Takut atau tidak bisa?, ketika tiyang coba menyatukan titik titik dan garis garis hari tahun baru ( Nyepi) di Bali.Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan itu berlalu.
Kepayahan dan kebisingan menjalani kehidupan masa kini, membuat tiyang terlalu jauh dengan alam, bahkan telah memperkosanya dengan kejam. Mengendarai mobil, telephon berdering, pencemaran alam dengan plastik, makan dengan campuran kimia, pokoknya semuanya cepat dan mudah dan berlebih lebihan. Tiyang tidak pernah ingat dampak jeleknya,yang penting kesenangan sesaat terpenuhi.Alam yang sangat kesakitan dan tersingung,tidak membuat tiyang kapok menjalankan drama kehidupan.Bahkan tiyang sudah menipunya dengan manis. Memukulnya, tidak memberikan ibu pertiwi sempat bernafas. Dan berteriak teriak dengan kebisingan ditelinganya. Biar ramai.
Suatu hari,ketika tiyang membuka pintu matahari pagi; Ibu pertiwi duduk bersimpuh didepan mata. Membawa oleh oleh ribuan penyakit baru,membawa cuaca alam yang berubah ubah tak menentu,membawa hawa kekeringan dengan api, dia juga membawa aliran air yang bau.
``Berikan tubuh ini istirahat sehari,biar bisa tiyang mengendong anak dan cucumu``, bibir manisnya yang terolesi kekejian itu meminta dengan amat sangat ditelinga tiyange. wajah tiyange mendadak berubah tak bisa menjawab. Mata tiyange melotot hampir keluar, hidung tiyange membesar, kuping melebar, mulut tiyange terbuka lebar. Apa yang harus tiyang lakukan?? Sedangkan matahari akan segera terbenam di ufuk barat, tiyang harus engejarnya, agar lakon yang tiyang perankan didunia ini terpenuhi.
Kepayahan tiyange disandarkan dikursimalas,disorot dengan sinar matahari dibulan januari, dimana musim dingin di eropa pada puncaknya. Sangat nyaman dan hangat. Pikiran dan ingatan -ingatan tiyange di bawa terbang kepuncak puncak gunung alpen yang bersalju. Sangat menakjubkan. Indah...indah..indah sekali.
Diatas sana lah, titik titik ingatan tiyange disatukan. Garis garis kenangan tiyange dibentuk menjadi gambar yang agung. Garis itu pun disambung dengan yang garis ingatan masa tiyange di Bali. Merayakan hari nyepi (tahun baru pada bulan ke sembilan berdasarkan kalender bali). Berbeda dengan negara negara lain, di Bali menyambut tahun baru caka, tidak berhura hura atau dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan ,,Nyepi´´dimana kesunyian dan ketenangan dicari. Berkosentrasi, menyatukan pikiran sampai ketitik kekosongan. Dimana alam dan isinya menyatu damai. Sehari sebelum penyepian ,di sebut hari kesanga.Tiyang dan adik adik sudah bersih dan metirta air suci dari pendeta. Hari itu tiyang ngayab sesajen special, berketupat delapan,lantaran ahri kelahiran tiyange anggara kasih uku medangsie.Jumlah ketupat adik adik tiyange jumlah nya beda,lantaran hari kelahiran yang beda.Sesajen ketupat diperuntukan untuk dirinya sendiri agar Butha kala yang ada pada diri manusia tidak menganggu. Matahari mulai bersandar ke barat. Tiyang tergesa gesa ke alun alun,hari kesanga diadakan upacara pecaruan. Upacara pemberian dan penghormatan pada alam dan butha kala,agar tidak menganggu manusia dan ikut menjaga keseimbangan dunia.Lautan manusia dengan pakaian berwarna warni, berkumpul dialun alun duduk kearah timur. Tiyang terpesona melihat tarian Baris, dibawakan oleh anak kecil berumur delapan tahun. Di iringi Gamelan yang bersemangat. Kedua tanngan anak itu seperti melukis langit.Tangannya seperti tidak pernah jatuh kebawah perut,sepertinya ketiaknya dipasangin paku.Matanya sesekali menyapu penonton.Bibirnya kadang kadang tersenyum,kadang kadang diam di ikuti dengan gerakan mata yang tegas. Tiyang memujinya. Salah satu hiburansebelum upacara di mulai.
Alun alun mulai diam,nyanyian kebesaran pun dialukan oleh sekelompok orang. Terdengar sayup sayup, karena tiyang duduk agak jauh.Upacara itu pun berjalan sangat damai.
Riuh sorak terdengar dimana mana, orang orang memukul segala benda yang bisa berbunyi, mengusir roh jahat dengan sesaji beras berwarna tiga macam.Tiyang memukul mukul panci dapur,adik tiyange melempar lemparkan beras pecaruan,bapak tiyange bawa bobok berapi.Berkeliling rumah mengusir setan.
Garis garis ingatan tiyange terus dikumpulkan. Di tuntun dengn lembut. Pada saat hari penyepian pada tahun baru caka dilaksanakan. Sepertinya tiyang hidup sendirian.Sepertinya semua mati. Tidak ada angin ,tidak ada suara burung,tidak ada kebisingan. Seolah olah semua pergi,entah kemana?.Tiyang hampir menangis,karena takut sendirian. Yang biasanya saya tergantung dengan kebiasaan. Hari itu tiyang harus tinngal dirumah ditemani keheningan. Sama sekali tidak ada gerakan. Didalam rumah juga semuanya tidak ada mau yang bicara, sepertinya mereka bisu. Mata tiyange mencari cari sesuatu, namun tak nampak apa apa. Bahkan anjing dan ayam pun tak ada....yang biasanya berseliweran.Dunia telah mati. Tiyang hidup sendiri. Air mata kesombongan telah menetes. Ketakutan yang tak bisa di hindari.
Amati geni,tidak boleh menyalakan api. Mulai pagi hari,sebelum matahari terbit sampai ke esokan harinya saat matahari terbenam dan bintang bintang dilangit kelihatan.
Amati Karya, tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Tiyang hanya bisa bermain dengan keheningan.
Amati Lelanguan, tidak boleh pergi keluar pekarangan.Tenang dirumah. Tiada hiburan. Jagat alam pun tertidur dengan manis. Terharu tiyang menyaksikan keajaiban itu. Didalam keheningan itu, tiyang di ingatkan ribuan kelakuan tiyange selama mengalami kehidupan . Semua datang memintak pertanngung jawaban. Disanalah terjadi pertempuran sengit antara salah dan benar. Keheningan yang membawa kekuatan. Yang menjadi kekuatan menjalani kehidupan yang akan datang.
Ke esokan harinya disebut hari ngembak geni. Nah,pada saat itulah orang boleh bersenang senang kembali. Tiyang bagaikan lepas dari penjara berlari keluar mencari teman teman yang hilang. Ketawa pun meledak, ketika tiyang ceritakan bahwasanya tiyang menangis ketakutan kehilangan dunia.
Titik titik telah terbentuk, garis garis telah disatukan oleh ibu pertiwi diatas puncak puncak gunung alpen. Membentuk gambar yang nyata. Mata matahari pun tak sejuk lagi. Angin dingin telah menyapu kehangatan .´´ Jangan kan kau melakukan atau mengikuti upacara itu disini,namun lakukan sesuatu dalam hidupmu untuk alam semesta´´,bisikanya sekali lagi lembut di telingga tiyange.dan beliau pun menjauh. Dan tiyang tersetak kaget dari lamunan menatap puncak puncak pegunungan alpen yang bersalju putih.
Tiyang pun lari kedalam, karena tak tahan dingin.matahari telah tertutup oleh hujan salju.