Satwane ane ibi akhirne berlanjut..... | |
Dikelilingi oleh gunung gunung Teisenberg, Staufen, falkenstein, Kienberg, Rauschberg dan Sulzberg. Desa Inzell, yang terletak di jerman selatan. Tepatnya di Bayern, desa itu letaknya 140 km dari münchen tujuan salzburg austria. Di sebuah lembah yang subur dan terawat. Lembah Inzell berada kira kira 700 meter dari ketingian laut. Dengan kedataran 4535 hektar. Penduduk yang jumlahnya kira kira 4200 hidup berdampingan dengan tradisi yang kuat. Desa ini bagaikan bunga enzian yang tumbuh di musim panas, kecil sangat menarik dinikmati. Masih dalam ingatan, saat itu pertengahan November. Ketika tyang memasuki desa ini. Cuaca sangat kabut, ketika mobil temanku merayap pelan memasuki desa Inzell. Sepertinya sorot lampu tak bisa menembus rahasia kabut. Jarak pandang menemui kesulitan. Menggingatkan tyang, kisah Ramayana. Ketika balatentara Kera yang dipimpin Hanoman menyerbu Alengkapura. Kera kera itu mengalami kesulitan menemukan Alengkapura yang dibentengi kabut. Warung kopi kecil didesa itu membantu menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Orang orang menatap diri tyange, dari atas kepala sampai ujung kaki. Inzell daerah konservatif, sangat berhati hati dengan pendatang baru. ``..akan bisakah kamu tinggal disini..``? Ujar temanku, ketika segerombolan ibu ibu tua menatap kami tidak ramah. Tyang tak pernah menjawab sampai sekarang. Karena air pegunungan ini telah memandikan ku dengan nyaman. Awal bulan Mei, awal pesta pesta rakyat dimulai sampai musim panas berlalu. Pohon Mei akan di tancapkan pada tanggal satu, menandakan hari kesuburan. Muda mudi inzell berpakaian Tracht, laki lakinya becelana kulit sampai di dengkul berbaju putih, bersepatu hitam berkaos kaki wol sampai di dengkul kaki. Bertopi dihiasi bulu burung. Perempuan mudanya, berpakaian panjang, dari pinggang kebawah berbentuk melebar. Para wanita yang telah berkeluarga akan memakai Trach berwarna witam. Bertopi hitam lebar. Berliter liter Bier mengiringi Tarian memutar kaum mudanya, lelakinya bertepuk tepuk,perempuanya berputar putar seperti gasing. Jeritan jeritan kegembiraan atau Jodeln memaniskan suasana pesta. Daging Babi panggang dan ayam,serta salad mengharumkan tempat pesta. Sepertinya daging adalah sayurku. Desa Inzell adalah desa peternakan, ribuan sapi selalu merumput diudara bebas. Rumah rumah yang bercirikan khas, berbalkon dengan ornamen tua. Tanah pertanian pun dibiarkan ditumbuhi rumput yang terawat, bak lapangan bola dari kejauhan. Masyarakat Inzell yang kuat mempertahankan seni tradisi, membuat industri pariwisata berkembang dengan baik. Dengan sistem yang baik,para pelancong yang datang merasa nyaman tinngal di inzell. Tak peduli musim dingin atau panas. tyangpun seperti dikursi goyang, menikmati alamnya. Sebagai pendatang, tyang selalu menyesuaikan diri. Mencoba mengerti dan memahami pergaualan. Persahabatan mulai terjalin dengan manis sekali, meskipun susah menerima kebiasaan baru dan melupakan kebiaasan dibali. Tyang selalu mengunjungi Stammtisch, tempat kumpul kumpul orang orang Inzell setiap minggu di restourant atau pub yang bertebaran di inzell. Tyang jarang sekali cerita tentang bali tanah kelahiran , cerita tentang bali akan mengalir ,kalau tyang ditanya. Isu isu di desa atau cerita masa kini tiang dapatkan dari koran koran lokal atau koran nasional yang beredar didesa. Jadi tyang bisa dengan lancar ikut dalam pembicaraan. Dan tahu kemana arah pembicaraan. Inzell yang terletak di Oberbayern Bayern, mempergunakan bahasa jerman yang berdialek, bayrisch. Dialek yang tyang anggap paling sexy diseluruh jerman. Meskipun sangat susah dimengerti dialek ini oleh orang orang utara jerman, tyang pun mulai memahami. Bayern memang beda di Jerman. kaum konservativ yang luar biasa rajin bekerja. Inzell salah satu contohnya. Layaknya pohon bunga Caling Singa berwarna kuning,menerobos tumbuh ditempat tempat keras dimusim panas. Arak dari bunga enzian, satu seloki tyang minum. Satu penghormatan di bayern kepada seorang tamu yang baik. Waktu sahabatku memperlihatkan proses pernikahannya.Dimana sang pengantin lakilaki dengan juru bicaranya mengundang pengantin wanita kegereja dan ketempat pesta ,setelah itu baru terundang keluarga dekat dan teman teman. Dentingan harpa dan gitar bolong mengiringi suara nyanyian benada berat, selalu mengantarkan tiang bekerja. Servus,....Inzell
 I Belog Wenn mein Großvater aufhört,die geschichte zu erzälen,schaue ich inh,den blinden und tauben Mann immer an und schreie"Mannnnnnnnnnnnnn"(weitermachen). Er protestiert müde und ärgerlich,weil ich ihm nich erlaube auf zuhören. Die Geschichte von I belog ist eine Gescichte,die ich sehr gerne mag. In einem Dorf gibt es einen junge Mann,I Belog genannt wird.Er hat den namen I Belog,weil er sehr dumm and arglos ist.Durch seine Arglosigkeit mach es mancmal recht lustige Sachen.I Belog ist elternlos und arm.Eines Morgens geht`s er zum Betteln vonHaus zu Haus.In einem Haus trifft er auf eine reiche Witwe."Junge Mann,wie heiß du und woher kommst du??````fragte die witwe."Mein Name ist I Belog.Ich habe keine Eltern und bin sehr arm.Deshalb komme ich zum Betteln."Wenn das so ist,bleibe doch bei mir.Sagt di Witwe. I Belog wohnt jetzt also bei der reichen Witwe.Nach einege Zeit bekommt I Belog von ihr die aufgabe fünf Enten zu hüten.Frühmorgens treibt I Belog die Enten zum Reisfeld.Auf den Weg dorthin müssen sie einen Bach überqueren.Am Bach gegafällt es den den enten nach Fressen zu suchen.I Belog ist verwirrt, da die enten in Wasser nicht untergehen.Als es das sieht,denk er nach.Für ihn sieht es aus,als ob die enten innen hohl wären.Er schlägt alle enten mit einem Stück Holz,damit sie untergehen.Eine nach der anderen schlägt es,bis sie tot sind und abgetrieben werden.Dann geht I Belog nach hause.Die reiche Witwe fragt",Belog, wo sind die enten?.Alle enten waren innenleer,ohne Fleisch,ohne irgendwas.Deshalb habe ich sie untergetaucht,damit sie voll werden,aber sie sind in Bach abgetrieben"; die Witwe kann nich mit ihrem dummen Kind anfangen. Eine tages bringt die Witwe I Belog zu einen bekannten,der verstorben ist.Als Sie ankommen riecht I Belog schon den verwesungsgeruch.Er fragt die reiche Witwe",warum stink es hier soo?"weil hier jemand gestorben ist,antwortet die Witwe".Oooo",jede,der stirb,stink?,fragt I Belog.,,Yaa;antwotet die Witwe.Eines Tages läßt I Belog einen Furz und stinkt fürchterlich.Als es den geruch bemerkt,fangt es an zu weinen."Oh,jetzt bin ich tot,ich stinke fürchterlich".Er nimmt eine Schaufel und geht zum Friedhof.Dort hebt es ein loch aus und gräbt sich selber bis zum hals ein.DIe witwe wundet sich,weil I Belog nich nach Hause kommt.Sie such ihn Überall.Endlich findet sie ihn auf den Friedhof."Belog, was machst du da?",Ich bin tot, ich stinke fürchterlich.Heute morgen habe ich einen schrechlich stinken den Furzgelassen,deshalb habe ich mich hier beerdigt."Oh Belog,du bist wirklich dumm".Dann zieht sie sie ihn aus den grab und bringt ihn nach Hause. Diese Geschichte,die mein Großvater (der Bruder von meiner Großmutter) mir erzähte,werde ich nie vergessen.Von einen Haus zum anderen warteten die Engkelkinder sich auf seine Gesichten.Es werde nie langweilig.MIttlewiele ist es schon gestorben.Immer noch suche ich jemanden in Bali,der seinen Geschichten von Haus erzält und die kinder rufen"mannnn".
Takut atau tidak bisa?, ketika tiyang coba menyatukan titik titik dan garis garis hari tahun baru ( Nyepi) di Bali.Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan itu berlalu. Kepayahan dan kebisingan menjalani kehidupan masa kini, membuat tiyang terlalu jauh dengan alam, bahkan telah memperkosanya dengan kejam. Mengendarai mobil, telephon berdering, pencemaran alam dengan plastik, makan dengan campuran kimia, pokoknya semuanya cepat dan mudah dan berlebih lebihan. Tiyang tidak pernah ingat dampak jeleknya,yang penting kesenangan sesaat terpenuhi.Alam yang sangat kesakitan dan tersingung,tidak membuat tiyang kapok menjalankan drama kehidupan.Bahkan tiyang sudah menipunya dengan manis. Memukulnya, tidak memberikan ibu pertiwi sempat bernafas. Dan berteriak teriak dengan kebisingan ditelinganya. Biar ramai. Suatu hari,ketika tiyang membuka pintu matahari pagi; Ibu pertiwi duduk bersimpuh didepan mata. Membawa oleh oleh ribuan penyakit baru,membawa cuaca alam yang berubah ubah tak menentu,membawa hawa kekeringan dengan api, dia juga membawa aliran air yang bau. ``Berikan tubuh ini istirahat sehari,biar bisa tiyang mengendong anak dan cucumu``, bibir manisnya yang terolesi kekejian itu meminta dengan amat sangat ditelinga tiyange. wajah tiyange mendadak berubah tak bisa menjawab. Mata tiyange melotot hampir keluar, hidung tiyange membesar, kuping melebar, mulut tiyange terbuka lebar. Apa yang harus tiyang lakukan?? Sedangkan matahari akan segera terbenam di ufuk barat, tiyang harus engejarnya, agar lakon yang tiyang perankan didunia ini terpenuhi. Kepayahan tiyange disandarkan dikursimalas,disorot dengan sinar matahari dibulan januari, dimana musim dingin di eropa pada puncaknya. Sangat nyaman dan hangat. Pikiran dan ingatan -ingatan tiyange di bawa terbang kepuncak puncak gunung alpen yang bersalju. Sangat menakjubkan. Indah...indah..indah sekali. Diatas sana lah, titik titik ingatan tiyange disatukan. Garis garis kenangan tiyange dibentuk menjadi gambar yang agung. Garis itu pun disambung dengan yang garis ingatan masa tiyange di Bali. Merayakan hari nyepi (tahun baru pada bulan ke sembilan berdasarkan kalender bali). Berbeda dengan negara negara lain, di Bali menyambut tahun baru caka, tidak berhura hura atau dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan ,,Nyepi´´dimana kesunyian dan ketenangan dicari. Berkosentrasi, menyatukan pikiran sampai ketitik kekosongan. Dimana alam dan isinya menyatu damai. Sehari sebelum penyepian ,di sebut hari kesanga.Tiyang dan adik adik sudah bersih dan metirta air suci dari pendeta. Hari itu tiyang ngayab sesajen special, berketupat delapan,lantaran ahri kelahiran tiyange anggara kasih uku medangsie.Jumlah ketupat adik adik tiyange jumlah nya beda,lantaran hari kelahiran yang beda.Sesajen ketupat diperuntukan untuk dirinya sendiri agar Butha kala yang ada pada diri manusia tidak menganggu. Matahari mulai bersandar ke barat. Tiyang tergesa gesa ke alun alun,hari kesanga diadakan upacara pecaruan. Upacara pemberian dan penghormatan pada alam dan butha kala,agar tidak menganggu manusia dan ikut menjaga keseimbangan dunia.Lautan manusia dengan pakaian berwarna warni, berkumpul dialun alun duduk kearah timur. Tiyang terpesona melihat tarian Baris, dibawakan oleh anak kecil berumur delapan tahun. Di iringi Gamelan yang bersemangat. Kedua tanngan anak itu seperti melukis langit.Tangannya seperti tidak pernah jatuh kebawah perut,sepertinya ketiaknya dipasangin paku.Matanya sesekali menyapu penonton.Bibirnya kadang kadang tersenyum,kadang kadang diam di ikuti dengan gerakan mata yang tegas. Tiyang memujinya. Salah satu hiburansebelum upacara di mulai. Alun alun mulai diam,nyanyian kebesaran pun dialukan oleh sekelompok orang. Terdengar sayup sayup, karena tiyang duduk agak jauh.Upacara itu pun berjalan sangat damai. Riuh sorak terdengar dimana mana, orang orang memukul segala benda yang bisa berbunyi, mengusir roh jahat dengan sesaji beras berwarna tiga macam.Tiyang memukul mukul panci dapur,adik tiyange melempar lemparkan beras pecaruan,bapak tiyange bawa bobok berapi.Berkeliling rumah mengusir setan. Garis garis ingatan tiyange terus dikumpulkan. Di tuntun dengn lembut. Pada saat hari penyepian pada tahun baru caka dilaksanakan. Sepertinya tiyang hidup sendirian.Sepertinya semua mati. Tidak ada angin ,tidak ada suara burung,tidak ada kebisingan. Seolah olah semua pergi,entah kemana?.Tiyang hampir menangis,karena takut sendirian. Yang biasanya saya tergantung dengan kebiasaan. Hari itu tiyang harus tinngal dirumah ditemani keheningan. Sama sekali tidak ada gerakan. Didalam rumah juga semuanya tidak ada mau yang bicara, sepertinya mereka bisu. Mata tiyange mencari cari sesuatu, namun tak nampak apa apa. Bahkan anjing dan ayam pun tak ada....yang biasanya berseliweran.Dunia telah mati. Tiyang hidup sendiri. Air mata kesombongan telah menetes. Ketakutan yang tak bisa di hindari. Amati geni,tidak boleh menyalakan api. Mulai pagi hari,sebelum matahari terbit sampai ke esokan harinya saat matahari terbenam dan bintang bintang dilangit kelihatan. Amati Karya, tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Tiyang hanya bisa bermain dengan keheningan. Amati Lelanguan, tidak boleh pergi keluar pekarangan.Tenang dirumah. Tiada hiburan. Jagat alam pun tertidur dengan manis. Terharu tiyang menyaksikan keajaiban itu. Didalam keheningan itu, tiyang di ingatkan ribuan kelakuan tiyange selama mengalami kehidupan . Semua datang memintak pertanngung jawaban. Disanalah terjadi pertempuran sengit antara salah dan benar. Keheningan yang membawa kekuatan. Yang menjadi kekuatan menjalani kehidupan yang akan datang. Ke esokan harinya disebut hari ngembak geni. Nah,pada saat itulah orang boleh bersenang senang kembali. Tiyang bagaikan lepas dari penjara berlari keluar mencari teman teman yang hilang. Ketawa pun meledak, ketika tiyang ceritakan bahwasanya tiyang menangis ketakutan kehilangan dunia. Titik titik telah terbentuk, garis garis telah disatukan oleh ibu pertiwi diatas puncak puncak gunung alpen. Membentuk gambar yang nyata. Mata matahari pun tak sejuk lagi. Angin dingin telah menyapu kehangatan .´´ Jangan kan kau melakukan atau mengikuti upacara itu disini,namun lakukan sesuatu dalam hidupmu untuk alam semesta´´,bisikanya sekali lagi lembut di telingga tiyange.dan beliau pun menjauh. Dan tiyang tersetak kaget dari lamunan menatap puncak puncak pegunungan alpen yang bersalju putih. Tiyang pun lari kedalam, karena tak tahan dingin.matahari telah tertutup oleh hujan salju.
O Lord, forgive your humble servant O Lord, Whose illuminated radiance is most wonderful Who rules over the universe and the welfare of all created beings, Your servant is most humble. Please O Lord, give us guidance, You, who are the only loving and merciful God. Some Aspects of Ceremonial Dances Dance in bali is not purely for entertainment, but primarily of religios significance. The words of Susanne Langer, an Anthropologist, in her book "Problems of Art" sum up the importance of Dance to the Balinese: "In a world perceived as a realm of mystic powers the first created Image, is the Dynamic Image, the first objectification of Human Nature, the first True Art, is Dance". Dance in Bali can be classified as follows: Religious sacred dance, The tari Wali Ceremonial dances, The tari Bebali The newly created secular dances, The tari Balih-Balihan. The Sacred dances are performed in the Temples during Odalan festivals, and do not follow a story line, but they are part of the ritual act. Sacred dances include the Sanghyang Trance dances, the Rejang, Offering dances, the Baris Gede or Baris Upacara. These Dances can only be performed as an act of Devotion. Sanghyang dances are rare now, but some villages where they are still performed are in Kintamani, Pliatan, Banjar Bun in Denpasar, Bone, Bedahulu. There are many forms of Trance dances, and amongst these are the Sanghyang Dedari, where dancers are possessed by the spirit of heavenly Nymphs and the Sanghyang jaran and Sanghyang Bangkung, where spirits of wild animals enter the dancers. One trance dance seldom performed is the Sanghyang Sampat, the trance dance of the Broom. These trance dances are usually performed to purge a village of evil and disease.The Rejang dance can be seen at every Temple festival, where older women and young girls carry symbols of the offerings to the Bhataras and perform asimple dance in front of the shrines. The Baris Gede now also rare is performed in certain villages as in the Sacred Temple of Batur and in Sanur. Young men perform these warrior dances carrying several kinds of weapons and thus symbolize the guardianship of the Temples. Ceremonial dancers or Tari Bebali are performed not only in the temples, but also in the Puris or Palaces to lend color and excitement at Festival time and these dances usully illustrate well-known stories of ancient time. An example of ceremonial dance is the Gambuh dance, a classical dance composition of Panji tales, which date from the Hindu period in East-Java. The Gambuh dance however is now only performed in the district of Gianyar, in the village of Batuan and in a village Pedungan near Denpasar. Another example of Ceremonial dance is The Parwa dance , which depicts tales from the Mahabharata Hindu Epic. The Wayang Wong Ramayana enacts out stories from the other popular Hindu Epic the Ramayana, which can only be seen in Tejakula in the north region of Bali and at temple festival in Mas and Bualu south of Denpasar. There are now plans to revive the interest in the old classical dances is the Calonarang dance drama, which depicts the wrath of the widow or Rangda from Girah, when she learns that her daughter Ratna Mengali is rebuffed by King Airlangga, because of the balck magic practices of the women. Rangda causes famine and diseases amongst the people of Airlangga, which can only be exorcised by the holiness of the ascetic Empu Baradah. It is also interesting to note that amongst the Ceremonial dances is the Dance drama of Cupak-Grantang, which tells the tale of the two brothers one of whom is greedy and avaricious and the other handsome and good. Always to be seen at important Ceremonies such as weddings, tooth filings, temple festivals are the Wayang Kulit, the leather puppet shows. These are performed often at night when the mystic significance of the tales enacted are heightened by the fact that the puppets are illminated from behind a white screen and are presented as shadows to the audience. These can also be seen at day time, where one sees the action of the intricately carved leatherpuppets staged along a simple piece of string. These day-time forms of puppet show are called wayang Lemah (wayang Gedoggan). Adaptasions of tales from Balinese history are performed by masked dancers and this style of dance is known as the Topeng. This is a popular form of entertainment found mostly in the everwhere in Bali. The famous Legong Kraton, the dance story of an old tragic legend performed only by very young girls, is another form of popular dance at temple festivals and religious ceremonies. Other popular forms of entertaiment which give gaity and color at temple festivals are the Arja dance drama, the Prembon,the Drama Gong allof which are story dramas for enjoyment of the people. Thus different forms of dance are an integrated part of religios ceremonies and village life in general, including even secular dance performces staged for enjoyment only. Special thanks..DR.R.Moerdowo
matahari mulai condong kebarat,suatu tanda baik bertemu sahabat. Tiyang pun bergegas menuju dagang tuak.Para sahabat satu persatu berdatangan, setelah habis kerja.Pasar mulai menyepi."metuaakan",minum tuak bersama.Bebaudan,celoteh atau protes kecil akan selalu kita dengar disana.Dengan sedikit pekecip (lauk) untuk tuak,kamipun mengobrol sampai petang hari.Sesekali kami menyanyi dan menari yang dikenal dengan mecekepung. Kesenian asal Lombok dan menyebar di Karangasem sekitar tahun 1930.Menyanyi sambil meniru suara suara kejadian waktu perang terjadi.Suara bom jatuh,suara bedil atau jeritan jeritan kesakitan,suara gamelan (zaman dulu orang perang selalu membawa gamelan untuk memberi semangat) dan dipadukan dengan tarian kemenangan.Tarian itu sambil duduk dan kelihatan terpatah patah atau gerakan silat bersikap,tergantung karakter orang yang menari.Di Buleleng dan di Di karangasem kesenian ini telah diperbaharui dengan nama "genjek atau toreng. Di pojok seorang sahabat sambil menyandarkan punggungnya memprotes dagang tuak,karena tuaknya rasanya "sumedah" (rasanya antara manis dan wayah).Kami memang lebih senang "tuak wayah"(rasanya sudah keras). Dengan tenang si penjual menjawabnya"; kalau tuan tadi pagi datang,tuan mendapat "tuak manis".Kalau tuan nanti datang terlambat tuan mendapat "cuka".Maklum tuak hanya berumur satu hari,dihitung dari turunya tuak dari pohon nya". Sambil sedikit membungkuk,tiyang berusaha menagkap nyawan (lebah muda) yang keluar dari dari tempurung kelapa,seketika itu tiyang menelannya,bersamaan itu tiyang meminum tuak.Saat pergantian dari seorang sahabat.Gelas terus berputar dari satu tangan ketangan lain,kami mengelilingi seorang "dag"(tukang mengisi tuak dalam gelas),disampingnya dag ada tempurung yang bergigi tak keruan menutupi pekecip "sambal gerayang".Sambal ini dinamakan demikian karena dibuat dari lebah hidup dibumbui dengan pemelecingan (cabe,garam,limau,terasi,minyak kelapa).Lebah hidup dengan dengan pemelecingan,,lalu ditutup dengan tempurung kelapa yang bergigi.Dari gigi tempurung itu keluarlah si lebah.Setiap pergantian minum tuak,kalau ada lebah keluar dia patut memakanya.Namun kalau lebah itu tidak keluar pada saatnya minum berarti dia bernasib sial.Tidak mendapat lauk sambal ngerayang. Dari satu lagu kelagu yang lain membawa matahari keufuk barat.tak terasa.Dag terus mengilirkan tuak dari satu sahabat kesahabat lain.Tuak jaka kesukaaan tiyange,dibandingkan tuak kelapa atau tuak ental. Satu gending yang bernada"galak manis",dengan nada kental berdialek lombok mengiringi teriakan protes dag kepada peminum tuak,yang lama menunngu sipeminum meminum tuaknya.Duapuluhlima liter dengan tujuh orang sahabat minum tuak.Sahabatku mulai kelihatan sikapnya tak menentu(sanga kesenga sengo), membuat gerah seorang tua yang menghadapi satu tampung tuak.Satu tampung sama dengan satu setengah gelas berukuran sedang.Si tua itu bergerak gesit mendekati lingkaran kami,seorang sahabat menatap situa seperti tatapan seekor anjing,tiyang pun menawarkan sebatang rokok dari pembungkus yang kotor dari bumbu.Lelaki tua itupun menyambung gending yang sempat terputus,namun sahabatku itu tetap dengan sikap tak menentu.Mungkin merasa tak dihargai silelaki tua itupun mulai menyindir dengan falsafah minum tuak."tuan tuan muda yang berharga?"tuan datang ketempat minum tuak,tuan haruslah tahu kekuatan tuan minum tuak. Tuan harus tahu, se....minum satu tampung,tuan adaalah eka matra padmasari,tuan sekedar minum. due....minum dua tampung, tuan dwi amertani,tuan sudah mendapat kenikmatan dari minumanitu. telu...minum tiga tampung, tuan tri raja busana,tuan sudah merasa kepanasan seperti raja berbusana. pat...minum empat tampung, tuan adalah catur kakilabasa,tuan sudah banyak bicara. lime...minum lima tampung,tuan sudah panca winara konyer,tuan sudah cerewet,sukar dibantah. nem....minum enam tampung,tuanadalah sad wenara ruken,tuan seperti kera mengamuk. pitu....minum tujuh tampung tuan sapta mahabaya,tuan dalam keadaan bahaya atau bersikap berbahaya. kutus.....minum delapan tampung,tuan sudah asta kebo dangkal,tuan sudah seperti kerbau dungu. sieeee....minum sembilan tampung tuan adalah sanga kesenga sengo,tuan telah bersikap sudah tak menentu. dase...minum sepuluh tampung,tuan sudah dasa kedesa desu,tuan sudah mabuk.dan telerr. Si lelaki tua meminum tuaknya sampai habis,tiyang sudah merasakan diri seperti dasa kedesa desu.si penjual tuak membawakan tiyang daun kelor,ditempelkan pada punngunxg sebagai obat melawan mabuk. Seorang sahabat mulai pamit dan berjanji akan datang lagi bertemudi tempat lain.Dengan suasana lain.Berjanji membawa dan mencarikan tuak yang terkenal.Tuak tuak khusus yang menjadi minuman para raja bali.Tuak yang bernama"batu lamak"yang berasal dari sebelah barat desa Tengganan."Nasi Dingin"tuak dari sebelah utara desa Tenganan.Atau tuak dengan nama "biingkawat","kubu langlang","naga sulung"yang datangnya dari bukit tenganan disebelah timur. Tiyang pun bangkit dan membawa janji itu pulang.Tiyang tidak tahu apa apa lagi.Dasa kedesa desu.
With whom do you study??.. With the guest. Especially if those guest are priests, person with the magnetism of those enveloped in a spirit of forgiveness. Thus Rsi Bojana, a dedication to the priests, is another important compnent of the Balighia ceremony. Here the organizers of the ceremony carry out a complete service, paying tribute with the loyalty and sincerity exemplifield by the banished Drupadi, Arjuna´wife, who proved so grieved in face of her awareness that only a grain of rice remained at a time when holy people were coming to call on her husband. Is a grain of rice a suitable dedication?? Tearfully, Drupadi called Krisna throught her meditation. Such that when Krisna, having swallowed that grain of rice, declared, ``I am satisfied.`` Rsi Bojana is a most important aspect of the spiritual attitude, how a person performs the highest service, the path, of giving anything with sincerity, even if just a grain of rice. At the time of Rsi Bojana, the priests are served by the entire family; offered to them, with humble demeanor, is a representative selection of food and drink. It is brought in procession and accompanied with dance and music. The priests respond with worshipping mantras directed toward world harmony, from where that food and drink originate, that thirst and hunger, the medicine of the spiritual nature which adheres to its duty ( Dharma) and devotion. Please be seated in respect for these priests, be prepared to serve them and offer your loyalty and sincerity. The blessing will be like the grain of rice which Krisna swallowed, and the curse of the holy person will not touch your birth.
Dimanakah Siwa berada?? -- Pertanyaan ini barang kali sesekali muncul dalam rasa ingin tahu anak anak. Salah satu tempat siwa bersemadi dipuncak Gunung Kaliasa. Gunung suci dimana Siwa dikala senggangnya berkeliling dengan menunggang lembu Nandini. Dalam Karya Balighia, Gunung Kaliasa itu adalah Piadnyan, areal suci, pusat seluruh kegiatan Balighia dilaksanakan. Piadnyan adalah simbol dari Gunung Kaliasa, tempat Siwa bersemadi. Karena itu, tempat ini selalu dijaga kesuciannya dengan rangkaian upacara yang sesunnguhnya adalah upaya nyata manusia untuk mewujudkan semadi Siwa, yang dipaparkan dalam bentuk kegiatan. Nyikut Karang.... Upacara ini adalah tahap upacara pembuatan batas batas suci oleh seorang pendeta dengan tujuan agar tempat upacara, Piadnyan jelas batasannya dengan areal disekitarnya, sekaligus menentukan tempat bangunan utama seperti Sanggar Tawang, Petak tempat Bukur, Balai Pengliwetan, Balai Pengliwetan, Balai Pawedaan, Balai tempat bebanten dan juga tempat menerima tamu. Nyikut Karang ini juga adalah simbol pemusatan pemikiran bagi pelaksana upacara agar berkosentrasi penuh terhadap karya tersebut. Munggah suci..... Tahap menentukan tempat ,,Nyuci,,. Areal tempat nyuci ini dijaga kesucian yang diawali dengan pemelaspasan genah penyucian disertai suara ketungan Asti dan dipasang pula Sunari. Tempat Nyuci sebagai areal suci difungsikan untuk tempat kegiatan pembuatan Catur, sajen untuk dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Pembuatannya dilaksanakan setiap hari dari matahari terbit dan diakhiri sebelum matahari terbenam. Setiap awal kegiatan di suci ditandai dengan suara ,,oncang oncangan,, ketungan Asti yang dibarengin dengan suara Sunari, yang dipercaya, suara suara itu kelak akan mengundang para bidadari turun dari kayangan, agar ikut membantu pembuatan sajen tersebut. Bagi mereka yang hendak ngayah di suci haruslah memenuhi syarat, yaitu: Tidak Cedangga (Cacad tubuh), Cendala, sebel, dan sudah melaksanakan upacara meoton. Dan apabila telah berada di dalam areal penyucian, siapapun dia tidak boleh meludah, tidak boleh mencela apapun yang dilihatnya, tidak boleh bercanda apalagi berdebat. Setiap orang hendaknya datang dan mengerjakan pekerjaan suci dengan kayika, wacika serta manacika yang suci bersih. Matur Piuning..... Kegiatan ini adalah mendatangi pura pura diseluruh pulau bali (pura kayangan jagat), tujuanya memohon air suci dan restu untuk kelancaran pelaksanaan karya Balighya. Mendak Isapan.... Untuk keperluan sajen suci yang disebut Bebanten catur maka diperlukkan antara lain tebu yang disebut isepan. Kedatangan isepan ini diarak dan di prosesi dengan diiringi tambur dan beleganjur. Melaspas Piadnyan/ Bukur.... Sebelum piadnyan digunakan terlebih dahulu harus disucikan dengan upacara Nyuda Bumi dan Mecaru. Memineh/ Ngangget Daun Beringin.... Upacara memineh adalah upacara memerah air susu lembu. Lembu ini telah disucikan, baik dari makanan maupun perlakuan terhadapnya. Selama lembu ada di tempat ,,Nyuci,, susu itu dimasak ditempat suci dan akan dipersembahkan kepada Betara Siwa, seperti diketahui Betara siwa mempunyai seekor Lembu yang bernama Nandini sebagai hewan tunggangan. Sedangkan Ngangget Don Bingin adalah upacara memetik daun beringin dengan pisau Sudamala. tujuan upacara ini adalah untuk mendapatkan daun yang dipercaya sebagai tempat Sthana para arwah leluhur, juga ngangget daun bingin sebagai simbolis melakukan suatu upaya untuk mencapai kesucian. Pohon beringin yang dipilih adalah pohon yang telah dipasupati dan biasanya yang tumbuh di pura. Tahun 1998 upacara besar dilaksanakan disidemen, tiyang selalu mengenangnya, dengan hati kesenangan dan pikiran berbunga bunga ..tiyang selalu mengenang kebersamaan. Jangan..kan membuat, melihat upacara ini saja sudah sorga.
Bunyi suling itu selalu terdengar dari arah bukit di barat Sidemen,selalu pada waktu sanikala.Tiyang menikmati alunannya dengan beberapa sahabat yang hampir selalu mengerutu,suara suling yang selalu bernada patah hati. Sahabat itu kadang kadang mengutuk orang tua yang meniup suling bernada sedih. Komentar nya, bahwa orang tua itu tidak punya kesenangan dan keberanian, dan selalu mengenang kejayaan masa lalu. ketawanya rasanya sangat mengejek, lalu di minumnya kopi dari gelas yang masih setengah. Di Sidemen kami di pelihara dengan ribuan komentar. Sidemen adalah daerah pertapaan, pemandangan selalu indah meskipun masyarakatnya tidak menyadarinya, suhu udara selalu sedang, selalu membuat selera makan selalu timbul. Tiyang sangat bangga bahwa tiyang dari keturunan Sidemen.Sangat teramat bangga. Kenapa tidak; para leluhur tiyange adalah seorang Raja Bali. Se orang raja dan keturunannya yang di buktikan dengan sebilah keris yang bernama ``Ki Sudhamala``atau ``Ki Bengawan Canggu``. Satu bukti yang sangat kuat, yang tak pernah di miliki oleh raja raja lain. Di ``Jro Gde Sidemen`` lambang dan bukti itu disimpan. Ki Sudhamala adalah bukti leluhur dan keturunannya di Jro Gde Sidemen. Tiyang pun sangat hormat, dan berani bercerita bagaimana bukti itu ada. Ki Sudhamala berkekuatan melindungi dari kekuatan roh jahat dan ke kuatan super natural. Begini ceritanya , bahwa orang orang Jro Gde Sidemen keturunan raja Bali. Pada waktu raja Bali yang berkedudukan di Gelgel Klunkung Bali di pegang oleh `` Dalem Ketut Ngulesir``menhadap raja Majapahit (Jawa) yang di kawal oleh I Dewa Tegal Besung, Kryan Patih Kubon Tubuh, Kryan Petandakan. Saat itu Majapahit di pegang oleh Hayam wuruk.Maharaja Hayam Wuruk bertanya kepada raja Bali Dalem ketut Ngulesir; ``Wahai anakku yang bagaikan penjelmaan Dewa Asmara , tiyang ingin bertanya ,jangan marah dan kesal,bahwa tersiar berita ,konon ada warna hitam (belang) pada pahamu. Ingin benar tiyang melihatnya``. Maka oleh Dalem Ketut Ngulesir, kain dirobek dan dipertunjukkan kepada Maharaja Hayam Wuruk. Tampak seperti gambaran "Cawiri" yang diangap sebagai penjelmaan Sang Hyang Aswin. Setelah dilihatnya tanda belang itu,Maharaja Hayam Wuruk memberi hadiah kain (wastra) disertai dengan sebilah keris yang berukiran berbentuk ``Nagapasa``bernama ``ki sudhamala`` yang berfungsi untuk meruat dan menyucikan sarwa mala. Setelah persidangan dan pertemuan itu, raja Bali pulang ke Bali. Dalam perjalanannya itu melewati sungai yang bernama ``kali canggu``. Tiba tiba keris itu jatuh dan tengelam kedalam sungai. Kemudian sarung keris iu diperlihatkan dipermukaaan oleh Dalem Ketut Ngulesir,keris itu melesat mendatangi dan memasuki sendiri sarungnya, keris pemberian maharaja Majapahit tersebut diberi nama ``ki bengawan Canggu``. Yang semula bernama Ki Sudhamala. " Sekarang mari kita ceritakan bagaimana keris Ki Bengawan Canggu sebagai bukti orang dari Jro Gde Sidemen adalah keturunan raja Bali dan keris itu tersimpan di Jro Gde Sidemen". Setelah wafatnya raja Gelgel Klungkung (Bali) Dalem Ketut Ngulesir terjadilah banyak pergantian raja di Klungkung. Salah satunya adalah "Sri Aji Segening",kedudukan beliau di ganti oleh putranya yang sulung yang bergelar "Dalem Anom Pemahyun, dalam pemerintahannya mengadakan perubahan pejabat pejabat negara seperti; Kryan Kubon Tubuh menjabat patih Agung,Kryan Tangkas sebagai patih muda,Kryan Brangsinga sebagai sekretaris. Pengakatan ini menimbulkan rasa ketidak puasan di kalangan pejabat pejabat lainya. Kryan Agung Maruti Di Made menghendaki saudara Dalem Anom Pemahyun menjadi raja, yang bernama ``Ida IDewa Dimade. Kericuhan ini memuncak lalu timbulah huru hara. Dalem Anom Pemahyun tidak menginginkan terjadinya sesuatu kesulitan dan kehancuran kerajaan bernegara dan korban rakyat yang banyak. Diberikannya kekuasan kepada saudaranya Ida I dewa Dimade. Beliau lalu meningalkan istana menuju desa "Purasi" Karangasem. Beliau dikawal orang orang setia, kryan Kubon Tubuh,Kryan Tangkas,Kryan Brangsinga.Kejadian ini terjadi tahun caka 1587 atau tahun 1665 masehi. Beliau juga membawa pengiring yang lebih kurang 300 orang yang setia.Beliau juga membawa simbul simbul raja . Lambang kerajaan itu juga di bawanya, keris ``Ki Sudhamala atau Ki Bengawan Canggu``, yang juga di iringi keris keris shakti,Ki Kidang Menolih,Ki Raksasa Tua, Ki Mumbul. Juga beliau membawa alat alat pemujaan "Suamba,sangku Sudhamala,Lelancang Emas sebanyak dua buah dan alat alat lainya pemberian raja Sri Aji Segening. Di Purasi beliau memugar sebuah pura yang di dirikan oleh "Dalem Bekung" pada tahun 1590 caka.Pura itu didirikan oleh Dalem Bekung tahun 1555 caka yang di beri nama pura "Ukir Anyar". Kemudian Dalem Anom Pemahyun pindah kedesa Ababi di dusun Temega (tumbega). Pura Ukir Anyar diserahkan kepada kiyayi Karangasem, dan oleh beliau diserahkan kepada kiyayi Maharep Kangin untuk mengurus sampai sekarang. Dalam perjalanan menuju Tumbega,di desa Bale dana disubagan karangasem sebuah lelancang dipecah dan dihadiahkan kepada pengiring sebagai pengingat. Di desa Tumbega (temega), beliau mendirikan istana yang disebut "PemahyunRajya" pada tahun caka 1593 dan kemudian pada tahun 1598 caka beliau mendirikan Penataran Pamerajan yang disungsung oleh keturunannya dan pengiringnya sampai sekarang. Dalam perjalanan dari Klungkung, Perasi, Temega, beliau (Dalem Anom Pemahyun) di ikutin oleh satu putra yang bernama "Ida Dimade Anom Pemahyun Di Made". sedangkan kakak dari Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade yang bernama " Ida Idewa Anom Pemahyun" pergi dan menetap di mengwi, atas permintaan dan permohonana Kryan Nginte. Ida Idewa Anom Pemahyun Dimade di minta dan dimohon tinngal oleh "Kiyai Lurah Sidemen"untuk berkuasa didesa Singarsapura (Sidemen). Dan dikawinkan dengan anak Kiyai Lurah Sidemen yang bernama "I gusti ayu Sapu Jagat". Keris Ki Sudhamala dan peralatan lain yang dibawa oleh Dalem Anom Pemahyun ke Temega dihadiahkan kepada putra beliau Ida I Dewa Anom Pemahyunyang berkuasa di Sidemen. Sejak itulah keris Ki sudhamala, kidang Menolih,Raksasa tua,ki mumbul,suamba, Sangku Sudhamala,lelancang berada di Jro Gde Sidemen, sebagai bukti keturunan raja. Setiap Saniscara kliwon wara landep diadakan upacara ke pada Ki Sudhamala. Sudhamala membersihkan atau pengeleburan kotoran hidup atau penyucian. Sesekali tiyang berkeliling desa untuk menikmati ke indahanya dan komentar masyarakatnya.Tapi tiyang tetap membenci kolonial Belanda,karena memberi nama atau gelar "cokorda" tidak lagi "ida I Dewa". Suatu perendahan sebutan bagi saya. Dan orang lain pun tidak akan pernah mengerti. Sedangkan si kolonial Belanda menikmati kemenangan. Bunyi suling itu telah hilang ketika malam begitugelap. Telah tiyang ceritakan Keris Sudhamala adalah pemberian bukti dari Dalem Hayam Wuruk kepada Dalem Ketut Ngulesir yang kemudian oleh Dalem Segening menghadiahkan kepada Dalem Anom Pemahyun, yang dibawa dari istana Klungkung ke purasi kemudian temega dan akhirnya dihadiahkan pada putranya Ida Idewa Anom Pemahyun Dimade di sidemen. Sebagai bukti.
 Wenn die Sonne in Westen Untergeht, ist das ein gutes zeichen, alle Freunde zutreffen. Ich gehe eilig zum Tuakverkäufer,auch alle freunde kommen nach getaue arbeit oder wenn sich der Markplatz leert. ,, Metuakan" bedeutet zusammen Palmwein zu trinken. Witze, Geplauder oder auch kleine Gesellschaftsproteste hören wir dort immer. Mit kleine Snacks zum Tuak unterhalten wir uns spat am Abend. Manchmal singen und tanzen wir dabei,das nennt man ,,Mecekepung". Mecekepung ist ein Branch aus Lombok,der im jahr 1930 nach Karangasem Bali kam. Das Singen mit Tanzen umitiert ein Krigsschanspiel,zb.Fallende Bombe,Gewersalven,Schreie der verletzten,Gamelan-Musik (Froher brachten die Krieger auch Gamelan zum kampf) und die Siegestanzen. Das Tanzen geschieht um Sitzen,sieht wie bei Break-dance etwas abgehack aus und stellt kämpfer in verteidigung position, das wobei sich jede seine Position selbst aussucht. In Singaraja und Karangasem wurde diese kunst abgeaullrt und nennt sich;;Genjek oder Toreng". In der Ecke lent ein Freund and protestiert gegen tuakverkäufer,weil der Tuak ,,sumedah" schmeckt (sumedah bedeutet zwischhen süß und saur). Wir trinken liebe den,,Tuak wayah" (stärker Alkohogehalt). Der Verkäufer antwortet geduldig:,Wenn der Herr heute morgen gekommen wäre,,hätte der herr einen süßen Tuak bekommen, wenn der Herr späte gekommen wäre, hätte der Herr eine sauren Tuak bekommen,wenn der Herr Morgen gekommen wäre, hätte er ,,essigsauerntuak,, bekommen. Verstehen Sie,Tuak halt nur einen Tag,,. Etwas vorgebeugt,fange ich eine Biene, die aus eine leern kokosnußschale vorecht,ich esse sie und spüle sie zusammen mit den Tuak Tuak trinken. Das Glas wandert immer von eine Hand zu nachsten. In der Mitte unseres voeiser sitz ein sogenannten,,Dag`` (dieser schenkt das glas immer voll und reichtes weiter), daneben liegt die Kokosnußschale,mit der wir unsuren,,sambal Gerayang``abdecken. Dieser Sambal heißt so, weil es aus lebenden jungen Bienen gemischt mit Sambel pemelecingan (chilii,salz,limonen,kokosnußol,kardelenpaste) hergestellt wird. Die Bienen kriechen unter der kokosnußschole,mit der des Sambal abgedeckt ist,hevor. Wenn eine Biene herauskriecht,hat dageutge, der gerade trink, sie auch essen. Wenn keine Biene herauskriecht, hat dergensge, der gerade trinkt Pech, weil es denn auch keinen sambal gerayang bekommt. Ein Lied nach anderen bringt die Sonne langsam zum untergehen,ohne daß wir es melken. Der Dag recht das Glas immer noch von einen zum anderen. Tuak Jaka (palmwein aus feuchten Anbangebiet) mag ich am liebsten verglichen mit Tuak kelapa (aus kokosnußpalm) oder Tuak ental ( Palmwein aus trockene Aubergebiet). Ein Lied mit Rhythems ,, galak manis`` ( bedeutet der text ist aggressiv,wird aber melodisch-romantisch vorgetragen) in lombok-dialekt begleitet den Protest des ``Dags``gegen die Trinken, die ihm viel zu langsam srd. 25 liter Tuak für 7 leute, die allmahlich zu schwanken beginen,weswegen ein alter Mann, der etwas abseit sein Tampung tuak halt,zu schinfen begint. Ein Tampung mißt einshalf trinkgales. der alte Mann nahert sich schnell unseren Kreis. Ein freund schaut ihn ganz welksam an. Ich biete der Alten eine Zigarette ans eine sambalschmutzten Packung an. Der alte Mann singt das unterbrochene Lied weiter, wahrend mein freund immer noch schwankt. Vielleicht fuhlt sich der alte Mann von unserer Gruppe nicht respecktiert, deshalb beginnt er über das Tuaktrinken zu philosophiren. ,, Habe die ehren junge Herren, die Herren kommen zum Tuaktrinken, die Herren müssen wissen wieviel sie trinken können, die Herren müssen das wissen, Wenn Sie ein Tampung trinken,sind die herren eka matra padmasari,das heißt Sie trinken einfach. Wenn Sie Zwei Tampung trinken,sind die Herren dwi amertani,das sie bekommen an Getrank. Wenn Sie drei Tampung trinken,sind die Herren tri raja busana,das Sie wird allmahlich warm wie einen gutgekleideten König. Wenn Sie vier Tampung trinken, sind herren catur kakilabasa,das Sie sprecher sehr viel. Wenn Sie fünf Tampung trinken,sind herren panca wenara konyer, das Sie sprecher noch mehr und beharren auf ihre Meinung. Wenn sie sechs tampung trinken, Sind Herren sad wenara ruken,das Sie wie vom Affen gebissen. Wenn Sie sieben Tampung trinken, sind Herren sapta mahabaya,das Sie bringen sich gefarlich situationen. Wenn Sie acht Tampung trinken, sind Herren asta kebo dangkal, das Sie wie die dumme Ochsen. Wenn Sie neun Tampung trinken, sind Herren sanga kesenga sengo,das Sie schwanken gehorig. Wenn Sie zehn Tampung trinken, sind Herren dasa kedesa desu,das sie sind wirklich betrunken. Der alter Mann trinkt den Tuak aus, und ich bin jetzt wirklich dasa kedesa desu. Der Tuakverkaufer brinkt mir kleine Kelorblätter (gemüse)und steckt sie mir als medizin gegen dan Rausch hinten in den Hosenbund. Ein Freund verabschiedet sich und verspricht wieder zu kommen an einen anderen Ort oder anderen stimmung treffen. Er verspricht noch einen bekannten Tuak zu suchen und ihm mit zu bringen, einen speziellen Tuak fur Konige in Bali,wie z.B. Den Tuak nenens ``Batu lamak`` westhlicht von Dorf ``Tenganan``,oder ´´Nasi dingin`` nordlicht von Tenganan,oder``Biing kawat``,``Kubu langlang``,``Tegal gimbal``,``Naga sulung`` ostlicht von Tenganan. Ich gehe mit den Gedanken an ein anderes treffen nach Hause. Ich weiß nicht mehr. Dasa kedesa desu.
Tiyang senang makan, Tapi dengan gaya diet bali. Dengan takaran limapuluh persen nasi, tigapuluh persen sayur sayuran, duapuluh persen daging atau ikan dalam satu piring.Dengan demikian lakon keseimbangan alam tetap teratasi. Lembaran ini tiyang buat, untuk mengingat makanan makanan kegemaran tiyange. Pada prinsipnya membuat makanan bali mempunyai bumbu yang sangat sederhana; garam, terasi,cabai,minyak kelapa. Bahan ini merupakan dasar makanan makanan bali, yang dikenall dengan nama "sere tabie limo". Pelalah....... Kadang kadang tiyang makan hanya nasi dengan pelalah. Satu pilihan yang sangat sederhana,namun sangat enak. Kalau di dapur sudah kelihatan paceklik. Pelalah adalah satu bumbu penyedap dengan rasa pedas. Bumbu ini terbuat dari lombok kecil,lombok besar,bawang putih,sedikit cekuh,terasi,garam,tingkih,kulit limo,dan daun salam. Bahan ini semua dijadikan satu dan ditumbuk halus. Goreng dengan minyak,sesudah itu isi lagi minyak lagi sedikit sampai matang.Bumbu itupun siap dicampur dengan bahan makanan lain. Rajang....... Suatu tradisi, kalau bumbu ini sedang digoreng, para tetannga akan bertanya tanya. Ada pesta apa dirumah itu??.Base gede, baunya yang sangat khas dan akan menyusup sampai kerumah rumah tetannga. Rajang atau base gede merupakan bagian bumbu penyeimbangan dari pelalah.Maksudnya, kalau pelalah sangat keras pengaruhnya pada perut dan rajanglah yang akan melemahkanya. Base gede ini terdiri dari; Isen,jahe,cekuh,kunyit (bebungkilan),cabai besar dan kecil,bawang merah dan putih,daunsalam,terasi,garam,gula merah,tengkuh dan minyak goreng. Semuanya dicampur dijadikan satu dan di ulet atau ditumbuk. Kemudian digoreng dengan air, sesudah air agak habis,diisi minyak kelapa.. Bumbu ini juga untuk bebek tutu. Sambel bawang..... Kalau hujan turun,dan itu pada sore hari. Makan sambel bawang dengan nasi panas, rasanya seperti kejatuhan bulan,saking enaknya. Yang lebih special, makan sambel bawang ini setelah odalan. Karena sambel ini dicampur dengan ayam panggang atau ditambahkan dengan tuwung kecil. Sambel ini terbuat dari bawang yang diiris tipis tipis. Kemudian bawang,lombok,garam,jangan lupa terasi harus dipanggang, lalu ulet dengan minyak dan air limo. Jukut olah...... Air liur tiyange meleleh, kalau tiyang ingat terakhir kali makan sayur ini dengan belayag (nasi yang dibuat dengan cara dibungkus dengan daun kelapa muda dengan bentuk memanjang).Dicampur dengan saur dan kacang bali,makan dengan duduk mesila dan ditunngui oleh anjing tetangga. Yang siap menunngu bagian. Sayur olah biasanya dibuat dari kacang panjang yang direbus,dengan bumbu yang sangat sederhana. Kacang panjang diulet halus dengan santan yang direbus dengan pelalah. Dan penyedapnya disini bawang goreng. Makanan ini tolong jangan disimpan lebih dari lima jam. Jukut urab..... Kelapa dan sayur bahan utama dari sayur urab. Pelalah dan bawang goreng dasar membuat sayuran ini. Yang lebih mudahnya lagi ,bahan cukup dengan terasi,cabai,garam. Setelah kelapa dipanggang,lalu diparut. Kemudian bahan sayuran dipotong kecil kecil. Setelah semua siap,bumbu dan kelapa dan sayur diaduk rata. Disana kita akan dipertanyakan tentang selera. Jukut nangka atau timbul... "...........jukut timbul base pelalah,......ketut ngambul basangne layah..." Satu bait lagu yang tiyang lupa lanjutanya, hampir selalu tiyang nyanyikan, kalau ibuk tiyange membuat sayur nangka atau timbul. Sayur ini akan akan selalu terdepan, kalau dicampur dengan tualang muda memasaknya. Nangka atau timbul dipotong kecil. Bawang merah dan putih lebih dahulu lebih dahulu dimatangkan,dicampur sekalaian dengan nangka atau timbul bersama pelalah.Pelan pelan tuankan santan air secukupnya dan kecilkan perapian.Bawang goreng senjata penyedap dari sayur ini. Plecing......... Masihkah berlaku dibali,kencan dengan gadis gadis manis dengan makan plecing??.Tertawa sambil berseloroh tentang siapa dagang plecing yang paling enak. Plecing kangkung atau paku membuat tiyang selalu dalam keadaan pancaroba. Kenapa demikian. Karena saking jaenya.Plecing kangkung atau paku membuatnya tidak merepotkan.Pertama,kangkung atau paku direbus sampai lembek. Ulet cabai bersama garam,terasi,limo,setelah halus campurkan telengis(endapan minyak kelapa).Masukkan kangkung dan kemudian campur dengan kecai (kecambah),sambel kelapa.kacang bali.dan diaduk dengan tanngan. pecel.... Mengundang gadis gadis idaman dengan menyuguhkan pecel atau plecing dan rujak. Adalah suatu cara klasik untuk dapat berbincang bincang dengan layonsari layonsari bali.Pecel dibuat dengan bumbu kacang,diaduk bersama bahan sayur sayuran,umumnya pecel dibuat dengan bahan kecambah atau bubusan dan dicampur dengan kacang panjang.Cara membuatnya juga tidak begitu merepotkan.Kacang yang sudah matang digoreng lalu ditumbuk halus bersama terasi,garam,cabai,bawang putih secukupnya.Ketika sudah halus diaduk dengan bahan sayur yang sudah direbus dan ditamburi air limo.Boleh ditambahkan tahu dan jangan lupa bawang goreng. Rujak...... NGerujak istilah cara membuat danmakan makanan ini. Segala buah yang dapat dimakan oleh manusia dapat dibuat rujak. Para gadis gadis biasanya membuat rujak sangat pedas dan lebih masam.Tiyang tidak tahu kenapa.. Tiyang senang sekali kalau membuat rujak dengan pepaya setengah matang atau ubi. Sisir pepaya atau ubi tipis tipis.Terasi,garam,cabai,diulig sampai halus dan dicampur dengan cuka.Bersama pepaya atau ubi daduk. Makan bersama layonsari pun siap. Sate pusut...... Hari hari besar agama atau pesta selalu diawali atau diakhiri makan bersama, sajian para belawe selalu sate pusut disamping sayur sayuran kelapa lain. Sate Pusut diolah dengan cara daging dicingcang atau ditumbuk sampai halus.Lalu daging diaduk dan diisi santan yang digoreng sedikit demi sedikit ditambahkan dengan pelalah dan bawang goreng,perasan air limo secukupnya akan menambahkan aroma khass. Setelah itu dililit pada katik yang tidak tajam,ukuranya kira kira satu jengkal jari,dan dipanngang diatas bara. Di buat selalu tidak besar,agar kelihatan cantik dan matangnya sangat bagus. Sate asem......... Sudah menjadi sebuah legenda,sate pusut selalu berdampingan dengan sate asem.Setelah daging dipotong potong berbentuk dadu yang lebih besar.Daging diaduk dengan sedikitpelalah,sedikit rajang,pelan pelan dituruhi santan dan limo. Kemudian ditusuk pada katik tajam seukuran satu jengkal tanngan.dipanggang. Tum.......... Galungan adalah hariraya yang betul betul menyenangkan, Perasaan menang selalu tertanam pada diri tiyange.Perasaan ini sangat terasa,kalau tiyang makan tum dengan ketupat,ditambah dengan saur dan kacang bali.Tum dibuat dengan bahan daging yang baik serta kulit daging dan darah. Setelah bahan itu dicingcang dengan halus,ditambahkan bumbu pelalah dan bawang goreng diaduk dengan darah. Setelah siap,lalu di bungkus dengan daun pisang sebesar kepalan tangan anak kecil. Dimatangkan dengan cara di kuskus. Tim (pindangan).... Daging dan tulang muda dipotong kecil kecil adalah bahan dari pindangan. Dicampur dengan rajang dan minyak sedikit,ditambahkan air sampai asat. sesudah meluab,kecilkan api sampai matang. Jukut liklik kelor.... Sayur ini punya kelas tersendiri.Tempramen bali.Kelor biasanya tumbuh dipekarangan pekarangan rumah. Oleh karena itu membuat dan mencari bahan ini tidak terlalu sulit. Sayur kelor dibuat dengan bumbu bawang,terasi,,garam,cabai. Kacang merah direbus lembek,lalu dimasukan bumbu tersebut.Setelah larut masukan kelor dan kelapa pengliklik (kelapa yang tidak terlalu tua dan tidak muda) yang sudah diparut. Sayur ini lebih meyakinkan, kalau dimakan bareng dengan ikan pinang yang ditaburi sambel tomat. Nasinya jangan terlalu hangat,karena sayur ini sudah harus tetap hangat. Kelak moto..... Sehari setelah metuakan,kepala terasa berat dan malas. Sayur ini akan membuat terasa hidup kembali,karena sayur ini dibuat dengan lumayan pedas.Kelak moto diracik dengan air yang direbus,kemudian ditambahkan dengan base pemelecingan,setelah itu baru bayam ditambahkan.Bumbu dan bayam hanya satu menit direbus .kelak moto pun siap membuat sadar kembali. Jukut undis...... Tiyang pernah sangat marah,ketika panci didapur sudah kembali bersih. Tiyang tahu ibuk tadi pagi memasak sayur undis,namun adik adik tiyange telah menghabiskan semua. Buat tiyang sayur undis adalah legenda. Undis direbus sampai lembek dengan jahe,kemudian dicampur dengan bawang,garam terasi minyak kelapa yang diulet Gerang dengan sambel sidemen..... Pulang kampung sangatlah menyenangkan. Makanan selalu ersedia.Pokoknya semua mudah.Ikan sungai dan sayur selalu menjadi hidangan. Tapi tiyang selalu minta dibuatkan sambel gerang .Ikan kecil kecil dari laut. Tante tante selalu menertawakan tiyang dan berseloroh,....gunung agung sudah lama meletus tapi ragane masih senang makan gerang.......,maksudnya musim paceklik telah lama lewat. Gerang digoreng sampai renyah lebih dahulu.Kemudian goreng npula sambal.sambal ini dibuat dari cabai ,tomat dikit, daun bawang,terasi,jahe,gula merah,kunyit.Semua itu ditumbuk halus.Setelah bumbu matang masukan kembali gerang bersama sambal.Setelah rata. angkat. Geragasan...... Geragasan namanya,terbuat dari tulang tulang ayam yang direnbus dengan santan berisi pelalah.Bawang goreng dan daun salam menjadi penyedapnya.Ide ini tidak karena pelit memasak daging.Tapi seni makan (ngulum) tulang, sangat enak sekali. Betul betul enak. Sambell kecicang..... badahhh lupa tiyang.......gimana ya???
" Tiyang pingin sekali melihat bhatara" Adik Misan tiyange,tiba tiba menatap tajam dua keponakanya yang duduk di samping tiyange. Meja bundar tempat main kartu ceki dipenuhi dengan makanan untuk sarapan pagi. Dilahapnya dengan pelan sekali jajan laklak yang ditaburi gula kelapa ,dia sekali kali melihat tiyang dan mencoba memulai cerita.Bagaikan seorang penutur ulung dan berkali kali menekan kan kalimat yang dianngap penting. Tiyang yakin sekali ,adik misan tiyangi ini banyak baca buku. Gaya penuturanya yang menguasai latar belakang cerita, membuat cerita itu sangat monoton tapi sarat informasi. ciri khass orang Sidemen Karangasem yang meledak ledak dan sedikitsedikit mematah kan jalan cerita, mencoba men cari kebenaran.Kelebat dan mimik wajahnya yang sympatis membuat dua anak kecil disamping tiyang begitu tenang mendengar cerita. Di tengah tengah ceritanya dia selalu berusaha makan jajan laklak yang juga dikeroyok ratusan semutkecil Tiyang memperhatikannya ,bagaimana dia berjibaku dengan semut merebut makanan, yang semuanya tidak mau kalah. Mulutnya tetap bertutur, tiyang mencoba menghabiskan air sembung namun tetap menyimak cerita itu. Tersebutlah suatu cerita pada waktu lampau, ketika dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Pada waktu itu belum ada sebangsa reptil yang hidup diatas dunia ini. Hanya ada tanah,air,udara,matahari,bulan dan bintang selengkapnya. Nampaknya dunia ini sangat kosong. Pada waktu itu Tuhan menyuruh Bhatara Sanghyang Catur Lokapala, agar menciptakan isi dunia ini, berupa segala yang hidup yang akan menjadi isi dunia ini. bhatara Brahma bertugas menciptakan benih benih, Bhatara wisnu bertugas memelihara benih benih itu agar hidup, Bhatra Indra memberi makan segala yang hidup, memberi hidup, terutama mengadakan air, membuat hujan, Bhatra Iswara, menyempurnakan segala yang ada di dunia ini. Itulah sebabnya segala yang ada didunia ini selalu berubah, tidak ada yang kekal. Segalanya yang hidup akan mati. Itulah makanya dunia ini bernama Marcapada, segala yang hidup menunngu dan menerimakematianya. Oleh karena dunia dan isinya tidak ada yang kekal, selalu berubah. Itulah sebabnya terjadi siang dan malam,panas dingin, hujan terang, sakit sembuh, besar kecil, tua muda dan hidupakhirnya mati. Jadilah dunia ini juga berselubung baik dan buruk, suka dan duka. Dari itu pula dunia ini juga bernama Mayapada, yaitu tempat merasakan suka duka, bertemu dan berpisah. Selesai menciptakan segala peraturan di dunia ini oleh Sanghyang Catur Lokapala, kemudia diciptakanlah segala yang hidup. Mula mula yang diciptakan di dunia ini segala lumut lumutan, persenyawaan adanya air,tanah serta udara, kemudian rumput, segala tumbuhan yang membelit danakhirnya segala tumbuh tumbuhan. Sesudah dunia ini berisi tumbuh tumbuhan serta pohon pohon yang lebat dan menghijau, maka sejuklah dunia ini. Munculah mata air yang mengalir menjadi sungai, membasahi tanah serta menyirami semua tumbu htumbuhan. Disanalah kemudia ada umbi umbian yang disebut pala bungkah. Pala gantung yaitu buah buah yang bergantungan. ada juga biji bijian yang disebut biji ratus, daundaunan dan bunga bunga. Penuhlah dunia ini dengan segala umbi umbian,buah buahan,bungabungaan tanpa ada yang memanfaatkannya. disanalah Sanghyang Catur Lokapala menciptakan segala yang hidup yang lebih sempurna dari tumbuh tumbuhan, yang akan memanfaatkan hasil dunia ini. Segala kehidupan itu terdiri dari sebangsa kremi; ulat,lalat,nyamuk dan sebangsanya. Kremi itu berjenis jenis, yang memakan hasil dunia ini agar jangan sampai penuh. Ada lagi binatang yang lebih sempurna yaitu bangsa ikan dan burung. Nah tersebulah.....,sesudah bangsa ular, bangsa burung dan ikan, ada yang lebih sempurna yaitu binatang sato yaitu sejenis binatang yang keluar dari kandungan dan berkaki empat. tersebutlah sekarang ada tiga macam kelahiran didunia ini : satu... Sweda lahir dari getah,darah. dua...Antigaya lahir dari telur. Tiga...Garbaya lahir dari kandungan. Kalau hanya itu keadaan isi dunia ini. tidak ada Kriya di dunia ini. Kriya sama dengan kerja dan kegiatan. Kalau tidak ada kerja dan laksana di dunia ini maka tidak ada yang mengatur dan mengolah isi dunia. Dan titak ada yang baik dan buruk. Jadi masih kurang sempurnalah dunia diciptakan olehnya. .....Ida Sanghyang Catur Lokapala mengadakan pertemuan ingin mengadakan ciptaan lagi yang paling baik dan lebih sempurna yang mempunyai kepinteran dan tata susila meniru alam Dewata, yang nanti dapat mengurus dunia serta menguasai dunia ini. itulah yang dinamakan manusia. Anu, artinya utama, jadi manusia itulah yang utama diantara yang berjiwa di dunia ini.Sesudah bertekad, Sanghyang Catur Lokapala menciptakan manusia, tapi beliau masih susah membentuk rupa manusia itu. Pada waktu itulah beliau memangil seorang ahli yang bernama Sang Citra Gopta. Maka Sang Citra Gopta pun membentuk dan menciptakan manusia sebanyak tiga macam : ..Manusia laki yang bagus, ...manusia perempuan yang cantik,..manusia banci,tidak laki dan tidak perempuan. Sang Citra Gopta membuat manusia dengan bahan dari tanah liat yang dikepal kepalnya. Oleh karena manusia dibuat dari tanah liat, maka setelah meninngal adalah kotor. Setelah selesai patung tanah liat itu lalu diserahkan pada Sanghyang Catur Lokapalaaga r patung itu bisa hidup, memberikan pemikiran tenaga dan suara. Dimasukan pula kelima maha buta keseluruh tubuhpatung tanah itu. Itulah makanya manusia hidup bertenaga dan bersuara. Diberi pula jiwa maka dari itulah itu bisa berpikir,berkata dan mempunyai ingatan. Karena itu badan manusia disebut buana alit ( mikrokosmos ) dan dunia ini disebut buana agung ( makrokosmos ) sebab bahannya sama, keduanya dari panca maha buta. Oleh karena bahanya sama maka dari itu pula memanfaatkan seisi dunia ini untuk memenuhi keperluan hidup sehari hari. Sesudah manusia diberi kekuatan, diberi suara ,diberi pemikiran, kata kata, ingatan,tapi pada waktu itu manusia belum bisa bisa bicara seperti biasa,belum mengenal tulisan, bicaranya ngawur tidak jelas. Dipangillah Dewi Sanghyang saraswati untuk memberi kekuatan manusia agar bisa bersuara dan bersastra. Setibanya Dewi Saraswati, lalu beliau mengijak pangkal lidah manusia sehinnga lemas berbicara dan bisa mengemukakan isi hatinya. Setelah manusia itu sempurna, yang semuala bahanya dari patung tanah liat, disanalah Sanghyang Indra memberikan petunjuk pada manusia tentang mengendalikan isi dunia ini dengan Manik Asta Gina. Manik artinya pikiran...,asta artinya..lima,...gina artinya kepintaran. Itulah yanyg dipakai manusia untuk mencari penghidupan di dunia ini. Dengan kepintaran, dengan kerajinan,dengan memilih pekerjaaan yang dikuasai dan disenanginya. Manusia yang pertama masih dekat (bertetannga) dengan batara, dewa dewi.Pikiran manusia pada waktu itu masih bersih sekali,putih seperti manik. Diceritakan, waktu manusia itu sakit perut, beraklah dia di pinngir jalan. Tepat pada waktu itu, Bhatara lewat melintasi jalan itu. Sambil berak dia menyapa kepada bhatara. Bhatara yang lewat didepanya, diam tidak menyahut. Setelah Bhatara lewat dari tempat manusia yang sedang berak itu, lalubeliau berhenti. Setelah selesai berak lalu dipangillah manusia itu. Ia segera mendekat. Setibanya di hadapan bhatara, bhatara bersabda," hai manusia, karena telah lama kamu dekat dengan kami,kamu seharusnya tahu sopan santun tata susila manusia dengan bhataraberlainan sekali. Tadi waktu kamu berak bertanya dengan bhatara,itu tidak boleh, karena orang berak itu sedang dalam keadaan kotor.Nah mulai sekarang kamu tidak akan melihat bhatara lagi. Kemaribawa matamu". Disanalah Bhatara mengambil kapur dan memoleskannya pada mata manusia itu. Sejak itu manusia tidak melihat dan tidak bisa berbicara dengan bhatara, lantaran matanya dipoleskan kapur. Karena itulah sampai sekarang mata manusia ada warna hitam dan putihnya. ......Demikianlah ceritanya.....
Ada sepasang boneka laki dan Perempuan. Ditempatkan di depan pintu Piadnyan. Didandani dengan kain kain mahal,seperti Pitola,songket maupun Bangsing,dihargai dan diperlakukan dengan sangat hormat serta selalu dimuliakan. Siapa saja yang hendakmemasuki Piadnyan mau tak mau harus menoleh kepada sepasang boneka itu. Sepasang boneka itu lazim disebut Pering. Sepasang Pering tersebut dibuat dari daun enau, yang dipetik dengan upacara dan puja-restu pendeta. Lalu daun daun itu diarak dengan penuh kehormatan diiringi beleganjur beleganjur dan tambur,setelah itu dijalin dan ditata menjadi panca indera,menjadi isi badan,seperti usus,jantung,paru melambangkan berbagai isi tubuh yang dimiliki manusia. Namun, walaupun dia itu sebetulnya ``manusia`` dilihat dari perlakuanya maupun makna kehadirannya akan tetapi dia itu ``bodoh``! karena dia tidak bisa berbuat apa apa,tidak bisa mengerjakan apa apa. Karena itu , di setiap upacara besar memerlukan dua pasang boneka-- laki dan perempuan,bertujuan mengingatkan,"manusia walaupun sehebat apapun dapat melaksanakan upacara yadnya, tetapi hendaknya setelah itu tetap rajin bekerja,rajin belajar, hormat kepada guru, orang tua dan iklas menerima maupun dikala memberi agar jangan hidupmu tak beda dengan sepasang boneka". Di Bali,orang tua yang bijak akan mengingatkan anak anaknya, janganlah engkau berlaku seperti sepasang pering ( Aengan tekenang pering, tusing bise ngujang ngujang!), biarpun tampan cantik dan selalu ditempat di depan tetapi bodoh dan tidak bisa mengerjakan apapun. Itu tak ada gunannya bagi hidup. Belajar dari kebijakan sepasang boneka, sepasang pering adalah sangat penting. Di ingatkan bagi siapa saja: Manusia tak boleh berhenti melakukan bakti dalam hidupnya sesuai swadarmanya, jika lalai dan angkuh hanya karena merasa diri kaya dan sangup melaksanakan upacara, maka dia tak ada bedanya dengan sepasang boneka, tan bine tekening pering.
 Mulut tiyange tidak bisa banyak komentar,ketika banyak orang berkata"lelaki Bali penindas kaum perempuanya".Seolah olah kurang mendapat penghargaan dan pengertian.Paling sibuk mengurus rumah tangga.Mengambil seluruh pekerjaan rumah,mengambil air,membersihkan rumah,memasak.Semuanya di kerjakan oleh wanita bali, semuanya merupakan tanngung jawabnya.Urusan perkawinan,hubungan kekerabatan adalah urusan lelaki.Perempuan tak boleh ikut bicara untuk menyelesaikan suatu perkara dirumah tannga atau masyarakat.Dan tiyangpun mengakuinya. ...badahhhh... Tiyang dilahirkan oleh seorang perempuan,sepanjang hidup tiyange selalu ber dampingan dengan adik adik perempuan.Mereka berusaha membuat tiyang seperti lelaki bali tanpa kemewahan,namun dengan moral dan mengerti dimana atas dan dimana bawah,artinya tiyang harus tahu adat budaya bali yang ada di bali.Bakti dan hormat tiyang pada ibu,adik,istri adalah salah satu simbul hormat tiyange, daripada lelaki yang hanya mendapat gelar seorang"belawe". Suatu pekerjaan merupakan tugas setiap orang yang harus dilakukannya.Pekerjaan pekerjaan yang dilakukan oleh ibu,adik dan istri tiyange seperti pekerjaan kasar.Sepertinya lelaki bali tidak tahu hormat pada perempuan. Namun lelaki bali tidak seperti itu,mereka menghormati perempuan melebihi lelaki lelaki yang ada didunia.Lelaki bali bekerja dan berusaha memberi hidup semua tanngung jawabnya dan perempuannya diberi pekerjaan yang sangat agung,melakukan dan mengatur upacara tiap hari. Pada upacara agama atau sebuah pesta,perempuan membuat jejaitan,bebanten dan mengatur semua kegiatan upacara.Sedangkan lelakinya hanya didapur membuat makanannya.Pada pesta pesta di bali, perempuan hanya membantu hal hal kecil,setelah itu duduk dan menunngu seperti seorang ratu besar, sampai lelkai menyuguhkan karangan makanan,mempersilakan makan dan sampai menuangkan minuman dalam gelas.Dan tiyang pun tahu ,setelah makan mereka hanya tersenyum tanpa komentar "enak atau jelek" makanan itu. Karena makanan itu dibuat oleh lelakinya. Mulut tiyange tetap akan terbuka tanpa komentar,karena lelaki itu seperti raja yang tak terkalahkan.meskipun para perempuan bali telah melakukan perlawanan hak asazi dari dulu.Mengalami puncak lebih kurang pada tahun 1922.Pada tahun itu perempuan bali membuktikan diri bahwa lelaki adalah kaum yang kalah dengan segudang ke egoiasan.Kenapa. Tahun tahun sebelum nya sampai tahun 1922,di bali, semua tarian dan hiburan di lakukan oleh kaum lelaki.Tari apapun semua lelaki atau hiburan apapun semua dilakoni oleh kaum lelaki. Pada tahun itulah kesabaran dan kegelisahan perempuan bali meledak.Mereka kaum perempuan mendobrak dan memunculkan tarian yang lebih bagus dan dinamis dari pada tarian kaum lelaki.Dari sanalah emansipasi berjalan secara alami.Hal ini sangat dihormati oleh kaum lelaki bali. Guru,polisi,politiker,dan sebagainya tidak asing bagi perempuan bali.Perempuan di sekeliling tiyangpun ikut dan menentukan dalam mengambil keputusan. mulut tiyange tetap terbuka tanpa komentar,ketika seorang perempuan yang tiyang kenal meminta tiyang untuk mendampingi dia keluar malam.Karena dia berangapan,kalau perempuan berani keluar malam sendirian itu akan kelihatan tidak baik.Jika itu dilakukan,maka perempuan tersebut dianngap tidak baik tingkah lakunya. ......ach emanspasi.
 | Mebat | Oct 4, '07 3:14 AM for everyone |
Orang akan mengejek,kalau seseorang lelaki Bali (karangasem,tempat dan lingkungan tiyang dibesarkan) tidak bisa memasak atau tidak bisa mempergunakan pisau untuk memotong bahan makanan dalam sebuah pesta, baik dalam upacara atau pesta biasa.Lelaki Bali akan mendapatkan kehormatan, kalau bisa atau membantu dalam pekerjaan membuat dan menghidangkan makankan.Suatu tanda lebih, dari seorang lelaki Bali,kalau bisa memasak,meskipun dia hanya bisa hanya membuat makanan yang paling sederhana.Lelaki itu akan di cemooh atau menjadi gunjingan teman,biarpun dia seorang pintar dalam politik,pintar dalam ilmu pengetahuan atau seoarng preman yang punya ratusan anak buah,kalau dia tidak bisa ,atau tidak pernah membuat bumbu yang paling sederhana.Akan sebaliknya, lelaki pintar memasak akan disanjung dan diberi gelar "belawe". Mebat adalah memasak lauk pauk khusus untuk pesta agama atau pesta biasa di Bali.Disanalah para lelaki akan berkumpul untuk belajar dan mengajar membuat makanan.Tiyangpun mengenal satu tata cara dan kesopanan memasak disana.Sebelum suatu pesta di selengarakan,seorang lelaki belawe telah memperhitungkan berapa penghabisan dalam mebat.Biasanya yang di "ebat" adalah babi,itik dan sebagainya.Pesta di siapkan dengan cara megibung (makan bersama,duduk mengelilingi satu karangan wadah makanan)."Karangan atau selaan"makan megibung ini terdiri dari masakan lawar,sayur blimbing, gegecok,ares dan juga sate.jenis sate yang dihidangkan;sate pusut,asem kablet,serapah, orob,dan lain lain.Mebat biasanya dikerjakan sehari sebelum pesta,karena mebat banyak memerlukan waktu dan tenaga.Untuk pesta limaratus orang,dengan hidangan megibung diperlukan lebih kurang seratus karangan makanan.Setiap karangan memerlukan daging lebih kurang satu setengah kg daging.Jadi untuk pesta limaratus orang diperlukan daging yang beratnya seratus limapuluh kg.Pesta dimulai dengan menyantap gibungan.Karangan gibungan dihadapi oleh lima,enam samapai delapan orang.Ngebat dilaksanakan oleh orang orang dilingkungan atau skeha banjar.Atau cukup keluarga dirumah,dan lelaki rumahlah yang akan menjadi belawe. Semua wajah itu berpaling dan seperti mengeroyok diri tiyange,ketika mulut dan hati tiyange berkata;bahwa suatu saat pesta ini tidak lagi ramai ramai dibuat dirumah atau di banjar tapi ditempat tempat penjualan makanan atu di restourant. Semua marah dan ngeremon.........."setiap anak kecil wajib mangang sate kalau ada orang ngebat"......untuk belajar penganti orang kesal.
| |