erzeugergemeinschaft von Reis und Süßkartoffeln in Bali und Terra-Madre-teilnehmer in 2006. In Indonesien beträt der Prokopf-Verbrauch an Reis ca.139 Kilogramm. Und es ist abzusehen, dass die Bevölkerung bis 2030 von 230 auf 425 Millionen Menschen ansteigen wird. Eine Versorgungskrise scheint vorprogrammiert. Pak Adi kam zu folgendem Schluss: Die einzige Möglichkeit zur Abwendung einer Krise besteht darin, die 100-prozentige Abhängigkeit vom Reis als Grundnahrungsmittel zu verringern. Und den Reis zur Hälfte durch andere, lokal angebaute lebensmittel zu ersetzen. Er machte untersuchungen und Experimente und fand eine mögliche lösung: die Süßkartoffeln Ubi, eintradionelles Produkt seiner Heimat. Von den 20 Ubi-Sorten, die er untersucht hatte, wälte Pak Adi vier aus: weiß, gelb,violett und orange. Schließlich gelang es ihm tatsächlich, eineschmackhafte, nährstoffreiche Nahrung zuzubereiten, die zu 50 Prozent aus Reis, zu30 Prosezent aus violetten und gelben Ubi und zu 20 Prozent aus lokal angebauten Hüsenfrühten (Erbsen, Sojasamen, LongBeans und Erdnüsse) besteht. Im vergangenen jahr hat Pak adi ein kleines restaurant eröffnet, das ,,Warung Sela Boga,, ,und eine linie von Lebensmittelprodukten in Denpasar, der Hauptstadt der Provinz Bali, in den Handel gebracht. Zudem hat er ein Projekt für Dorffrauen ins leben gerufen, das ihnen vermittelt, lebensmittel für den lokalen Verkauf zuzubereiten. Pak Adi Kharisma, Koodinator der Erzeugergemeinschaft von Reis und Sußkartoffeln in Bali, adi_kh@hotmail.com
   | Sidemen | May 15, '08 5:32 AM for everyone |
 Feel The Comfort Life, Learn Balinese culture, Try Yoga, and see many attraction in Sidemen Village
There is nothing ready-made; it is an internal experience The appearance in Sidemen of several centers devoted to meditation and retreat seems to underline this particular quality of the area. The location is very strategic indeed. You can enjoy many interesting and number of attraction in this village. You can go to enjoy the panorama in Iseh village, part of Sidemen. The magnificent nature of Iseh has been famous since years ago, for the most fascinating natural view can be seen here. Mount Agung stands in a distance with its steep valley, river that winding with its clear water in the middle of vast green carpet of terraced rice fields, where traditional farmers work so hard become interesting view to witness. The beautiful panorama of Iseh was introduced to the world by two foreigners who had lived in this area for a quite long time. Through their paintings, they documented the adorable view of Iseh village with its special daily life of the people. Those two painters are Walter Spies from Germany and Theo Meier from Switzerland. They spent most of their time to socialize with the local people and to closely know their unique custom and culture.
Iseh village in Sidemen is very famous for its wonderful rice terrace which must visited by tourists especially the European. In Sidemen, you will see Endek and Songket weaving, which are of great cultural importance to the Balinese., Patal Kikian and Sacred Mountain Sanctuary is built and situated in the middle of the ricefields. There is only afew accommodations in Sidemen area. But the hotel is most wanted by travelers and students from all over the world. You can learn about Traditional Balinese Irrigation, that is Subak, in Sidemen area. All are set up to be friendly with the environment. For those who dream of clean environment, fresh air and tranquility, Sidemen area could be your good choice.
Beside that you can visit the Patal Kikian Hill. In this amzing hill you can enjoy the Mount Agung summit and all Sidemen area upon the hill. In this hill you can learn yoga because the place very comfort for yoga. You can ask the owner (Iseh and Patal), Ida Ayu Mas Andayani to have Balinese lunch in this hill. Beside Iseh and Patal Kikian, if you want to enjoy the natural holiday, you can feel the advanture of trip in Tukad Unda strip, walk in center of the paddy fields will make you feel very relieved. Feel the exotic advanture to Bodog hill the VIP class of panorama there. The other place that you can visit is Jero Gede Sidemen, the Sidemen palace, Subak Tebola inn, Tandur homestay, Sacred Mountain Sanctuary, house of weaving, and many more.
If you lucky, you can see various ceremony in this village. You can see the wedding ceremony of Balinese people that very interesting. Mick Jagger several years ago married in Sidemen with Balinese wedding ceremony and honeymoon in this village. Beside that you can see the Ngaben ceremony, the unique cremation ceremony for Balinese people, Metatah, or see the people practise Balinese dance and Balinese etnical music like angklung, gender, etc. You also can go to many temples that located in this village like Pura Dewangga, Pura Dalem Sidemen, and Pura Telaga Tawang. You also can taste many Balinese traditional food like lawar, ares vegetable, Balinese satay, and various other. You can see and eat various fresh vegetable and fruit that produce by this village. In Sidemen you can feel various advanture because the location very fantastic and very natural.
If you feel reckless, while staying here you can dive at a prime site one day and then climb Gunung Agung the day after. All are set up to be friendly with the environment. For those who dream of clean. Sidemen is first and foremost a place for peace and introspection. However, wes should choose to take his rest in this magic valley, the sophisticated traveler will find that it is in fact an ideal location for enjoying some of the best that Bali has to offer, not all of it entirely restful. There is accommodation available in various local inns and retreat centers, from which one can venture forth in all directions. The air is fresh and silent at this height, and the vegetation so peculiar The summit of Gunung Agung alternately appeared and vanished behind shifting clouds which draped themselves amongst the evergreens and eerie datura flowers of melon-pink and chartreuse.


Rabu, 16 April 2008 Memahami Bhinneka Tunggal dengan Jiwa Merdeka
Oleh C SWT: Proses untuk jujur dan berani hidup dengan memahami ketakutan-ketakutan yang menyertai kehidupan keseharian dalam proses pergaulan antar manusia dengan keragamannya, tidaklah dapat dilakukan tanpa memaksa diri pribadi masing-masing untuk terus menerus menyadari bahwa berpihak kepada kemanusiaan adalah kekuatan manusia untuk melanjutkan hidup.
Bahwa keragaman itu dan toleransi yang menjembatani hubungan-hubungan antar manusia, tidak bisa kini dilakukan sebatas toleransi formalitas
Toleransi formalitas adalah keadaan seolah-olah adanya toleransi dan penghormatan atas keragaman, namun jauh di dalam hati membiarkan ketakutan-ketakutan menjadi konsep berpikir dan pola bertutur di ruang- ruang pribadi, sebagai pengasuhan untuk mengingatkan akan adanya bahaya mengancam terhadap identitas pribadi, kelompok maupun wilayah oleh pihak lainnya.
Perbedaan adalah keniscayaan, sungguhlah mustahil untuk menghindarinya atau menghilangkannya dengan alasan apapun. Bahkan atas nama agama. Toleransi sejati hanya dapat terwujud apabila kesadaran meluaskan wawasan ke ruang-ruang yang menyekat, menjadikan sikap rendah hati sebagai tiangnya, agar berani untuk menghadapi bahwa hidup itu adalah keragaman, yang tak satu pun diantarannya atas nama keyakinan apapun dapat dijadikan alat untuk mengintimidasi pihak lain ataulah sebagai upaya mulai dalam rancang sistematik penyeragaman keyakinan.
Karena itu, belajar kepada sejarah spritual Bali, khususnya Gama Tirta, Hindu Bali yang berdasarkan paham Siwa Budha, dalam hal membangun toleransi sejati, tidaklah dimaksudkan bahwa ini yang terbaik dan sempurna. Namun sejenak merenungkan proses dari konsep berpikir dan pola bertutur yangjujur melalui hasil yang didapatkan sampai masa kini, bahwa ajaran ini sungguh-sungguh memberi contoh akan kemauan disertai tindakan nyata untuk penghormatan kepada keragaman manusia.
Sutasoma adalah itihasa dari paham siwa budha ini, selain ramayana dan mahabrata. Sutasoma memiliki sejarah yang panjang saat memasuki nusantara. Bahkan tercatat di era Dalem Waturenggong + tahun 1472, saat itulah Danghyang Nirarta mengajarkan agama di Bali. Beliau menasehatkan, "Apan tiwas juga sirang muni Budhha paksa. Yan tan wruhing para tatwa Ciwatwa marga. Mengkang munindra sangapaksa Ciwawatwa yoga. Yan tan wruh ing parama tattwa jinatwa manda,": "Karena dipandang kurang sempurna juga bila seorang pendeta penganut Budhha, jika tidak tahu akan inti ajaran Ciwa.
Demikian pula para pendeta penganut Ciwa dipandang tidak sempurna,jika tidak tahu inti ajaran Budhha," Dalam ajaran Ciwa, huruf sucinya adalah Ongkara, dalam ajaran Budha huruf sucinya adalah Hrih. Dalam bahasa langitnya, zat itu itu dua senyawa, yaitu purusa dan pradana, dalam ajaran Siwa itulah Rwabhineda, yakni Siwa dan Uma, sedangkan dalam ajaran Budha dinamai adwaya-adwayajnyana, atau Adwaya-Prajnyamita. R wabhineda inilah juga disebut sebagaiArddhanarecwari, atau dalam Budha disebut Adwaya-Pranyamita. Apabila itu dipahami sebagai tiga segi dikenal sebagai tri Murti, Tri purusa atau tyrnuka : upati, stiti dan pralima (tri kona). Dalam ajaran Siwa, Brahma, Wisnu dan Ciwa, yang menguasai tri bhuwana: bayu, Cabda dan Idhep, dst.
Dari itihasa sutasoma, yang populer hanyalah kata Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Namun hampir luluh, tidaklah dijelaskan asal kalimat indah itu, bahwa itu bukanlah bahasa slogan yang muncul dengan spontan. Namun kalimat itu adalah hasil dari proses toleransi sejati, dialog mendalam dan penuh keiklasan untuk menjaga hidup kemanusiaan. Kalimat itu adalah pengingat dan inspirasi untuk selalu mengutamakan penghormatan sungguh-sungguh kepada perbedaan, bukan basa-basi, bukan sebatas formalitas.
Bahwa kini Bali adalah benteng terakhir Indonesia untuk sikap toleransi sejati ini, karena di Bali yang masih melaksanakan ajaran siwa budha ini, yang diajarkan para leluhur orang Bali dengan visi, bahwa kelak nanti, di suatu masa (di masa kini), ketika politik identitas begitu menguatnya, bahwa kini adalah 'masa depan' yang dulu telah dibayangkan bahwa akan tiba masa dimana ketakutan-ketakutanlah yang dijadikan konsep berpikir berproses dalam kehidupan keseharian. Dan mendorong lahirnya konsep berpikir untuk menemukan agama kembali, dan atas nama pemurnian, atas nama reformasi dan juga atas keyakinan sebagai jalan mulia, yang terjadi adalah betapa semangatnya untuk membangun tanda-tanda dan kecirian yang berjarak.
Bahwa tidaklah dapat dipungkiri, bahwa toleransi sejati tidaklah sebatas pencapaian duduk bersama, lalu bersikap seolah-olah telah dapat memahami satu sama lain. Jika tidak disertai oleh semangat kesadaran bahwa kerendahatian untuk belajar menghargai ajaran satu sama lain untuk dijalankan sebagai sikap nyata, adalah proses batin yang sungguh kaya.
Bahwa pengalaman Bali dengan ajaran Siwa-Budha-nya, tidaklah menghilangkan tradisi siwanya, juga tidak melenyapkan tradisi budhanya. Keduanya adalah agama-agama yang tetap dengan keotonomannya, namun dengan kerendahatian para leluhur nusantara mendialogkan sehingga mencapai taraf penghormatan yang tulus kepada keduabelah pihak, yang menjadi tindakan dalam proses hidup berbudaya. Hidup manusia dengan berpihak kepada kemanusiaannya
Kerisauan kita saat ini, tidaklah dapat dipungkiri diawali oleh kerisauan terhadap kenyataan bahwa moralitas dan nilai-nilai hidup yang kian hari kian merosot. Bahwa yang dirasakan seakan ada ancaman dan pertanda bahwajalan mulia itu adalah memurnikan kembali ajaran masing-masing, dan itu tidaklah salah.
Namun jika jalan mulia itu tidak disertai kesadaran bahwa pribadi lain, kelompok lain, wilayah lain pun ada dalam semangat perasaan yang demikian pula, untuk tujuan menyelamatkan kemanusiaan manusia pula. Maka yang hadir adalah tarikan kepentingan identitas, yang ingin menguasai pihak lain. Dan atas nama jalan mulia tidaklah akan terhindarkan akan terjadi jalan kekerasan atas nama ajaran mulia.
Belajar kepada susastra Sutasoma, belajar kepada jalan kemuliaan yang melahirkan ajaran toleransi sejati, bukanlah untuk mendorong semua pihak yang berbeda meninggalkan ajarannya masing-masing. Namun mendorong semua pihak untuk ke dalam pribadi membangun konsep berpikir dan pola bertutur yang berdasarkan kesejatian ajaran masing-masing, disertai pengetahuan sejarahdan tradisi yang menyertainya.
Sehingga tidaklah terjadi klaim mengklaim akan adanya satu ajaran memiliki paspor jalan tol menuju surga. Bahkan janganlah menjadikan diri atau kelompok sebagai penjaga moralitas. Terjebak dalam kesombongan seakan-akan urusan dunia akan dapat diselesaikan dengan mengamankan, menyortir dan memaksakan dalam absolut tafsiran.
Bahwa diri, kelompok ataupun organisasi yang menjadikan kecirian keyakinannya, sering lalai bahwa yang dijadikan perjuangan bukanlah spririt keyakinannnya yang sejuk dan kasih, namun sering terjadi adalah tafsir, aspirasi pribadi dan kelompoknya itu yang menjadi kemudi konsep berpikir dan pola tutumya.
Bali dalam sejarahnya, belajar sungguh-sungguh untuk menjadikan ajaran siwa-budha ini sebagai jalan mulia. Ajaran ini telah menjadi air yang mengalir tak putus-putus ke semua titik proses dinamika kebudayaan Bali, jugamenjadi tindakan sebagai wujud pertanggungjawabannya.
Konsep berpikir dan pola bertutur manusia disaat menghadapi kebuntuan dialog sangatlah menarik untuk dikaji. Dan Bali menemukan caranya yakni koh ngomong, aje wera, atau depang anake ngadanin, dst. Seolah-olah apa yang diucapkan itu ketika menghadapi kebuntuan dialog, tidak bermuara kepada kode dan simbol ajarannya.
Padahal, kode dan simbol ajaran itulah yang menjadi kemudinya, karena demikian jauh terdiferensiasi sehingga seringkali orang mengira ajaran Hindu Bali, tidak punya persyaratan sebagai agama sempuma, menurut definisi agama modern. Padahal, Siwa Budha memiliki kitab suci berdasarkan wahyu dan tafsir, begitupun Budha.
Lalu dengan kearifan mulia para agamawanlah, agama Siwa-Budha ini membumi, menjadi inspirasi yang sampai masuk ke wilayah-wilayah tindakan, sampai terkesan tak berhubungan lagi dengan akamya. Pencapaian kearifan ini, bukanlah proses sehari jadi, tidaklah juga karena semata-mata menanti datangnya kesadaran. Namun melalui proses dialog mendalam dan dengan didukung oleh kebijakan politik yang mendorong, agama sejatinya adalah menyelamatkan kemanusiaan manusiannya.
Karena itu, di tahun ini kembali dengan indah, sutasoma kita buka, untuk menggugah diri, terbuka kepada inspirasi yang telah diberikannya, yakni mendorong kita semua untuk ada dalam semangat pluralisme, dengan toleransi sejati. Bahwa tindakan yang utama adalah mendorong semua orang untuk belajar melawan ketakutan terhadap prasangka akibat meluasnya politik identitas di negeri ini, bahwa dengan jernih harus diketahui bahwa ajaran agama apapun adalah mulia, dan organisasi apapun itu adalah sesungguhnyalah menjalankan spirit keyakinannya, bukan aspirasi dan tafsir pribadi dan kelompoknya.
Bahwa terbukanya Bali untuk siapa saja, dan kemudian berbagai peristiwa yang melukai rasa aman orang Bali atas keyakinannnya, dengan jernih harus disadari bahwa tidaklah akan terhindari munculnya perasaan berlebihan untuk melawan ketakutannya dengan sikap yang keras pula. Ketakutan inilah yang takut dibicarakan dengan terbuka, dan akhimya ketakutan inilah yang kelak akan bicara dalam hubungan antar kemanusiaan kita.
Dilain pihak, tarikan kepentingan politik identitas sudah sampai pada titik, melupakan bahwa negeri ini bhineka tunggal ika. Bahwa Indonesia didirikan diatas keragaman. Bahwa para pendiri bangsa tahu persis, bahwa hutang terbesar Indonesiaini adalah kepada keragaman itu, yang tidak berhutang apapun kepada Indonesia, namun dengan sadar membangun sebuah negara untuk tujuan keadilan dan kemakmuran bersama.
Karena itu, persaudaraan sebagai manusia dengan tujuan menjaga kemanusiaannya yang seharusnya diutamakan. Bahwa kerendahatian untuk tidak terjebak membawa risau pribadi dalam perbaikan moral dan nilai-nilai itu, janganlah dibawa ke dalam semangat meminta risau itu diselesaikan dalam bentuk solidaritas massa. Apalagi dalam bahasa karena 'kita seumat'.
Dan reformasi Hindu yang selama ini katanya telah dilakukan, baik melalui jalan media, organisasi dan kebijakan. Belumlah memberi penjelasan mengenai Siwa-Budha dengan memadai dan tradisi yang menyertainya.
Ajaran Ciwa yang datang ke Indonesia diperkirakan datang dari Bengal, sama seperti Budha tantra. Ini berdasarkan prasasti berbentuk logam-logam tipis Bhagapur dari raja Narayanapala berangka tahun 854-908 setelah masehi. Ciwait di Bengal yang berkembang saat itu sampai sekarang termasuk dalam mazab Pasupata yang didirikan oleh Srikanthanatha, penulis Pingalamata dan Lakulisa, nama ini diperkirakan muridnya.
Dalam prasasti di Jawa nama-nama murid Srikanthanata ini dalam formula sumpah prasasti-prasati Jawa diberi kode nama Patanjali.Karena itu sejak Pancakusika, para murid Srikanthanatha membuat catatan pada lempengan tembaga kanca, 860 setelah masehi, inilah yang kemudian memasuki Jawa, disebutkan sebagai sektarian Ciwaisme India pertama yang memasuki Nusantara, namun Kern punya pendapat bahwa pejalan-pejalan China telah menemukan kaum brahmana tersebut dalam abad ke-5. Sedang Budhis memiliki riwayatnya memasuki Nusantara via Sumatra, bahkan pada abad ke- 7 telah mengembangkan seperangkat kesusastraan dan model sadhana.
Kemudian pada abad 8 dan 9 Masehi telah berkembang Tantrisme Ciwa dan Budha walaupun saat itu simbol-simbol yang diangkat masih berbeda-beda. Namun elemen-elemen mistik Tantrisme Budhaa, seperti Wajrayana, Sahajayana dan kalacakrayana berdasarkan filosofisnya diberikan oleh Yogacara dan sistem filsafatnya madyamika, inilah yang berproses secara generik dengan sebutan Mantrayana.
Dengan mode sadhana yang rumit, baik Ciwa dan Budha memberikan tanda peninggalannya, yakni jika filosofi Wajradhara nampak pada Borobodur, maka Pasupata nampak pada Candi Ptambanan. Dari sini mulai populer sebutan Ciwa Siddhanta, yang dapat dilacak setidaknya ke pertengah abad sembilan. Namun jika kesusatraan Tantra Ciwa Jawa yang ada sekarang digunakan sebagai panduan, paham Siddhanta adalah bermuara pada Jawatimur.
Ide-ide Ciwa-Budha ini dapat juga disusuri ke wilayah Bengal, namun baru setibanya di Jawa dan Bali dapat menjadi realitas. Spirit toleransi ini secara meluas dicerminkan dalam kesusatraan dan prasasti-prasati Jawa Kuno.
Mengapa perlu memahami sejarah Ciwa dan Budha ini, dalam konteks membicarakan Siwa Budha. Karena misalnya, ada kesan bahwa pemeluk Hindu Bali sekarang perlu dicerahkan dan diluruskan, lalu direformasi kehinduannya. Padahal, ajaran Siwa-Budha ini memiliki kelengkapan dan bukti tindakan spiritual dan nyata menguatkan kemanusiaan manusia. (bahan diskusi di Kelompok Tulus Ngayah, Desember 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Kemajemukan Budaya Harus Tetap Dihormati
Karangasem, Kompas - Kemajemukan (pluralisme) budaya yang hidup dan berkembang di Indonesia harus tetap dihormati dan dijaga sebagai investasi bangsa. Falsafah bangsa, Bhinneka Tunggal Ika, dinyatakan masih tetap relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
Demikian dikatakan Ketua Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI) Nurcholish Madjid dalam dialog lintas agama yang berlangsung di Puri Sidemen, Karangasem, Bali, Sabtu (17/1).
Acara ini dihadiri tokoh-tokoh agama dan pemuka puri di Bali serta sekitar 40 warga dan pengurus Majelis Desa Pekraman (MDP) Sidemen. Sebelum dialog dimulai, dilangsungkan pembacaan naskah Kekawin Ramayana oleh warga setempat tentang nasihat Asta Brata dari Rama kepada adiknya, Bharata, yang menjadi Raja Ayodya.
Dalam dialog kemarin petang, Cak Nur-panggilan akrab bagi Nurcholish Madjid-mengungkapkan, keberagaman dan kemajemukan budaya merupakan bekal berharga yang dimiliki sebuah bangsa, termasuk Indonesia. Sebagai analogi, punahnya sebuah bahasa mengakibatkan hilangnya investasi kemanusiaan selama ribuan tahun. "Apalagi (hilangnya) sebuah kebudayaan," kata Cak Nur.
Menyitir ungkapan luhur Mpu Tantular tentang paham pluralisme, yaitu Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, Cak Nur mengatakan, falsafah tersebut masih relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Terlebih dalam impitan krisis multidimensi saat ini, termasuk mencuatnya pertentangan antarpenganut agama, kemampuan saling memahami dan menerima kemajemukan menjadi hal penting yang harus diupayakan.
Lebih lanjut dikatakan, masing-masing agama memiliki kebenarannya dan tidak ada satu pun agama yang memegang monopoli kebenaran. Perbedaan dalam kehidupan beragama, menurut Cak Nur, hanya sebatas perbedaan dalam sisi sekunder, yakni simbol-simbol agama. "Apabila agama sudah menjadi transenden, paham dan cita-cita yang mengendap lama dalam (ajaran) agama akan terwujud, yaitu wawasan yang universal," ujarnya.
Penghargaan atas perbedaan tersebut, menurut Cak Nur, sudah dipahami para pendiri bangsa Indonesia. Mereka pun pada dasarnya telah merancang bangsa Indonesia untuk berkembang sebagai bangsa modern, yang salah satunya menghargai pluralitas. (COK)
 Cerpen
JRO BLASIN Olih sawitri
Aruh ndeng ndung! nyen sing nawang, I Blasin dugas cenik kanti bajang? Pang kuda suba makaukin nyama patpatna di pampatan desa? Ping kuda suba reramana matur sisip ka desa, mapan babikas I Blasina : Kaliwat beler! Uli maling siap kanti majigarin pangalu. Uli ngintip anak mandus kanti katara malegandang anak luh. Ane paling nguledin basang, dugas madagang lotre, pepes nguluk-uluk dadi batara nomor, I Blasin ngae ragragan apang anaka meli lotre nunas nomor ka pura, ditu iya nguluk-uluk, madaya anak apang marasa maan paica nomor!.
Badah, I Blasin kanti makutang silib ken nyaman-nyamana, matundung alus ka gumi Badunga, pang sing biin ngapak-ngapak, pang sing ngae jengah, pang joh pare sing ngae senggaran gumi.Yan di gumin anake janenga lakar nawang takut, nyen nawang iya inget ken awakna. Mapan yan dapinang di desa, lakar dadi panyakit. Sai-sai ngae rusuh.
Ento ngaranayang tiang kasiab nepukin I Blasin dugas kondangan di umah pajabat pentinga. Kenken sing kesiab, I Blasin dadi prakangge matatahna panak pajabat penting, nyama Bali ane sukses karure biin sugih gerot. Ditu I Blasin dadi pangabih karya. Dadi tameng dada. Miih, dewa ratu sajan!.
I Blasin kadesam-desem mare tiang ditu,“Beh, karura sajan, De.Jani,dadi kaparcayaan pajabat tinggi!,” tiang bani masimbing ken I Blasin.
I Blasin kenyem masem. Ngaedeng tiang ka tepi bale ane ngarodot ban prada cina. Janenge macampur emas, mapan ebona wayah sajan. Kalah ebo miik pangarum-arum matataha ken ebo pradana. Jananga ping siu madempalin.Aeng ngenahe, nanging ebona ngae pengeng.
“Ane suba-suba, liwatang Man,de uyut....” I Blasin ngisian tiang,”Bli suba tegteg jani,biin ade paswecan widi, bli maan pawisik lan katakson....”
Beh, tiang sing dadi ati. Meled kedek mapan inget kenken bajigar I Blasin dugas bajang.A katih ebok keweh tiang parcaya, I Blasin maan pawisik lan katakson ?.Widiastun pepes wenten satua liu anak dangkal kadampuk batara embang, kanikain dadi pamangku, dadi tapakan, dadi balian katakson. Yan I Blasin miripang tiang sing katakson. Iya beler mula ngelah babikas begal..
“Uli pidan bli dadi balian?”
“ Ade uli enem tiban....” I Blasin kenyem congah, makelid uli matan tianga.
Enam tiban? Beh, uli suud reformasina? Tiang kedek ditudun, mapan sekat mabuka kran politika, liu timpal tiange ngelah karier baru, yan sing dadi politisi, malingsa dadi balian sakti. Yan sing keto dadi pacalang pajabat tinggi.
“Nyoman dija jani magae?”
“ Tiang guru SD. Kurenan tiang ane kaundang takening I Bapak…..”
“ Kurenan Man dadi apa?”
“Mangkin Kapala Bagian. Kurenan I Bapak ane kenal jak kurenan tiang, dugas ka Jakarta milu kursus kanaikan pangkat!”
I Blasin kenyem,”Amun ada ape-ape, talipun nah Man. Bli nyidayang nulungin…”
Beh, tiang ngerti. Kenken gede pangaruh Jro Balian Blasina ken pajabat penting ane tinggi.
“Man…..”
Tiang marasa sapatutne mabalik katongos tamuna makumpul, “Dini malu, pang ade ajak ngorte, Bli sing dadi kija-kija, nyagain bale patatahan mapan liu gati serangane ibi sanje….”
Tiang biin ngamelahang tegak, I Blasin ngaukin anak ane liwat. Tiang senglad, mapan nawang ane kakaukin nika pajabat di propinsi,” Nang alihang tiang kopi, niki adin tiang….” Keto perintah I Blasin ken pejabata ento. Bih, kebus marasa muan tiang ningehang.
”Sampunang pak, titiang sampun ngopi….” Mih, tiang kenyem buung, nguntuk naan lek. Gumi suba mabalik, pajabata takut ken I Blasin?
Angob mase, Bapak panggede di propinsi jerih teken I Blasin. Kopina sajan teka. Makejang timpal kantor kurenan tianga, uli pajabat cenik kanti gede dadi pangayah. Biih, yan kaumah pajabat makejang nyak dadi pangayah nang ka umah timpal, nang ka pura padidi? Liu suba alasan makelid.Uli tugas kantor kanti sing maan cuti. Badah!
“Tenang Man, biar iya pejabat tinggi, sing kar bani ken Bli....”
Beh, kenken ja maranen kasaktiana I Blasin? Tiang makeneh.ngilangang bingung yedot roko.
“I Bapak meled nyalonang awak.dadi gubernur,.kenken manurut Man? Ada paluang sing? Yan, uli pawisik ade jalan, nanging ketil sajan. Mapan musuha sabukana gede, yan soal pipis bani matoh, I Bapak siap gati masaing!”
Badah, sing ade ujan, sing ade angin ngarawosang politik,”Tiang guru, De. Napi tawang tiang soal politik….”
“De keto.Bli nawang kenken limbak keluargan nyoman......”
“Seken Bli, tiang tusing ngarti....”
I Blasin yedot rokona, telektekang tiang jrijina. Kedas sing ade bungkung mabengkong. Sing ade gelang uli. Dueg iya ngaba dewek. Pangus negakang awak dadi balian. Tusing ngae-ngae ulian payasan. Asli bajigar I Blasin mula keweh papas. Iya alep lan ngenah terpelajar cocok kaparcayain Bapak Pajabat tinggi..
“Man, Bli mase sing ngarti politik, nanging I Bapak meled sajan dadi gubernur, pang nyidayang ngabdi ken gumi balina! Akuda ja masuang pipis lakar papasa. Suba ade partai maekin,nanging I Bapak nawang, gumi balina anak piit..”
“Piit kenken Bli.Amun ampun ngelah modal, elah dogen.....”
I Blasin kenyem masem.
“Pang Man nawang, konden seken ortana, ape I Bapak lakar nyalonang awak ape tosing. Ibi lemeng serangan kapetengan liu pesan. To telektekang,samara-ratiha maan ulung kasander api. Yan sing ade bli meh meh mati panakna I Bapak. Sube geleh ajak makejang.....”
Tiang angob, demen masi ningehang satua serem.
I Blasin yedot rokona laut makeprusan ka baduur,”Kanti jani enu ade serangan…..”
Konden tiang nyelag matakon indik napi serangan ento. Saget masriungan pangayah-pangayah uli duri. Ngalih I Blasin. Makejang ngenah muane alah pucuk becek, angkihanna pegat-pegat,.
Tiang mase buka belog nutugin I Blasin. Meled nawang napi ane ngaranayang para pengayah masriungan takut. Di tongos nyiapang makanana, makejang nyongsong I Blasin,”Tenang, ampunang panik, wenten napi?”
Beh, kenkenang tenang? Di yeh ngarodok uled cenik-cenik ngariam. I Blasin kenyem, kipak-kipek mamantra. Makejang mendep alah jangkrik katebin. Liu janenga pangayah niwang ulian takut ken uled.
Lantas I Blasin nyambehang uyah,” Sampun. Aampunang panik, ampun padem!” keto munyin I Blasin, sing kalah wibawa ajak komandan tentara di lapangan.
Magriengan mase bulun kalong tiang. Sajan janenga I Blasin sakti ngaluwer? Molih uli kondangan, tiang matakon ken kurenan,” Nawang I Blasin…?”
“Mih, nyen nak singnawang? amun kantor muspa kija-kija Jro Blasin anak milu. Baik gati Jro Blasin, sing alah balian leenan….” Keto saut kurenan tianga.
“Oo…..” tiang sing bisa ngorahang ape buin, kene satua tiang,“ Nak I Bapak ajak pajabat-pajabat lenan, pepes tangkil ka pura-pura tenget ajak Jro BLasin. Kone Bli, I Bapak sangkal tekek jabatana lan nyugihang dogen ento karena maan pica. Timpal tiang taen milu, kone mula sakti Jro Blasin. Nak sajan dingeh munyin magrendangan, terus jag ngalilik parmatane di malun I Bapak. Kone taen maan keris cenik, cakra emas, ento kone ngaranayang I Bapak lakar nyalonang dewek dadi gubernur…”
Beh, tiang inget dugas I Blasin kadendain desa, karana majigarin anak muspa di pura. Ngocok punyan pule lan ngentungang pis bolong mategul benang tridatu. Dugas ento mula liu anak buduh manomoran. Liu anake parcaya maan paica nomor lotre. Sasukat I Blasin katara, sing ade biin anak muspa nunas paica nomor. Takut nyanan ‘batara’ Blasin ane mapaica.
Jani, kurenan tiang mase parcaya ken I Blasin. Duh, tiang jag inget ken uled magriam di yeh ane ngarodok, inget dayan begalna I Blasin dugas di desa.
Nanging yan kenehang, ah, depang suba pajabat-pajabata uluk-uluka ken I Blasin, mapan yan kenehang, apa suba gaena kanti makejang sugih gerot?. Nyen nak sing nawang, apa ane ngaranyang pajabat cara janine sugih. Yan ulian gaji sing kar ngelah ape. Cara janina pajabat cenik gen ngelah umah ngarodot. Nang cek gajihna sing kar nutup idupna abulan. Beh, uli dija maan kasugihan yan sing ulian nguluk-uluk gumi?
Nah, apa rugina mendep? Depang I Blasin megalin pajabat-pajabat ento. Ditu jananga sajan I Blasin katakson, tugasne abesik : Balian nguluk-nguluk pajabat.
Tiang kedek padidi. Nak mule liu ane keto cara jani, disubana biasa nguluk-uluk gumi lantas nguluk-uluk dewek, rajin ka pura ngalih paica, matimpal Jro Blasin pang kadenang sayangang widi!
Bali post, minnggu 22 oktober 2006

Bhisama Bali Lahir di Tengah KTT
DENPASAR, NusaBali Selasa,4 Desember 2007
Bersamaan dengan pembukaan KTT Perubahan Iklim dan Pemanasan Global (Global Warming) di Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Senin (3/12), lahirlah Bhisama Bali. Tanpa maksud meng-Hindu-kan dunia, Bhisama Bali ini intinya menyuarakan agar sehari dalam setahun dilaksanakan Nyepi sipeng di seluruh dunia, sebagai bagian upaya meminimalkan polusi udara.
Bhisama Bali yang memperjuangkan Nyepi sipeng---salah satu hari suci umat Hindu---ini dideklarasikan dalam pertemuan paralel atau side meeting di Biofuel Ballroom Grand Hyatt, Nusa Dua, Senin kemarin. Pertemuan paralel itu diikuti beberapa NGO, baik dari dalam maupun luar negeri. Bhisama Bali atau Deklarasi Nyepi untuk Bumi ini intinya mengajak seluruh umat manusia untuk belajar dari Bali, dengan menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Nyepi Day (Hari Hening atau The Silent Day). Melalui Nyepi, seluruh masyarakat dunia bisa berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan kegiatan dan konsumsi energi selama sehari. Deklarasi Bhisama Bali itu sendiri dibacakan oleh Dharma Adyansa (Ketua Umum) Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Aribawa. Dari pertemuan kemarin, konsep Nyepi Day direkomendasikan untuk diperjuangkan dalam perhelatan akbar KTT Global Warming, yang akan berlangsung hingga 14 Desember 2007 nanti, dengan diikuti 15.000 delegasi dari 187 negara anggota PBB. Menurut Ida Pedanda Sebali Tianyar, konsep Nyepi yang diusulkan Bali ini tidak terkait dengan agama Hindu. Tapi, lebih luas lagi yakni konsep penyelamatan lingkungan hidup. Jadi, tujuannya adalah untuk mengurangi perusakan lingkungan dunia. "Bali dengan sehari melakukan Nyepi dalam setahun saja, mampu mengurangi pencemaran emisi CO2 sedikitnya 20.000 ton, karena semua aktivitas manuasia hari itu berhenti total. Bayangkan, jika (Nyepi) dilakukan seluruh umat di dunia, walau baranmg sehari saja," jelas Ida Pedanda. Dari Bhisana Bali ini, masyarakat Bali mengajukan dua usulan penting yang diharapkan segera ditindaklanjuti di KTT Global Warming. Pertama, semua negara yang mengikuti KTT Global Warming bisa menyepakati Bali Road Map, yang intinya menekan negara maju untuk segera mengurangi emisi penyebab polusi. Kedua, menetapkan setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Nyepi Day (Hari Nyepi Internasional). "Saat Nyepi Day itu, seluruh umat dunia berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan segala aktivitasnya," beber Ida Pedanda. "Kami tidak bermaksud meng-Hindu-kan dunia. Tapi, kami mengajukan filosofi dan sebuah kearifan lokal untuk mengajak dunia peduli dengan alam, di mana kita berkorban satu hari untuk memulihkan alam." Jika nantinya usulan Nyepi Day ini bisa diterima di KTT Global Warming, maka diharapkan Nyepi Day dilakukan secara bertahap mulai Maret 2008 dan secara penuh tahun 2010 mendatang. Salah seorang pembicara dalam pertemuan paralel kemarin, Hita Jhamtani, menyatakan Nyepi ini adalah sebuah kearifan kebudayaan lokal yang sudah dilakukan oleh masyarakat Bali sejak zaman silam. "Kami sudah mendapatkan izin dari seluruh komponen masyarakat Bali, bahwa apa yang kami lakukan ini adalah demi penyelamatan lingkungan, yang ujung-ujungnya memberi dampak pada Bali juga," jelas pemerhati lingkungan yang juga ketua salah satu LSM lingkungan ini. Menurut Hita, masyarakat Bali seharusnya berbangga bahwa apa yang diusulkan ini sudah mendapat restu dari masyarakat Pulau Dewata. "Dari pulau kecil di salah satu sudut dunia ini, kita telah mampu menunjukan bahwa masyarakat Bali bisa menjaga alamnya walaupun hanya sehari dalam setahun," katanya. Ketua Lembaga Stiti Dharma, Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, juga menyatakan hal senada. Menurut Ida Pandita, dalam proses menjadikan Nyepi sebagai peringatan internasional, diperlukan berbagai konsolidasi dari berbagai pihak dan konsistensi dari sumbernya sendiri. "Apalah artinya peringatan ini bila sudah diterima masayarakat dunia, namun sumber pelakunya tidak pernah melakukan seperti yang sudah diminta kepada mereka," katanya. Di sisi lain, muncul tanggapan dan berbagai pertanyaa mengenai Nyepi dari peserta pertemuan. Sebagian besar pertanyaan mereka intinya menanyakan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam sehari, jika Nyepi Day bisa tembus sebagai agenda internasional. Terhadap pertanyaan ini, Ida Pandita menyatakan, sebenarnya yang harus dilakukan dalam sehari saat Nyepi Day adalah evaluasi diri soal apa yang sudah dilakukan kepada alam. "Namun, yang ingin kami tekankan di sini adalah memberikan kesempatan kepada alam agar bisa istirahat barang sehari saja," jelas Ida Pandita. Sebelumnya, Fraksi Golkar DPRD Bali juga mengusulkan agar Nyepi setahun sekali untuk diperjuangkan bisa dilaksanakan sedunia, melalui perhelatan KTT Global Warming. Dalam pemandangan umum Fraksi Golkar yang dibacakan Komang Budhiarta, pada sidang paripurna DPRD Bali, Jumat lalu, ditegaskan bahwa pemanasan global telah mengancam kehidupan manusia. Hingga saat ini, belum ada solusi secara nyata dilaksanakan. Di Bali, kata Budhiarta, sebenarnya sudah lama dikenal cara mengatasi kerusakan lingkungan itu, melalui upacara Nyepi, yang sifatnya lokalan. "Kita meminta pemerintah daerah menyampaikan usulan ke pusat agar Nyepi ini bisa dilaksanakan di seluruh dunia," ujar Budhiarta. Pemerintah bisa menyampaikan usulan itu ke badan dunia PBB, melalui KTT Global Warming. Meski Nyepi hanya dilaksanakan sehari saja dalam setahun, tapi jika dilakukan di seluruh dunia, entah berapa pohon bisa dicegah untuk ditebang. Dan, berapa kendaraan pula yang bisa dihentikan asapnya. Karena jutaan manusia tidak bekerja sehari di pabrik, maka udara menjadi bebas dan jernih. Selama ini, umat Hindu di Bali melaksanakan Nyepi setahun sekali pada setiap Tahun Baru Saka atau sehari setelah tilem Kasanga. Saat itu, umat Hindu melakukan catur brata panyepian: amata gni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak makan dan minum). Sementara, Gubernur Bali Dewa Made Beratha menyatakan usulan soal Nyepi Day itu harus dikaji dulu di daerah, sebelum dibawa ke pusat. "Ya lihat saja nanti, kita 'kan perlu waktua itu," katanya kala itu. Namun, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, I Ketut Wiana, menyatakan usulan Nyepi di bawa ke forum internasional itu sudah diwacanakan dalam sebuah seminar lingkungan yang digelar Walhi (Wahana Lingkungan Hidup), beberapa waktu lalu. Menurut Wiana, PHDI termasuk pihak yang ikut meminta agar Nyepi bisa dilaksanakan seluruh dunia dan jadi libur sedunia. Sebab, dalam konsep Hindu, manusia selama ini hanya dilayani alam. Dikatakan Wiana, konsep Nyepi ini secara nyata memang keluar dari kemlompok minoritas Hindu. Namun, ketika efek dan manfaatnya besar, tidak ada salahnya kalau konsep ini dilaksanakan dunia. "Sekarang tergantung perjuangan pemerintah. Kita berharap agar perayaan Nyepi ini dilaksanakan di seluruh dunia," katanya. Sementara itu, suasana Nyepi sempat mewarnai acara pembukaan KTT Global Warming di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua, Senin kemarin. Dalam acara itu, sempat diputar video berisi rekaman prosesi perayaan Nyepi di Bali. Delegasi asing banyak yang terkaget-kaget menyaksikan rekaman prosesi Nyepi berdurasi 1 menit itu. Namun, ada juga yang terinspirasi untuk mengaplikasikan Nyepi di negaranya. Saat tayangan prosesi Nyepi diputar, suasana BICC menjadi hening. Para delegasi larut menyaksikan tayangan yang menampilkan suasana Nyepi di Bali itu. Video tersebut memperlihatkan betapa sunyinya Bali saat Nyepi. Suasana jalan raya, laut, dan perkotaan semuanya sepi. Tidak ada aktivitas warga dan kendaraan yang lalu lalang. Sejumlah delegasi asing KTT Global Warming menanyakan lebih jauh soal Nyepi yang kini diusulkan Bali sebagai Nyepi Day ini. Pertanyaan itu banyak diarahkan kepada I Made Suwarnata, delegasi dari LSM Wisnu. Delegasi asing dari Brasil, Afrika, dan Prancis memberikan tanggapan beragam. Ada delegasi yang belum bisa membayangkan bagaimana jika Nyepi diterapkan di negaranya. "Mereka bertanya, jika itu terjadi di negara saya, apa yang harus dilakukan selama sehari?" tutur Suwarnata pada detikcom. Delegasi dari Brasil langsung menyatakan setuju dengan Nyepi dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi CO2. "Oh, saya suka dengan ide Nyepi itu," ucap seorang delegasi Brasil disitir Suwarnata. Ada juga delegasi yang tidak setuju dengan Nyepi. Mereka berpendapat negaranya bisa rugi besar jika dalam sehari memberlakukan Nyepi. Atas kekhawatiran akan kerugian tersebut, Suwarnata menjawab, "Tidak apa rugi sehari, daripada dunia kiamat akibat efek Climate Change."
cr15
 The history and Elements of Balinese Culture
It would be inadequate to make a survey on Balinese Art and Culturen in every aspect of its manifestation without knowing something of its history and evalution and its religious development. In examining the origins of the elements of the cultural expressions in Bali, one can utilise the following materials: - Prehitorical remains. - Inscriptions on brass plates and statue and the history of religious place. - Literature recorded on Lontars (palmleaves).
A historical survey of Hindu - Balinese culture has to make a statement abouth the existence of several essential elements, that form the fundamental structure of the old Balinese culture, the influence of which is still apparent today. This is very important for the evaluation of the cultural phenomena, which can still be encountered in the present spiritual and social life. In making a survey and evaluation of the social and cultural structure of Bali today, several factors should be considered: a. Pre-Hindu factors, which still have the significance of authentic balinese culture, present before the arrival of Indian religious and cultural influences in Bali. b. Indian religious elements and Hindu-Javaneseelements, which later grew in influence and affected the development of religion and culture in Bali.
One of the Pre-historical remains, which is still very wellknown, is the Nekara or kettledrum originating from the Dongson era the Bronze period. It is now kept in the temple of Penataran Sasih Pejeng in the Gianyar district. This ettledrum is regarded as holy by the people, especially by people living in and near this area. The kettledrum is given the name of Bulan Pejeng (the moon of Pejeng) or Subeng Kebo Iwo (the ear ornament of the legendary figure Kebo Iwo).Accoding to inscriptions, Iconograpy and ancient literature the history of Bali can be divided into several periods:
The Hindu Period in Bali, This period can be compared with the Taruma Nagara period in west-Java in the 6th - 7th century.The Hindu-Balinese Period, From this period remains have been discovered inthe form of clay stupas and clay stamps, upon which praying formulas are written with prae-Negari characters. Many of them bear the inscriptions of the Ye-Te praying formula, which is the same as on that discovered at the Candi Kalasan (temple of Kalasan) in Middle-Java dated 778 A.D. This Ye-te inscriptions from Pejeng of the Gianyar district gives evidence of the date of its origin as 882 A.D. Similar inscriptions from the 8th century are also to be found among other ancient remains at several other places in Indonesia. One of them, for instance, is the Durga Statue kept in the museum in Jakarta. Another one is the Bodhisattwa Cakti sculpture stored in the Museum of Berlin. From this, we can conclude, that the Hindu-Buddhist religion and culture was at that time alreadyspreading its influence from India to all parts of Indonesia in a direct manner and was simultaneously florishing in Bali,Java and Sumatra. During the reign of King Sailendra, The BuddaMahayana religion and culture flourished in Sriwijaya on the island of Sumatra. Its powerful influence spread out as far as central Java, and probably to Bali. The Buddha Mahayana religion that reach out as far as South East Asia, was mixed with Tantric philosophy. In Bali several inscriptions show dates, that can be compered with the period from 882A.D. until 914 A.D. They mention the name of King Kesari Warmadewa and another well -know king named Raja Sang Ratu Ugrasena(915-933 A.D) Meanwhile in East Java there reigned another powerful King named Empu Sindok (914-942). In Bali four other kings followed, all descendants of King Warmadewa. One of them was identified as Candrabaya Singa Warmadewa(962A.D), who made the holy well Tirta Empul (the whirling pool) at Manukaya nera Tampaksiring in the Gianyar district, now a well-known tourist resort. Another member of the Warmadewa dynasty, who was recorded as a ruler on the Island of Bali, was King Dharma Udayana Warmadewa. he was married to a princess from East Java, the granddaugter of Empu Sindok, named Sri Gunapriya Dharmapatni. This marriage strengthened the ties betwen the two Kingdoms, Bali and East Java, and each tried to influence the other in their cultural and religios development. The Princess Sri Gunapriya Dharmapatni also known as Mahendradatha was portrayed as the Durga Mahisasuramardhani image, which still exists and is kept in Kadarman Temple near Kutri, about twenty kilometers from Denpasar. In the year 991 A.D. she gave birt to a son, who later became the famous and powerful monarch of East Java, Prabu Erlanga. During his youth, Erlangga went to Java and married a Javanese Princess. Unfortunately, shortly thereafter his father in laws kingdom was attacked by enemies, and his father in law was defeated and killed in battle. Erlangga himself was obliged to flee. He went to Wonogiri, accompanied by his loyal servant Narotama. He stayed a few years in the jungle living with religious leaders. After some years, Prince Erlangga regained strenght. Backed by the religious leader and people, he succeeded in conquering his father in laws enemies and he returned to power. Inscriptions from the Erlangga period were discovered in Bali written with Kediri characters in the old Javanese language. This indicates, that Hindu-Javanese culture had already gained much influece in Bali. Some historical remains in the form of schulpure with Kediri inscriptions were found in the Sukawana Temple on the Gunung Penulisan near Kintamani. A male and female sculpture was found in this region baring the date of 933 caka (1011A.D.) and another twin Lingga sculpture having the date of 999 caka (1077 A.D.). A younger brother of Erlangga reigned in Bali under the name of Anak Wungsu (1049-1077 A.D.). His relics were kept in the cave temple of Gunung Kawi near Tampaksiring on the Bank of the holy river Pakerisan. Nearby was monastery, where priests were living and praying. Many holy places used for meditation such as the Goa Gajah (elephants cave) and the Yeh Pulu hermitage are known to have already existed in this period. Ancient Temples dating from the time now still in use are the temple Kebo Edan, Panataran Sasih and Pusering Jagat, all in the Pejeng region of the Gianyar District. It is important to note, that the sculpture kept in the Temple Kebo Edan shows marks of the Bhairawa philosophical doctrine.
The Period of further Hindu Javanese influence
Further and more intensive cultural and political influence from Java commenced at the time when Prabu Kertanegara from East-Java conquered and brought Bali under his powerful reign in the year 1284 A.D. cultural elements from East-Java became more and more absorbed into the spriritual as well as social life in Bali.
The Majapahit influence in Bali
This period began at the time of the arrival in Bali of Gajah Mada, the Prime Minister of Majapahit around the year 1342 A.D., When Gajah Mada succeeded in including Bali under the rule of Majapahit. According to the Negara-Kertagama composed by Empu Prpanca in 1365 A.D., Bedahulu and Goa Gajah, in Bali, were regarded as Majapahit territories. Majapahit began to prosper around the year 1293 A.D. and reached its golden Age about the years 1350-1400 A.D. But in 1500 A.D. during the arival of islam in java the Majapahit empire began to disintegrate. During the golden Age of Majapahit, Gajah Mada the very intelligent and able Prime Minister was able to bring Majapahit to its culminating power, and succeeded in uniting the entire Archipelago which was as extensive as the present Indonesia.Irian Jaya had already been included in the Majapahit territory. From Majapahit chronicles, it is obvious that Majapahits cultural life and civilization had already spread extensively throughout Bali. Record give description of the way of life in Bali, smilar to that of Majapahit in East java. The Usana Bali, a literary work composed by Nirartha (also called Pedanda Wau Rauh or Dwijendra) an East Javanese Monk, who came to Bali around the year 1550 A.D., contains many passages about the history of ancienth Bali; although many of these are intermingled with my thological elements.Dwijendra was regarded as the person, who brought new life and ideas into the spiritual and social structure of Hindu Bali. Until Today, people take care of, and regard as holy the places where Dwijendra gave his teaching to the people. These include the Temple Rambutsiwi in the Jembrana District, Tanah Lot Temple in the Tabanan District, Sakenan Temple in Badung and the temple of Mas in the Gianyar District.Descedants of the Holy Brahman, who still lead in the spiritual life in Bali are called Pedanda Brahmana Jatma Wangsa Mas or Wangsa Kamenuh or wangsa Keniten or wangsa Manuaba. These are the four well known classes of Prieshood in Bali. Another Brahman, whoseteaching has great influence in the religious life even to this day was Empu Kuturan, known to be related to the famous Empu Baradah from East Java at the time of the reign of Erlangga. After conquering Bali, Gajah Mada was determined to send more armed forces in order to bring peace and order to Bali. He sent Aryas to bali to reign over Bali in the name of Majapahit. One of these was called Arya Kepakisan, also well-known as Dalem Samprangan. He was followed by Kresna Kepakisan. Later the central goverment of Bali was moved from Samprangan to Gelgel by I Dewa Ketut and in about the year1650 to Klungkung. Until a few years ago the Dewa Agung stillresided inthis town. The last Dewa Agung died in 1965 and was cremated with a big ceremony. Dalem amprangan brought many Aryas with him, to whom he entrusted the regional administration of Bali. Some of them such as Arya Kenceng, Arya Dlancang, Arya Kanuruhan, who until now have their descendants in bali are very well known. Consequently those Aryas who came to Bali brought elements of the culture, civilization and art which meant a transmission of the Majapahit culture to Bali. After MajapahitDuring the disintegration of the Majapahit Empire in the fifteenth century, Bali tried to free itself.At the same time the coming of islam to java was leading to the establisment of new Islamic monarchies. Although Bali was freed from Java, it was only liberated politically and administratively.The Hindu Javanese cultural and religious beliefs, had become element of the basic pattern in Bali today. Islam has never had an opportunity to spread throughout Bali. Cultural and artistic development occured in the South and central of Bali, while the north and the jembrana region in the west showed less signs of development. In the mountain villages such as Trunyan on the bank of the Batur lake, Tenganan in the Karangasem area. Sembiran and Dausa, near Kintamani, we can still find remains of the older Balinese religion and culture ( Bali aga Culture). The most developed pricipalities are Klungkung, Badung,Mengwi,Tabanan,Sukawati,Singaraja and Karangasem. In 1849 the pricedom of Singaraja was unfortunately occupied by dutch colonial forces. I Gusti ketut Jelantik was considered a national hero in his role in the devence of Singaraja. Badung was defeated in 1906 only after a Puputan , a suicidal battle, where both Ksatrias (nobles) and common people, young and old, men and women sacrificed their lives. Many were killed by the shells fired from Dutch battleships anchored off the beach at Sanur. Gianyar and Klungkung came under Dutch rule in 1906. Theafter Bali was under total Dutch colonial rule, until 1942, when Japanese forces occupied the whole territory of the Dutch East Indies. During the Japanese occupation and at the time of the 1945 Indonesian Revolution, the leaders and the people of Bali distinguished themselve in defending the red and white national colours. One of the heroes, Ngurah Rai is well known throughout indonesia and the new internasional airport Tuban,denpasar,is named after him.
From the above , we can distinguish several elements, which form the mosaik of the Balinese cultural pattern:
Pre-Hindu elements: - Agricultural knowledge inherited from our Indonesia ancestors, which was disseminated throughout indonesia (the wet sawah growiwng technique) - Artistic and technical methode of wooden architecture and the art of weaving. - A knowledge and technique of the treatment of iron,brass and copper. - Element of dancing and ceremonies in trance such as the Sanghyang dance. - The Sabung Ayam,Tajen, (cockfight) used in former times as a blood-offering ceremony. - The family system, Ancestor-worship expressed in the shrines of Sanggah Kemulan, Kawitan,Pamerajan, Dadya, which are pre-Hinduistic elements. Customs of mutual help (gotong-royong social system of the Banjar). Subak communal irrigations system. - Tales and folklore passed among the people from one generation to the other. - Elements of the old Balinese language.Elements originating from hindu (indian) and Hindu-Javanese culture can be summarised as follows:
* The ciwa- Buddha Religion,which became united in java and Bali. The Sad-Kahyangan and the Tiga Kahyangan Temple system, which has now spread throughout Bali. * The spiritual and physical power of a king, which are often regarded as a manifestation of Divine power. * The pedanda (temple priest) with all his ceremonies. * Literary treasures written on Lontars, containing scriptures of cultural and religious principles. The Ramayana and The ahabaratha epics. * The art of Court dancing, music and drama with its repertoire taken from the history of the Javanese Monarchies (The gambuh dance drama). * Wayang-puppet shadow play, their equipment and the Kawi language. * The Lunar Calendar,uku, Wariga * The kris, as asymbol of inherited power and prestige. * The Caturwangsa caste system. * Motives and styles in the art of carving ornaments and wayang painting.
These patterns of culture can still be observed in the daily life and Ceremonies in Bali today.

Tuung Kuning
Tuung Kuning was a daugther of a keen gambler by the name of I Pudak. When Tuung Kuning's mother was abouth to give birth to her, I Pudak left a message that when baby was a male she had to raise him; but when it was a female she kad to kill her, and the chopped body be given to this fighting roosters. I Pudak was a female baby she left the baby with her mother, the baby's grandmother. The Grandmother raised her until she turned into a pretty grown up girl. She also taught her how to weave.
Then, after a long time, I Pudak returned home and asked his wife abouth the baby. At first she just kept quiet, but when he threatened her she confessed the baby was a female one. He asked abouth the where abouth of the baby and ordered her to bring the child before her.
Tuung Kuning was then taken to her father who was very furious abouth the fact that the baby was not killed. Then he took her to the forest to be killed. Fortunately, the fairies in heaven knew abouth the unjust treatment given to Tuung Kuning. They, then, saved her from being killed by replacing her body with a banana stem. Pudak did not know that Tuung Kuning was replaced with a banana stem. In his eyes that stuff was his daugther. He then chopped it into small pieces and later taken them home for his roosters. Bad luck befell on him. All his roosters died. Only then he realized that he had killed his own daughter for unreasonable cause. He became extremely sad, and went back to the forest where he had killed Tuung Kuning. There he stayed for months crying and lamenting.
His daugther saw all the scene from heaven and became very sad. He then requested the fairies to be taken back to his father. They agreed, and she was escorted to him. He was very, very astonished upon seeing his daugther in front of him. He did not believed his eyes. Then, she convinced him that he had not killed her. She was saved by the good fairies and taken to heaven. They went back home and lived happily ever after.
News abouth the return of Tuung Kuning reached the palace. To the palace she was then invited by the king to tell about her experience in heaven. Thus, she told everythink she saw and felt. The King was not justimpressed by her story, but also by her good looking appearance. He fell inlove with her, and proposed marriage. As with her father, hewas appointed chief of his village.
Minggu Wage, 2 April 2004
Monolog ''Aku Bukan Perempuan Lagi' Tetaplah harus Meradang dan Menerjang SOSOK itu mengenakan pakaian serba putih, stocking putih, rambutnya dibiarkan tergerai; bergerak ke sana ke mari dengan tangan yang kadang menuding, kadang merentang sambil berbicara. Cahaya dari atas kerap pula mengikuti dan melumuri sosok itu, namun sering pula meredup membiarkan ia gelisah sendiri, berguling-guling, telentang atau telungkup sendiri dan berakhir lunglai di depan cermin. Pertanyaan atau keluhannya di depan cermin bukannya beroleh jawab, melainkan kian melahirkan pertanyaan atau keluhan baru.
Itulah adegan yang diperlihatkan Cok Sawitri ketika ia memainkan naskahnya sendiri, "Aku Bukan Perempuan Lagi" (ABPL), Sabtu (24/4) malam lalu di Gedung ISI Denpasar. Sepanjang pementasan drama dua babak itu, sang tokoh tunggal selalu didera bimbang berkepanjangan tentang kekuasaan, arti perempuan di tengah kekuasaan, dan kebenaran-kebenaran sanubari yang selalu berposisi menjadi pecundang. Hidup bukanlah persoalan hati, karena yang terlihat dan terjadi ialah bahwa hidup adalah tentang bertahannya kekuasaan. Hidup ialah persoalan tanda.
Jika hidup ialah persoalan tanda, maka segala hal tentulah tak lagi sederhana, sebagaimana sanubari membingkai kemanusiaan. Pada cara pandang penandaan, manusia menjadi lelaki dan perempuan, tuan dan budak, penguasa dan jelata, si kaya dan si miskin, berkasta dan tidak, dan seterusnya; dan bukan pertama-tama manusia dan kemanusiaan dibingkai oleh sanubarinya. Inilah yang dijeritkan Cok Sawitri dalam lakonnya itu. Ia menggugat realitas kontemporer tentang sebuah desain besar yang menempatkan perempuan (yang dilihat sebagai "tanda" karena ketubuhan) di bingkai kebodohan dan kekalahan.
Pemberontakan perempuan sebetulnya menjadi persoalan di setiap sejarah, dan apa yang terungkap dalam lakon ABPL ini merepresentasikan realitas itu kembali. Namun sebagaimana sejarah pula memperlihatkan betapa perempuan tetaplah terlempar kembali kepada kekalahannya sebagai subordinat dari kekuasaan yang lebih besar. Sejauh penggugatan kemanusiaan yang dijeritkan Galuh Daha, toh akhirnya ia tak lagi mencoba berpijak kepada keyakinan hati yang dipunyainya karena ia tak membuktikan apapun dari keyakinannya itu. "Lihatlah, seperti kisah, seperti kehendak, aku ikuti keinginan tubuh, berubahlah, cermin, ubahlah bayangan!" pinta Galuh Daha.
Tetapi ketika Galuh Daha tak lagi mengusung apa yang diyakininya, menghamba kepada persoalan tanda, tubuh dan kekuasaan, toh ia masih tetap menjadi orang yang diburu. Ia kembali bimbang, kembali tak mengerti tentang ke mana sesungguhnya "jalan kekuasaan" dari sebuah skenario besar itu. "Kenapa kau masih memburuku, bukankah aku bukan perempuan lagi? Bukankah itu janjimu, apa kau kira aku mengubah diriku ketika tiba di kota raja...?" tanyanya. Menyadari pilihan telah dijatuhkan dan kecerdasan telah memperlihatkan khianatnya, maka hak harus direbut, atau kalau tidak tetaplah harus meradang dan menerjang!
***
Lakon ABPL sepenuhnya bersandar pada naskah yang kemudian dimainkan secara monolog oleh Cok Sawitri. Tema kekuasaan yang dibingkai dengan muatan sastrawi menandai bahwa ada ruang permenungan yang mau ditawarkan Cok Sawitri dalam lakonnya itu. Jika ia mau bersetia kepada sastra yang diwujudkan ke panggung yang mau membingkai rohani penonton kepada daya saran permenungan, seharusnya naskah sangatlah kuat berpihak kepada kecerdasan diksi yang memunculkan daya haru di hati penonton. Kecerdasan diksi (meminjam istilah Frans Nadjira) bukanlah "bahasa mewah", kata-kata yang seram dan "tinggi", melainkan memadatkan realitas dalam suatu ungkapan yang menyentak, menyentuh dan relatif baru. Ini yang kurang dimaksimalkan Cok Sawitri, padahal kecenderungan itu telah ia punyai ketika melihat realitas "yang kandas terhisap cahaya", atau "kecerdasan yang berkhianat" dan deskripsi hati yang banyak terjaga oleh diksi puitik.
Namun, bermain secara tunggal dan mengusung narasi serta syarat-syarat pementasan yang teatrikal membutuhkan bukan saja kesadaran sastrawi, melainkan juga upaya memunculkan jiwa yang hidup dalam tubuh dan segenap indra. Cok Sawitri kurang maksimal menggarap kedua aspek yang membangun keutuhan lakonnya itu, apalagi dengan begitu jelas ia memperlihatkan "keketatan" lakonnya sebagai kekuatan sastrawi. Sebagai drama yang begitu setia dengan naskah, Cok Sawitri kurang memperhitungkan aspek-aspek yang seharusnya menguatkan narasi. Vokalnya tenggelam "dimakan" panggung dan musik pengiring, sehingga, sastra yang mau diantar kepada penonton jadi tak jelas. Jarak pemain dan penonton yang terlalu jauh seharusnya bisa ditutupi dengan gestru dan bloking yang menguatkan bangunan plot naskah. Sedikitnya hal itu telah dilakukan Cok Sawitri, namun kurang berjiwa terutama ketika ia harus membangun dua tabiat dari "perempuan" ke "bukan perempuan". Padahal, seperti keyakinan ekstrem yang dipunyai Antonin Artaud, gestur adalah satu-satunya bahasa yang paling benar. Beberapa tahun yang lalu, di tempat yang sama, ada Renny Jayusman mempertunjukkan gestur yang baik ketika bermain dalam drama "Ketika Malam Bertambah Malam" karya Putu Wijaya.
Sebagai pesastra dan pelaku teater, Cok Sawitri jelas menyadari susastra ini. Tema besar seperti kekuasaan -- yang dibiaskan ke aspek gender, kemanusiaan dan cinta -- dan itu dibawakan seorang diri memang bukan hal tentang, penuh risiko dan jika kurang cukup waktu, besar kemungkinan akan belepotan. Tapi Cok Sawitri pastilah seniman yang cepat belajar, memahami bahwa pilihan sikap menjadi dramawan adalah pertama-tama mengedepankan jiwa yang terbuka akan wacana dan penerimaan. Itu sebabnya segera bisa dimengerti mengapa ia mengakhiri drama monolognya itu dengan membuka diskusi; suatu bentuk keberanian rohani untuk mempertanggungjawabkan segala kerja artistiknya di depan penonton.
* wayan suardika
LIVE RADIO GLOBAL
edisi 27 November 2007
Percakapan
Cok Sawitri Sastra yang Membela Perempuan tidak berarti Feminis
Bak dijerang tungku mentari, udara Ubud menjelang siang di pengujung September itu sungguh menyengat. Panas menjilat sekujur ubun-ubun. Siang itu, di Balai Banjar Ubud Kelod, di pojok selatan lapangan bola yang menjadi pusat keramaian kecamatan, keriuhan sedang berlangsung.
Tidak ada pertandingan bola di siang itu. Anak-anak berseragam SMA duduk di kursi yang disusun melingkar dengan wajah sumringah. Tawa pecah berderai-derai. Seorang perempuan, bertopi kupluk sedang beraksi. Ia duduk bersila di lantai. Di pangkuannya terbaring gendang kecil yang berbunyi nyaring saat tangan cekatan sang primadona pertunjukan menabuhnya. Anak-anak bertepuk-tangan. Tidak lama, sang primadona melantunkan puisi yang ia bacakan dengan penuh penghayatan. Intonasinya naik-turun, iramanya cepat lalu menukik tajam mendayu-dayu. Seluruh penonton tercekam mendengar alunan puisi ditingkahi suara gendang yang dipukul lambat-lambat.
Primadona itu, Cok Sawitri. Perempuan Sidemen, Karang Asem, Bali itu tengah mempertontonkan -dan mengarahkan-- bagaimana nikmatnya memadukan puisi dengan bunyi-bunyian. Gendang, tepuk tangan, bahkan suara gemericik air sekali pun bisa menjadi latar musik yang menyenangkan bagi puisi apa saja, dilantunkan dengan gaya apa saja. September itu, ia menjadi salah satu sosok penting dalam perhelatan tahunan sastra kelas dunia, Ubud Writers and Readers Festival. Di hampir merata acara, Mbok Cok -begitu kawan-kawan karibnya memanggil-- menyita perhatian. Cara bicaranya memikat dengan irama cepat. Tidak meledak-ledak, namun tegas. Logat khas Bali menyertai kalimat yang meluncur dari bibirnya yang berwarna kelabu "karena terlampau sering tersentuh tembakau."
Teman-teman dekatnya, dari wartawan, penggiat lingkungan, hingga kelas pejabat menyebutnya sebagai sosok yang tidak pernah mati nyali. Sejak memetakan namanya di dunia seni pada awal 1990-an, perempuan kelahiran 1 September 1968 ini memang sudah menghadirkan daya pikat. Ia acap melontarkan kritik atas ketidakmandirian sastra lokal. "Selalu saja tidak percaya diri dengan tema lokal dan maunya terlihat mendunia," katanya pada banyak kesempatan.
Kesetiaannya pada kelokalan juga tampak pada sikapnya yang bertahan tidak mau berbahasa Inggris saat tampil sebagai pembicara pada sesi berbahasa Inggris di festival Ubud. "Saya bukannya tidak bisa berbahasa Inggris, tapi saya menghargai bahasa leluhur," katanya. Penggagas Forum Perempuan Mitra Kasih Bali dan kelompok Tulis Ngayah ini juga mengritik tajam cara pandang yang bias dan klise terhadap perempuan dalam banyak karya sastra. "Kalau tidak jadi korban, ya diperlakukan sebagai makluk lemah yang harus dilindungi," katanya. Dalam workshop puisi siang itu, Cok bahkan sempat mengritik anak SMA yang membikin puisi dengan tema ibu, mama, dan bunda. "Kenapa tidak ada yang membuat puisi sanjungan pada bapak, misalnya," kata Cok. (Tawa, seperti biasa, meledak lagi di ujung komentarnya).
Bergiat dalam seni teater dan berkali-kali berkolaborasi dengan sejumlah seniman nasional dan internasional, tema yang diusung Cok sarat dengan perlawanan terhadap kemapanan dan pandangannya terhadap budaya dan kearifan lokal. Naskahnya sarat falsafah dan penuh muatan perenungan. Tidak heran karena Cok adalah salah satu penasihat The Parahyang untuk Majelis Desa Pekraman, semacam desa adat, di kampung halamannya Sidemen.
Perlawanannya itu juga tampak dari sikapnya menentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang disebutnya menyamaratakan persoalan di tempat yang berbeda sama sekali. Ia juga menunjukkan perlawanan atas pemahaman massal turun-temurun terhadap peristiwa sejarah. Itu tampak dalam sikap pembelaannya atas Calon Arang -tidak sekali pun ia bersedia menyebut nama itu karena ia lebih suka menyebutnya Rangda ing Jirah-- tokoh dalam cerita sejarah yang diyakini orang sebagai tukang tenung. Itu tampak pada sejumlah karyanya, puisi dan naskah teater, antara lain Namaku Dirah, Aku Ingin Melihat Maut (1996), Pembelaan Dirah dan puisi Ni Garu (1996) dan novel Janda dari Jirah (Juni 2007). Karya yang terakhir disebut ini kemudian masuk dalam daftar panjang penghargaan sastra nasional bergengsi Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2007. Karena keteguhannya "meluruskan" kekeliruan akibat mitos itu, Cok rela "repot" menjelaskan latar belakang "keyakinannya" itu, bahkan meladeni gugatan banyak orang atas ketidaksahihan penelitiannya.
Di sela-sela kesibukannya menjadi pembicara dan melayani obrolan para penulis asing di festival itu, Cok menerima Angela Dewi dari Ruang Baca. Percakapan berlangsung di media center festival Ubud di Indus Restaurant yang asri di Senggingan, Ubud. Dalam suasana yang penuh derai tawa dan dikelilingi teman-temannya yang melontarkan celetukan, yang disebut Cok "melanggar sopan-santun dan kepatutan," perempuan berambut hampir menyentuh pinggang ini mengobrol panjang tentang banyak hal. Proses kreatif karya-karyanya, perlawanannya terhadap kemapanan dan simbol-simbol gender, dan ketidaksepakatannya atas julukan "feminis" yang diarahkan orang padanya. Ini disambung dengan percakapan pendek yang berlangsung lewat telepon beberapa pekan silam, setelah namanya diumumkan dalam daftar panjang KLA tahun ini. Berikut petikannya:
Mbok Cok, selamat. Novel Anda Janda dari Jirah masuk daftar panjang Khatulistiwa Literary Award. Apakah ini berarti suara dan pandangan Anda yang membalikkan anggapan dan keyakinan turun-temurun tentang Calon Arang akan makin didengarkan?
Pertama, terima kasih. Saya juga agak terpesona dengan pengumuman itu. Kedua, saya tidak mau menyebutnya sebagai pengakuan, tapi paling tidak usaha saya untuk menelusuri kebenaran sejarah makin terlihat jalannya. Paling tidak, akan makin banyak yang akan membacanya. Oh ya, satu hal, saya tidak mau menyebutnya sebagai Calon Arang, sebagaimana kebiasaan masyarakat kita menggelarinya. Perempuan itu janda dari Jirah. Rangda ing Jirah.
Mengapa Anda memilih Calon Arang?
Awalnya ketertarikan pada kisah sejarah karena sejak kecil saya selalu didongengi keluarga tentang silsilah, kisah asal turunan. Dan itu selalu dengan pesan khusuk,"urutan silsilah harus selalu dijaga sebagai ingatan". Seperti biasa, awalan sejarah keluarga akan memperdengarkan asal muasal keturunan: ...tersebutlah Dang Hyang Bajrasatwa berputra seorang bernama Dyang Hyang Tanuhun. Beliau menganut ajaran Budha, menurunkan Mpu Barada, yang menurunkan Bahula dan kemudian menikahi Ratna Manggali, putri Rangda in Jirah di Medang Wastra. Pasangan ini kemudian melahirkan putra tunggal di Lemah Tulis bernama Tantular atau Dang Hyang Angsokanata. Dialah yang kemudian menggubah Sutasoma. Itu sejarah yang sudah diyakini turun-temurun. Saya tertarik pada tokoh Calon Arang, ibunda Ratna Manggali ini. Jauh sebelumnya saya sudah biasa menonton pertunjukan Calon Arang, berupa drama atau wayang. Bagi saya selalu menyenangkan dan menimbulkan pertanyaan mendalam karena tokoh yang dihujat dan diserbu dengan keris di panggung, sementara di balik panggung dia berbentuk topeng rangda yang dipuja sebagai btari yang disambut dengan rasa takut dan hormat. Saya kemudian mencari jawaban pada banyak orang tua.
(Menurut Cok dalam keterangannya pada diskusi Janda dari Jirah di Jakarta pada awal September silam, para orang tua tempatnya bertanya menuturkan kisah berkisah. Ia kemudian paham dan kian tertarik karena banyak nama yang ia kenal lewat pelajaran sejarah. Ia belakangan tahu dan kian tertarik karena ternyata Airlangga adalah putra raja Bali. Cok kemudian mendalami banyak buku sejarah. Yang dekat dengan pembaca adalah karya Slamet Muljana, Sejarah Nasional karya Tim pemerintah Indonesia dan tulisan sejarah Muhamad Yamin. Yang paling penting adalah catatan keluarga mengenai sejarah lama).
Bagaimana Anda bisa sampai pada kesimpulan bahwa gambaran turun-temurun tentang Rangda ing Jirah itu salah?
Saya melihat bagaimana Rangda ing Jirah ini menjadi mitos yang dipelihara turun-temurun. Siapa dia sebenarnya, apakah sedemikian gelap padahal dia menurunkan banyak keturunan yang sangat menentukan dari Singosari sampai Majapahit, bahkan sampai Bali. Artinya Rangda ing Jirah bukan mitos. Dia ibu Ratna Manggali: ibu, nenek buyut para mpu. Bagaimana mungkin seorang yang sakti dan memiliki kewibawaan seorang btari bisa digambarkan sebagai tukang sihir dan harus dibunuh?
Banyak yang memandang keyakinan Anda itu tidak berdasar.
Saya hanya berusaha membongkar mitos, pengaburan fakta yang dibungkus simbol, mitologi, dongeng, karangan. Tidak cuma Rangda ing Jirah, Durga, sang dewi kebajikan dan Dewi Kalika si penguasa kuburan juga diselubungi pengaburan. Padahal, mereka kuat berhubungan dengan tradisi pengobatan di Bali dan sebagainya.
Dalam suatu kesempatan Anda pernah menyebut fakta banyak ditentukan oleh siapa yang berkuasa.
Ya, itu berlaku pada banyak raja-raja yang berkuasa. Maaf jika pada akhirnya kekuasaan yang sangat maskulin kemudian menemukan bahwa para pahlawan itu sebenarnya adalah perempuan. Mereka hendak mengaburkan bahwa kenyataannya oh, pahlawan kita seorang btari. Itu yang ingin saya sampaikan.
Kedengarannya seperti feminis...
(Cok tertawa keras... Ia memandang ke arah sejumlah penggiat lingkungan yang duduk nimbrung di dekat kami mengobrol. Katanya,"Coba, aku dibilang feminis"). Saya tidak suka disebut feminis. Sastra yang membela perempuan itu tidak berarti feminis. Ini hanya pelurusan saja. Upaya menyingkap pengaburan yang terjadi ratusan tahun lamanya.
Sebenarnya bagaimana Anda memandang perempuan dalam sastra dan dalam budaya Bali?
Terus-terang saja, perempuan Bali itu dahsyat sekali. (Cok lagi-lagi tertawa keras). Mereka dituntut untuk memainkan banyak peran. Sebagai orang yang dihormati, sebagai pengayom, sebagai pelindung, sebagai pekerja, sebagai bawahan. Anda bisa bayangkan, di Bali hanya seorang ibu yang boleh mengumpat. Demikian berharganya seorang perempuan. Ibu itu penting sekali bagi kami, karena pura yang paling ditakuti disebut Paibon, nama Ibu. Dan di Bali ini sangat gender spiritual, dengan Syiwa Budhanya, karena dalam konteks Syiwa Budha ini yang paling dekat dengan kita, itu ada namanya tahap ardana prameswara, di mana Tuhan itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. Dan ardana prameswara ini dalam konteks taksu yang berkaitan dengan kesenian itu dialah penari kosmis yang selalu bekerja. Oleh karena itu laku seorang seniman itu adalah meniru sang pekerja kosmik itu. Jadi sebetulnya masyarakat Bali itu dia otomatis akan selalu mengekspresikan dirinya seperti yang diajarkan itu.
Sikap Anda menggambarkan bagaimana kuatnya budaya Bali, meski sudah demikian terpapar pada dunia luar...
Indonesia itu kan baru umurnya 60 tahun. Bali itu punya sistem yang sudah teruji 1000 tahun, yang namanya tri kayangan; Ada pariyangan, daerah suci dan pawongan untuk masyarakatnya, kemudian palemahan, tempat yang dianggap tidak suci. Kemudian dalam konteks hubungan ketatanegaraan atau wilayahnya disebut desa kalapatra. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat Bali. Dan konsepnya itu di Bali itu sangat menghargai perbedaan satu desa dengan yang lain. Ini yang menyebabkan Bali sangat kuat. Dan hubungannya dengan pariwisata Bali itu sudah mulai dari (tahun) 920 (Masehi). Sebetulnya di Bali terus terjadi dialog, di Bali pun kritis terhadap perkembangan pariwisata yang terus-menerus terjadi, tidak seperti yang dibayangkan. Jadi di Bali sebetulnya terus terjadi itu (dialog) dan mencari solusi itu.
Itu juga yang membuat Anda gigih menentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi?
Saya melihatnya begini, di sinilah kearifan kita akan keragaman diuji. Di Bali, kami tidak mencampur-adukkan kepentingan karena kami mengenal batas-batas wilayah itu tadi. Buktinya, selama ratusan tahun perempuan Bali berbusana tanpa penutup atas, mengapa baru sekarang orang sibuk bicara tentang perlindungan untuk mencegah perkosaan? Sekali lagi, saya melihat begini, marilah masyarakat kita yang sakit dan sistem yang keliru ini kita benahi. Saya setuju jika persoalannya mengarah pada bagaimana meminimalisir dampak kekerasan dan seks bebas. Tapi, itu tadi, perempuan tidak layak melulu disalahkan. (Cok mengisap rokoknya, mengembuskan asapnya, lalu mengucapkan kata, "Maaf...")
Ini soal kritik Anda tentang keengganan penulis kita mengangkat tema lokal.
Ya, mungkin naluri dijajah feodalisme masih berkuasa. Bahwa sesuatu yang berbau asing itu pasti lebih baik dari tema lokal. Padahal, jika digali kembali, semuanya tidak akan habis. Saya sendiri terus mencari dan menggali sumber-sumber yang saya tekuni bertahun-tahun lamanya.
Cok Sawitri: Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga 26/06/2006 RUU APP yang telah mengalami revisi menurut rencana akan disahkan bulan Juni ini. Salah satu yang bersuara lantang menolak pengesahan RUU itu adalah Komponen Rakyat Bali (KRB), yang bahkan sempat mengancam akan keluar dari NKRI. Berikut perbincangan Nong Darol Mahmada dan M. Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Cok Sawitri, seniman yang menjadi salah satu penggerak KRB, pada 15 Juni 2006 yang lalu. artikel baru 10/01/2008 Novriantoni Hijrah Demi Kebebasan 09/01/2008 Serahkan Soal Sempalan ke Mekanisme Free Market of Ideas! 09/01/2008 Anis Masduki Dakwah Versus Penyesatan 07/01/2008 Ulil Abshar-Abdalla Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam 07/01/2008 Abd Moqsith Ghazali Menyambut Idul Qurban 1428 H. artikel sebelumnya 26/06/2006 M. Guntur Romli Islamphobia, Xenophobia, dan Milad Hanna 26/06/2006 Muhammad Nugroho Hibriditas Filsafat Islam 22/06/2006 Holid Mawardi Masyarakat Tahu Mana yang Baik dan Tidak 19/06/2006 MUI Mestinya Diswastanisasi 19/06/2006 Hamid Basyaib Cahaya Harold Bloom RUU APP yang telah mengalami revisi menurut rencana akan disahkan bulan Juni ini. Salah satu yang bersuara lantang menolak pengesahan RUU itu adalah Komponen Rakyat Bali (KRB), yang bahkan sempat mengancam akan keluar dari NKRI. Berikut perbincangan Nong Darol Mahmada dan M. Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Cok Sawitri, seniman yang menjadi salah satu penggerak KRB, pada 15 Juni 2006 yang lalu. JIL: Mbak Cok Sawitri, bagaimana kondisi sekarang ini di masyarakat Bali setelah pro-kontra RUU APP? COK SAWITRI: Kondisi di Bali baik, jadi kalau akhir pekan mau liburan silakan. Semua bentuk penyikapan kami adalah dalam proses aksi budaya. Kami tidak punya tradisi kontroversi, tapi selalu dengan jenana, berdasarkan dialog yang panjang antara orang tua dan komponen masyarakat. Sampai sekarang sikap masyarakat Bali masih menolak total terhadap draf RUU APP, yang direvisi sekalipun. Yang kami sebut komponen rakyat Bali adalah forum cair yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dan tidak berstruktur, sekalipun ada tim intinya. Aksi budaya ini sebenarnya adalah sebuah penyadaran bahwa dalam demokrasi itu--masyarakat Bali dididik dalam rwa bhinida namanya-- yang hitam itu belum tentu hitam benar, yang putih itu belum tentu putih benar, pasti ada abu-abu dsb. Tidak harus marah ketika ada perbedaan pendapat, tidak harus berprasangka, harus didialogkan. Sebenarnya masyarakat Indonesia belum paham masyarakat Bali itu seperti apa, karena kan yang dikenal daerah obyek wisata, masyarakatnya ramah, suka nari, suka senyum dsb. Kami kan berdasarkan Syiwa Budha yang kemudian disebut Hindu Bali itu, kemudian Prof. Mandre yang memberikan nama Hindu Darma. Sebenarnya Hindu di Bali berdasarkan konsep Syiwa Budha itu. Di situ jelas sekali toleransinya pun berbeda. Kalau dalam konsep toleransi Barat misalnya kalau kamu mau dikasih 4 kamu akan kasih 4. Tapi kalau orang Bali itu ngasih 4 bisa nggak dapat apa-apa, yang penting untuk kepentingan. Makanya orang Bali itu terkenal malas ngomong, penurut, apa saja program dari pusat Bali pasti nomer satu. Posyandu, Adipura, macam-macam.. Jadi selalu ada proses dialog. Dan kami menyadari pasti ada rwa bhinida. Bali punya konsep demokrasi lokal yang bagus, yang disebut dengan desa kala patra. Desa itu wilayah, kala itu waktu dan patra itu cara pandang. Nah, di cara pandang ini seorang sarjana pasti berbeda bicaranya dengan seseorang yang pengalamannya tidak dalam pendidikan akademik. Atau dia seorang petani akan beda kepentingannya. Di situ yang harus didialogkan dan mayoritas itu bukan kebenaran. Di situ akan ada selalu patra keputusan tafsir bersama, kebijakan, himbauan dsb, belum tentu bagus berlaku di daerah lain di Bali. Bali itu terdiri dari 9 kabupaten dengan 3400 desa adat. JIL: Itu berarti dari bawah ke atas prosesnya itu? Ya, sama dengan penolakan terhadap RUU APP, inisiatifnya selalu dari masyarakat dan tidak dalam bentuk hura-hura atau polemik dulu. Kami duduk bersama dulu, ada diskusi panjang, mempelajarinya, bahkan mengundang ahli. JIL: Apa alasan utama penolakan itu? Kami menolak karena sosial religius, spirit yang berbeda. Karena kalau diperhatikan dengan serius, draf RUU APP itu paradoks sekali dan akan menjebak ketika pelaksanaannya. Kalaupun diperbaiki, ia memerlukan kajian akademis yang serius dan itu memerlukan waktu. Dan dari segi hukum, bukankah kita punya KUHP UU Pokok Pers, Dewan Pers, dan kita tahu ada konsekuensi ketika kita bicara pornografi? Tentang pornoaksi yang saya rasa secara leksikal kata baru, dan perlu definisi. Sebuah definisi itu bukan hanya mengartikan pemikiran kita aja, tapi perlu kajian yang panjang juga. Dan kita tahu secara sejarah pun pornografi selalu mengalami kontroversi. Tidak bisa juga dikatakan bahwa Bali kemudian pro-pornografi, tidak seperti itu. Karena di dalam draf RUU APP itu kan justru mengizinkan secara legal meskipun dengan alasan pendidikan dan kesehatan. Ada pasal yang justru mengizinkan pemerintah menunjuk badan tertentu. JIL: Masyarakat Bali memiliki tarian yang dinilai sangat erotis. Mungkin Anda bisa menjelaskan posisi tarian-tarian yang seperti itu? Jangan melihat dulu ke Bali. Kalau Anda tahu, tari Asia secara umum memang berbeda pakemnya dengan tari Eropa. Pada dasarnya dari Sabang sampai Merauke, dasar dari komposisi gerak kita adalah berpijak di kaki dan mengembangkan tangan, hanya Bali punya kelebihan di gerak mata. Begitu konsekuensi berpijak di kaki badan bergerak, tangan berkembang itu pasti bergoyang. Erotika dalam tari itu yang mana? Nah, katakan tari srimpi, barisan itu bahkan dari gerakan pencak silat misalnya, karena itu konsekuensi berpijak tangan bergoyang mengembangkan tangan itu. Nah, kalau misalnya berbicara tentang porno pasti beda. Porno dalam pengertiannya itu kan eksplorasi dalam konteks pelacuran, ini saya ambil dari leksikologi yang berlaku. Erotika itu kan sebetulnya yang negatif, karena kalau di dalam dunia lukis, dunia seni erotika kadang-kadang menjadi poses pencarian dari teman-teman seniman, bukan untuk mengundang birahi. Erotika dalam pengertian yang lain itu mungkin bisa diartikan sebagai yang mengundang birahi. Kita harus terbuka kalau ada yang mengartikan seperti itu, karena tidak ada kesepakatan untuk itu. Persoalannya kan kita itu mempersoalkan sebuah tubuh, kapan tubuh ini menjadi perangsang dan kapan tidak. Nah, ketika dia dalam aktivitas yang berkaitan dengan obyek seni, menjadi aneh karena bahasa erotika dalam bahasa seni beda. Ini yang sebetulnya menurut saya memerlukan penjelasan, karena mohon maaf saja di Bali dari pagi hingga malam berkesenian. Dan peristiwa tari itu tidak hanya di gedung tarian tapi juga di halaman rumah, di gedung dsb. Semua ekspresi kami itu kesenian, jadi kalau misalnya nanti tanpa suatu pengertian yang dalam proses kreatif seni, tanpa mengerti bagaimana dunia tari, bagaimana mengerti dunia lukis dsb. Yang menjadi dasar pengertian masyarakat Bali, RUU APP ini bukan menghalangi proses kesenian sebetulnya, tetapi proses kreatif. Dan tentu saja itu ada ruang bhinida ya, ada yang gila-gilaan, ada yang eksentrik dsb, tapi itu kasuistis. Tapi pada umumnya kreativitas pasti memerlukan jiwa merdeka itu, kemerdekaan berpikir, kemerdekaan rasa dsb. Bukan tanpa batas, tapi pasti memerlukan jenana. JIL: Indonesia punya banyak tarian. Ada Jaipongan, Tokek, dsb. Sementara Pemda menghidupkan supaya budaya itu tidak lenyap, tapi satu sisi itu mau dimusnahkan karena dianggap porno. Apa pandangan Anda? Kami menolak RUU APP dengan sebuah kesadaran sejarah. Kita bisa punah ketika kebudayaan kita hilang. Prof Bandem bersama Wayan Juniata dan Marlo sempat melakukan riset soal itu. Karena itu sungguh benar apa yang dibilang: kita jangan main-main untuk penghilangan kebudayaan-kebudayaan, ekspresi-ekspresi masyarakat. Bagi kami, moralitas itu kan sebetulnya kesepakatan sosial. Moralitas itu nggak bisa disamain dari satu daerah ke daerah yang lain. Kalau di Bali hanya ibu saja lho yang boleh memaki anaknya, yang paling kasar. Kalau orang lain itu akan menjadi komunal dan marah, dia siapa? Sekalipun pemerintah itu nggak boleh, ini saya memakai perspektif orang Bali. JIL: Bagaimana Bali melihat perempuan? Ibu itu penting sekali bagi kami, karena pura yang paling ditakuti disebut Paibon, nama Ibu. Dan di Bali ini sangat gender spiritual, dengan Syiwa Budhanya, karena dalam konteks Syiwa Budha ini yang paling dekat dengan kita, itu ada namanya tahap ardana prameswara, di mana Tuhan itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. Dan ardana prameswara ini dalam konteks taksu yang berkaitan dengan kesenian itu dialah penari kosmis yang selalu bekerja. Oleh karena itu laku seorang seniman itu adalah meniru sang pekerja kosmik itu. Jadi sebetulnya masyarakat Bali itu dia otomatis akan selalu mengekspresikan dirinya seperti yang diajarkan itu. JIL: Jika dilihat sejarah, Islam bisa berkembang justru karena tingginya toleransi orang Hindu saat itu. Kita mengenal Bhinneka Tunggal Ika. Bagimana Anda melihatnya? Dalam tradisi Bali memang kita diajarkan untuk selalu ingat sejarah, bahkan sampai silsilah keluarga. Hampir semua keluarga Indonesia punya silsilah, dan sangat sadar bahwa misalnya zaman Sriwijaya itu sesungguhnya demokrasi dan toleransi itu ada, karena rajanya itu setengah pendeta. Tidak terbukti dalam catatan sejarah itu ada daerah-daerah yang berupeti. Karena itu ketika membicarakan Bhinneka Tunggal Ika, justru masyarakat Bali mengkajinya dengan serius, dalam segi sastra, segi kesejarahan dan sebagainya. Ketika kita bicara Pancasila, diskusi juga terus berlangsung di mana-mana. Bhinneka Tunggal Ika adalah prestasi kultural Indonesia. JIL: Apakah tidak ada istilah syiar di Hindu? Kami punya dharma wacana, tetapi itu tidak untuk mencari penganut baru. Hindu itu saking bebasnya, setiap daerah itu pasti mengekspresikan kebudayaan lokalnya. Hindu Bali itu pasti beda dengan Hindu India. Nah, meskipun kami punya misalnya 3000 ayat Weda, tapi dibagi dua kolomnya itu ada darma sastra, ada arta sastra. Terus ada empat lagi, ada yajur, ada arta ruwa, ada sama. Ada bagawat gita yang menjadi bacaan anak muda, kemudian ada bacaan untuk calon pendeta, saras musaya. Nah, kami tidak punya budaya syiar seperti itu, yang diajarkan itu prinsipnya begini; bahwa manusia itu, siapapun dia, seburuk apapun dia, bisa jadi dia saudaramu yang dulu, tapi dia lahir di keluarga yang lain. Jadi kita nggak mungkin memusuhi seseorang biarpun dia beragama lain. Jangan-jangan itu sepupu jauh kita. Karena kalau diusut-usut secara silsilah ternyata bangsa Indonesia ini sepupu jauh, sepupu dekat, karena ada perkawinan antara Kalimantan, Sumatera, dll ujung-ujungnya gennya sama semua. JIL: Kita masih melihat tradisi di Bali masih begitu kuat, meskipun ia adalah pulau turis. Bagaiman Bali menyikapi “orang luar”? Indonesia itu kan baru umurnya 60 tahun. Bali itu punya sistem yang sudah teruji 1000 tahun, yang namanya tri kayangan; Ada pariyangan, daerah suci dan pawongan untuk masyarakatnya, kemudian palemahan, tempat yang dianggap tidak suci. Kemudian dalam konteks hubungan ketatanegaraan atau wilayahnya disebut desa kalapatra. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat Bali. Dan konsepnya itu di Bali itu sangat menghargai perbedaan satu desa dengan yang lain. Ini yang menyebabkan Bali sangat kuat. Dan hubungannya dengan pariwisata Bali itu sudah mulai dari 920. Sebetulnya di Bali terus terjadi dialog, di Bali pun kritis terhadap perkembangan pariwisata ysng terus-menerus terjadi, tidak seperti yang dibayangkan. Jadi di Bali sebetulnya terus terjadi itu dialog dan mencari solusi itu. Karena kalau cuma pro-kontra tanpa solusi kan susah. Sama seperti tolak RUU APP ini. anggota DPR kita sekarang ini kan diam, padahal bulan Juni secara teknis tidak mungkin. Dia harus jujur bahwa bulan Juli dia reses dan Agustus dia akan melakukan kerjaan baru. Padahal seharusnya dia melakukan sesuatu yang lebih bagus untuk bangsa ini. Jadi pansus itu harus mulai jujur terutama kepada pendukungnya supaya jangan dipakai oleh masyarakat lagi untuk saling curiga mencurigai, karena dia tidak bisa menjawab apa yang dia janjikan kepada pendukungnya. Indonesia saat ini punya pekerjaan yang besar, tapi yang paling penting adalah proses kemanusiaan kita. Saya rasa kita risau ya soal toleransi, hubungan kita dengan satu sama lain. Kita harus percaya tak seorang pun dapat mengkapling surga, dengan paspor kemunafikan dsb, harus memberantas ini atau itu. Karena pelacur juga keyakinan sendiri, preman pun punya keyakinan sendiri dsb, dan kita nggak tahu yang terjadi nantinya. Jangan mendahuluilah. Karena itu sesungguhnya Indonesia saat ini seharusnya mulai digagas, tapi jangan lagi tafsirnya dari pusat. Kan sekarang mulai Bhineka Thunggal Ika ditafsir-tafsir gini, kenapa nggak kita duduk bersama-sama kita rebut penafsiran Bhineka Thunggal Ika, rebut penafsiran Pancasila di tangan rakyat. Sodorkan kepada pemerintah, dan kita berpegang pada konstitusi dasar. Dan kita harus kritis kepada DPR kita. Bila perlu kita harus menyadari betul dampak dari demokrasi dan otonomi ini memang akan menghilangkan figur pemimpin yang berpengaruh untuk semuanya. Ini akan menuju proses yang panjang, karena itu bagi komponen rakyat Bali itu sangat berharap bahwa format kebangsaan ini harus diselesaikan, dan setiap daerah harus siap berbeda pendapat. Jangan kemudian karena ini ingin syariat dsb, kemudian semuanya jadi berprasangka. Yang paling penting adalah terjadi dialog. Dan kita harus ingat Indonesia terbentuk karena kontrak sosial. Kita berdiri karena hasil dari kesepakatan dan dialog. Jadi kalaupun nanti tidak terjadi kontrak sosial yang baru, itu karena semua merasa semua bagus-bagus karena otonomi daerah. Kalaupun berpisah harus berpisah dengan baik, tetap bertetangga dengan menjaga kemanusiaan. JIL: Kalau misalnya pansus DPR itu tetap mengesahkan RUU ini menjadi UU, bagaimana dengan Bali? Bali tentu akan memakai etika hukum, karena secara etika hukum, yang paling lucu itu kan RUU ini memberi pengecualian. Lex generalis diberlakukan dalam Lex specialis, itu kan aneh.. JIL: Salah satu alasan kuat pendukung RUU APP adalah data peningkatan pemerkosaan; 1 dari 6 wanita di Indonesia sudah diperkosa. Efektifkah RUU ini menangkal pemerkosaan? Saya rasa RUU APP ini tidak akan efektif untuk menahan laju pemerkosaan, dan saya rasa penelitian itu belum tentu dibuktikan, karena RUU APP tanpa kajian akademik. Dan kita tahu itu bisa bohong. Buat saya persoalannya bukan hanya pada titik perempuannya. Ada tiga hal yang akan menjadi korban RUU ini; hak asasi ekonomi, hak asasi proses kreatif, dan hak asasi sosial. Tetapi saya sangat setuju bahwa kita semua risau tentang moralitas di negara kita yang korup ini. Itu yang sebetulnya harus bersama-sama kita dorong kepada elite-elite negeri ini. [] ^ Kembali ke atas Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1074tanggapan artikel Berdemokrasilah..., Bubu Tutan Tisum, 14/07/2006 12:07 SURGA memang Bukan untuk di KAPLING, Kristianto Hidajatur Rochman, 30/06/2006 07:06 Tanggapan lainnya buka di sini (2).
''Badan Bahagia'' yang Tawarkan Kesenyapan ''Pirengang je, puniki satwa indik sang Betari, istri sakti mautama, nyalantare tan wenten nyame pade, angge kewangen ring kayun, mangde dados umpan kuren, dumadak ngendih dados pengapian tanek ayunanane, mengayun kaelingan saking dija rauhe iraga sinamian I meme, mule gumi pengawak ngawit jati puniki satwa sane katandur ring karang manah, nanging sekadi sampun-sampun, ide sang Betari tan kasurat ring sang pengawi...''
POTONGAN syair yang kemudian dilagu tersebut digunakan mengiringi pentas bertajuk "Badan Bahagia" yang ditampilkan pada Sabtu (16/10) lalu di Bali Purnati, Batuan, Gianyar dalam rangka "Ubud Writers & Readers Festival". "Badan Bahagia" merupakan petikan "Wisuda Gumi", episode pertama dari empat episode pementasan penuh naskah "Pembelaan Dirah" yang ditulis Cok Sawitri sejak 1990 hingga sekarang. Puisi "Pembelaan Dirah" mulai dibacakan Cok di depan publik sejak 1992. Pementasan "Pembelaan Dirah" berjudul asli "Apologia Sepotong Kain" yang tahun 1996 hingga 2000 pernah ditampilkan Cok bersama Kelompok Tulus Ngayah, sesungguhnya episode "Kawean" -- bagian kedua. Kecuali episode "Kawean" yang ditulis dalam bentuk naskah teater modern, seluruh naskah ini sendiri berbentuk puisi yang kemudian bisa dinyanyikan, dipentaskan dalam bentuk dance theater secara utuh atau per fragmen.
Dalam konteks ini, naskah "Pembelaan Dirah" mengisahkan Rangda Ing Dirah -- pemimpin padepokan, seorang pendeta perempuan yang berkeyakinan akan jalan Budha, jalan kesadaran, yang percaya akan badan bahagia sebagai pewarta agar manusia memilih jalan kebajikan. "Badan Bahagia" ini menandai pula dimulainya perjalanan jiwa Rangda Ing Dirah.
Apa yang dipentaskan malam itu oleh Kelompok Tulus Ngayah yang dikenal multikultur dan multietnis itu, tidak hanya mengajak penonton bergabung dalam suasana meditatif, tapi juga perenungan. Tanpa terasa durasi 57 menit berlalu dan para penonton tidak juga beranjak hingga pertunjukan selesai. Padahal musik yang dipilih adalah musik minimalis, sangat kuat ingin menghadirkan kesenyapan, yakni suling gambuh, gumanak dan kangsi.
Terlebih masuknya tembang "Saptashi Durga" -- pada awal tulisan ini -- dinyanyikan dengan irama hening. Seakan membuktikan bahwa pentas yang memang tidak berpihak pada sensasi bunyi dan gerakan ini tetap memiliki daya pikat pada penonton untuk masuk ke dalam ruang dialog baru dengan simbol-simbol yang ingin disampaikan. Pentas yang ditampilkan malam itu diawali dengan prosesi pemasangan tapel oleh Cok Sawitri dan Dayu Ani (dari Bajra Sandhi), yang kemudian memberi penghormatan dengan menuliskan huruf suci di udara. Suasana meditatif memang terasa dihadirkan sejak awal, apalagi dengan dukungan penataan lampu yang memberi kesan magis. Penata lighting Elvis Parluxtond dan Dedi Dwiyanto berhasil membawa atmosfer fajar dan petang yang menguatkan makna dari ritus yang ingin disampaikan pentas itu, yakni tentang kekuatan feminin yang religius. Lembut, namun bertenaga.
etelah itu, "Badan Bahagia" dialirkan di panggung dengan gerakan penghormatan kepada bumi dengan gerakan mencium bumi. Berlanjut dengan prosesi menyibak ilalang. Suatu pilihan gerak dan komposisi yang sangat jarang digunakan oleh koreografer pada umumnya di Bali. Apalagi dengan adanya gerakan menulis huruf suci di udara yang dilakukan para penari ke seluruh empat penjuru mata angin. Maka, "Badan Bahagia" memberikan tidak saja penawaran komposisi baru, tetapi sebuah tematik baru koreografi tarian yang sesungguhnya tetap berakar pada tari Rejang Dewa dan Sanghyang.
Di pertengahan ritus "Badan Bahagia" tersebut, Cok Sawitri melengkapi ritus penulisan huruf suci itu dan menjadi titik berat yang tidak hanya melengkapi gerakan meditatif para penari, tapi juga memberi aksen estetika yang benar dan indah. Dalam penjelasan di akhir pertunjukan, Cok Sawitri bersama Kelompok Tulus Ngayah-nya bermaksud mengeksplorasi total naskah ini hingga episode ketiga dan keempat -- "Namaku Dirah" dan "Jalan Maya" -- hingga tahun 2005. Cok mengharapkan, dipentaskannya "Badan Bahagia" ini menandakan pula mulainya proses pemanggungan "Pembelaan Dirah". Ini juga dimaksudkan untuk memasuki proses pematangan terus-menerus dan tidak sekadar ditawarkan sebagai tontonan.
***
Lebih jauh dijelaskan bahwa rasa hormat Cok pada keyakinan Ciwa Budha dan pada Rangda Ing Dirah, perempuan yang secara sistematis digelapkan dalam kisah Calonarang -- sebuah kisah yang menjadi dasar ruwatan dalam tradisi seni pertunjukan Bali -- menjadi dorongan yang melatarbelakangi proses ini. Tidak terbatas pada isu "pembelaan Dirah" atau upaya pemanggungan sebuah naskah hingga mencapai titik pencapaian estetika pertunjukkan, Cok dalam karyanya lebih jauh ingin memberikan ruang pemikiran dan perenungan spiritual hingga dapat menjadi sebuah ziarah karya.
Karena, biasanya konflik agama, kekuasaan, dan kepentingan sempit yang ditafsirkan ke dalam seni pertunjukan sering tidak memberikan ruang perenungan bagi penonton. Tanpa sadar seni pertunjukan menutup celah apresiasi dan fungsi media seni pertunjukan itu sendiri akibat membawa kisah dalam cara pandang hitam-putih. Sebaliknya, Cok Sawitri berharap karyanya akan menginspirasi pelaku seni pertunjukan maupun penonton untuk menciptakan ruang-ruang baru pencarian dalam dunia seni pertunjukan maupun tergugah untuk melakukan eksplorasi interpretasi teks yang lebih jauh dan lebih mendalam, sehingga seni pertunjukan menjadi ruang yang membuka dialog yang melegakan semua pihak.
Proses ini akan terus dilanjutkan hingga tahap pemanggungan keseluruhan adegan "Pembelaan Dirah". Sesuai nama kelompoknya, Tulus Ngayah bertekad membukakan hati kepada siapa saja yang ingin berproses bersama. "Dalam proses ini, saya tidak meninggalkan tradisi, juga tidak kembali kepada tradisi," jelas Cok Sawitri saat ditanya mengenai citra karya-karyanya yang selalu sarat dengan eksplorasi dan interpretasi teks yang memang jarang dikenal dalam tradisi seni pertunjukan di Bali. * yulia e. sudjatmiko .balipost.
Rabu, 2007 Oktober 10 Legong di Tengah Pergeseran
Tari legong punya riwayat nan panjang. Bermula dari Desa Ketewel, legong kemudian berkembang menurut gaya-gaya yang diolah para empu tari di pelbagai desa kawasan Pulau Dewata. Legong topeng diperkirakan menjadi cikal bakal tarian ini. Meski ada pergeseran, tari legong diyakini akan tetap lestari.
Alunan nada bersemangat seperangkat gamelan yang dimainkan Sekaa Semara Pegulingan Gunung Jati menyapa para tamu di Balerung Stage. Di panggung pertunjukkan sempit di Desa Peliatan, Ubud, Bali, itu sesosok penari tiba-tiba muncul dari balik tirai yang membalut sepasang candi bentar. Gerakannya lincah, tegas, tapi tetap gemulai. Khas gerakan penari legong keraton. Tak lama kemudian, dua penari lainnya muncul dari balik tirai, menggantikan penari pertama di atas panggung. Kostumnya sama. Aksesorisnya pun tak jauh beda. Keduanya bergerak kompak, bak sesosok penari dengan bayangannya. Tangan-tangan lentik para penari membawa mata penonton untuk terus mengikuti gerakannya. Lirik matanya lincah, membuat penonton enggan berkedip. Entakan tegas kaki para penari bagai angin puting beliung, membius penonton di ruang pertunjukkan. Konon, gemulai gerakan kedua penari menggambarkan sosok bidadari dari kahyangan. Di tengah tarian, keduanya tiba-tiba berganti peran. Dua tokoh bidadari kini berganti peran menjadi dua sosok ksatria kera: Subali dan Sugriwa. Dua ksatria kera gagah perkasa ini adalah kakak beradik yang berasa; dari Kerajaan Kiskenda. Mereka berseteru lantaran berebut tugas dari Dewa Indra untuk membunuh raksasa Mahesora. Alunan gamelan pengiring tiba-tiba mengentak. Gerak gemulai penari, berubah menjadi jauh lebih tegas. Kipas yang ada di tangan keduanya, juga ikut berubah peran menjadi senjata. Pertempuran Subali dan Sugriwa itu bukanlah ending pertunjukkan ini. Cerita kembali ke plot awal. Para penari kembali memerankan dua sosok bidadari dari khayangan. Beberapa gerak gemulai kembali diperlihatkan, sebelum penari pertama yang digambarkan sebagai sosok pembantu bidadari, menggantikan peran mereka di atas panggung. Rupanya dalam tari legong, penari pertama yang disebut penari Condong, hanya sebagai pembuka dan penutup tari. Kehadiran tokoh Condong yang menggambarkan sosok pembantu atau abdi dari dua bidadari (tokoh utama), menjadi ciri yang tak dimiliki tari bali lainnya. Pertunjukkan ditutup kembali dengan gerak lincah, tegas, dan gemulai si tokoh Condong. Penampilan Tari Legong Kuntir malam itu, benar-benar membius para tamu. “It’s wonderful,” seorang tamu asing di kursi tengah nyeletuk.
Versi Asli Gaya Peliatan Legong memang tak sekadar tarian asal Bali. Tarian ini memberi satu warna tersendiri bagi penikmatnya. Tak mengherankan, banyak sekali paket pertunjukkan tari legong yang ditawarkan dalam industri pariwisata Bali. Legong tak hanya dipentaskan sanggar pertunjukkan tradisional, melainkan juga igelar oleh kafe hingga hotel berbintang. Tarian ini kerap menjadi pertunjukkan rutin di akhir pekan. Namun pertunjukkan legong di Peliatan Ubud malam itu berbeda dari biasa. Ada sejumlah cerita legong dalam versi asli gaya Peliatan, yang bisa disaksikan langsung oleh para tamu. Disebut versi asli, karena selama ini banyak pertunjukkan tari legong tak lagi memperhatikan orisinalitasnya. Banyak sekali pengaruh modernisasi, termasuk karena permintaan pasar pariwisata, yang menggeser orisinalitas pertunjukkan legong. Mulai dari gerakan-gerakan yang nyaris distandardisasi oleh sejumlah sanggar tari yang terus menjamur di Bali, hingga lama waktu pertunjukkan yang bisa ditawar untuk menyesuaikan bujet si penyelenggara acara. Toh, para turis asing tak tahu kalau legong yang ditontonnya bukan versi asli. Begitulah umumnya prinsip banyak pemilik hotel atau kafe yang menyediakan paket tari legong di tempatnya. Maka, tak mudah mendapatkan tari legong yang benar-benar asli. Pertunjukkan legong di Peliatan malam itu disesaki pengunjung. Pertunjukkan yang digelar selama empat hari berturut-turut itu, benar-benar memanjakan penikmat seni pertunjukkan bali. Apalagi, penari yang tampil merupakan penari tua yang menyerap ilmu tari dari maestro legong, mendiang Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog—juga sudah meninggal. Dua tokoh itu adalah mahaguru tari Bali yang mengembangkan tari legong gaya Peliatan. “Pertunjukan ini kami gelar untuk mengembalikan kenangan kepada masyarakat, disertai harapan agar legong gaya Peliatan tetap dicintai dan dipelihara sebagai salah satu bentuk dalam khasanah seni pertunjukan Bali, “ ujar Anak Agung Gde Oka Dalem, penyelenggara acara. Legong gaya peliatan merupakan istilah yang digunakan untuk membedakanya dari legong dengan gaya khas daerah lain. Pasalnya, banyak daerah di Bali yang memiliki legong dengan ciri khas masing-masing.
Riwayat Tari Legong Topeng Perjalanan legong sebagai seni pertunjukkan, ternyata cukup panjang hingga membentuk gaya-gaya daerah seperti sekarang ini. Meski tak ada sumber pasti, sejumlah pengamat tari meyakini bahwa tari legong berasal dari Desa Ketewel, sebuah desa kecil di Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Menurut I Wayan Dibia, pengamat seni tari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari legong yang kini berkembang menjadi legong keraton, bermula dari sebuah tari ritual sakral di Pura Payogan Agung, sebuah pura di Desa Ketewel. Bentuk tari legong asal Desa Ketewel pun jauh berbeda dengan legong yang ada sekarang. Tari legong asal Ketewel itu biasa disebut tari legong topeng, karena penarinya wajib menggunakan topeng yang disangga dengan gigi. Berbeda dengan tari legong keraton yang kini dikenal gemulai, energik, tapi mengentak, gerakan tari legong topeng jauh dari kesan mengentak. Gerakan para penari legong topeng terkesan sangat gemulai, kalem, tanpa satupun gerakan cepat. Semua berirama teratur. “Karena lakonnya bidadari, ya menggambarkan gerakan bidadari di kahyangan,” terang Mangku Widia. Mangku Widia menambahkan, kemunculan legong topeng bermula dari seorang Ksatria di Puri Sukawati bernama I Dewa Agung Anom Karna. Ia mendapat wangsit ketika bersemadi di Pura Payogan Agung Ketewel. Sang ksatria kabarnya mendapat perintah dari Hyang Pasupati, untuk menciptakan sebuah tarian dengan karakter topeng yang telah ada. Memang, jauh sebelum Dewa Agung Anom Karna bersemadi, sejumlah topeng bidadari telah tersimpan di Pura Payogan Agung. Topeng yang berusia ratusan tahun itu diduga buatan Ki Lampor dari Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur. Lontar Raja Purana yang ditemukan di Pura Payogan Agung mengungkapkan, topeng-topeng itu dipersembahkan oleh Raja Kediri dalam tari wali di Gunung Semeru. Paska persembahan, barulah topeng-topeng itu dibawa ke Bali dan diletakkan di Pura Payogan Agung. Tak jelas, kapan topeng-topeng itu sampai di Bali. Namun diperkirakan sejak ratusan tahun lalu. Atas wangsit itu, dengan bantuan masyarakatnya, Dewa Agung Anom Karna pun mencipatakan Tari Ratu Dari. Tari yang digubah lengkap dengan tabuh semara pegulingan sebagai pengiringnya ini, diperkirakan sudah ada pada tahun 1811. Tari inilah yang dalam perjalanannya disebut sebagai legong topeng. Nama ”legong” diduga berasal dari akar kata bahasa Bali leg yang berarti gerak yang luwes dan elastis serta gong yang berarti gamelan. Maka, legong disimpulkan sebagai tarian yang luwes dan diiringi dengan seperangkat gamelan.
Berkembang di Seantero Bali Bermula dari legong topeng yang dikembangkan Anak Agung Rai Perit di Puri Paang, Sukawati, Gianyar, sejumlah pakar tari seantero Bali mulai belajar tentang seluk beluk Legong. Selanjutnya, para murid Anak Agung Rai Perit itu mengembangkan legong di daerahnya masing-masing. Tak ada satu pun sumber yang bisa memberi kepastian, kapan legong berkembang di setiap daerah. Hal ini terkait minimnya dokumentasi yang ada tentang seni pertunjukan Bali. Menurut Wayan Dibia, seni pertunjukkan di Bali adalah bagian dari tradisi lisan yang tidak didokumentasikan secara permanen. Selama ini, tidak ada cukup bukti yang menunjukkan dari mana dan ke mana bergeraknya L |
|